Sang Penyentil Pemangku Kebijakan


  KERING: Kherjuli turun ke salah satu waduk yang kering di Pulau Bintan. f-zulfikar/TANJUNGPINANG POS

Kherjuli Penggagas Kenduri Air 

Tiap tetesnya adalah nyawa dan hak setiap orang. Itulah kalimat sakti yang acap kali dilontarkan Kherjuli. Dia penggagas kenduri air sekaligus kreator bank air asal Ibu Kota Provinsi Kepri, Kota Tanjungpinang. Ia sering menyentil para pemangku kebijakan di Provinsi Kepri dalam mengelola air, agar dapat memenuhi hajat hidup orang banyak dengan layak. 

Tanjungpinang  – Tak ada asap bila tak ada api. Begitu juga dengan Kherjuli, yang dikenal paling vokal ketika menyuarakan soal air di Provinsi Kepri, khususnya di Kota Tanjungpinang yang merupakan tanah kelahirannya.

Bagi Kherjuli, air tidak hanya sebatas kebutuhan untuk hidup semata. Tapi, ia memiliki hubungan emosional dengan air. Kepada Tanjungpinang Pos, ayah tiga orang anak ini mengatakan, hubungan emosional antara ia dan air mulai terwujud sejak 25 tahun silam. Ketika ia masih tercatat sebagai pegawai di Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Pulai (sekarang Tirta Kepri, red).

Selama dua tahun bertugas di bagian produksi di salah satu Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Provinsi Kepri itu. Selama dua tahun berhubungan langsung dengan sumber air baku waduk Sei Pulai, yang pada waktu itu kata dia, bentuknya masih sangat alami. Karena hutan lindungn di sekitar waduk tertua di Pulau Bintan itu masih cukup perawan.

Alumni Stisipol Tanjungpinang ini mengaku mendapatkan berbagai macam pengalaman. Salah satu pengalaman yang menurutnya sulit diterima oleh nalar, ketika pada suatu malam usai menunaikan salat Tahajud, ia kembali melaksanakan kewajibannya yaitu menjaga mesin intake (mesin penyedot air, red) di Waduk Sei Pulai.

”Karena sendirian di ruangan yang sepi itu, saya berpikir mengagungkan Allah yang menciptakan air. Terus, saya melihat, permukaan air waduk Sei Pulai bergerak-gerak seakan ikut berzikir. Ya, mungkin itu cuma perasaan saya saja waktu itu,” sebutnya kepada koran ini.

Singkatnya, pada tahun 1997 ketika ia dimutasikan ke bagian hubungan langganan PDAM Tirta Janggi yang tugasnya melayani pengaduan pelanggan yang komplain dengan berbagai alasan. Salah satunya soal tagihan yang tinggi sementara airnya kecil dan bahkan menurut pelanggan tidak mengalir sama sekali.

Pada suatu hari, di saat itu tanpa ada sebab musabab yang jelas. Salah seorang pelanggan datang tanpa basa-basi langsung mengeluarkan celurit yang terselip dibalik celananya.

”Untungnya Allah masih melindungi saya, istri dan anak saya pada waktu itu. Celurit putih mengkilat tak sampai mengena leher saya. Sejak itulah, hubungan ikatan emosional saya dengan air kian kuat. Betapa, jika air tidak dikelola dengan baik, bisa menyebabkan petaka yang bisa jadi berakhir dengan kematian,” tuturnya.

Membentuk ALIM
Setelah melalui pengalaman yang tidak mengenakkan itu, dan pengalaman tidak mengenakkan lainnya, Kherjuli pun mulai berpikir untuk menyuarakan ihwal pengelolaan air.

Tujuannya bukan hanya sekedar untuk membisingkan soal pengelolaan air yang menurutnya masih jauh dari kata layak. Tapi juga untuk memberikan masukkan kepada pemangku kebijakan, bila sudah sepantas-nyalah memang bila air harus dikelola dengan bijak.

Sebab, kata dia sejak terbitnya Undang-Undang nomor 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air (SDA) telah diamatkan bila harus ada porsi yang seimbang antara pemerintah dan nonpemerintah dalam pengelolaan Sumber Daya Air (SDA).

”Kalau sebelumnya, UU no 11 tahun 1974 hanya berorientasi sosial saja. Tapi di UU nomor 7 ini tidak. Ada fungsi lingkungan dan ekonomi dalam pengelolaan SDA,” sebutnya.

Akhirnya, pada tahun 2005 dan setelah berpikir cukup panjang, ia pun memutuskan untuk sowan ke Raja Usman Draman salah seorang tokoh penting berdirinya PDAM di Provinsi Kepri, untuk membentuk organisasi penyeimbang tersebut.

”Karena beliau yang kami tuakan, seorang pakar dan ahli di bidang air minum, punya pengalaman yang segudang dan jasa-jasanya cukup besar,” sebutnya.

Setelah mendapatkan petuah dan masukkan, ia pun mengajak Alm Padang Rihim Siregar mantan dosen UMRAH serta adik-nya yang berprofesi sebagai konsultan serta beberapa Aparatur Sipil Negara (ASN) dan para pensiunan PDAM untuk mendirikan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang bergerak di bidang air dan lingkungan.

”Setelah mendapatkan dukungan moril akhirnya kamipun mendirikan LSM Alim,” kenangnya.

Nama Alim sendiri yang merupakan akronim dari Air, Lingkungan, dan Manusia itu. Terinspirasi dari Alif Lam Mim. Huruf Al Quran yang ada di dalam Surah Al Baqarah.

”Bukan bermaksud untuk memberi arti kalam Allah itu, tetapi saya terinspirasi saja,” tuturnya.

Dua tahun mejalankan LSM Alim. Tepatnya pada tahun 2007, ia pun diberhentikan oleh PDAM Tirta Kepri. Karena dianggap terlalu lantang dan terlalu berlebihan dalam mengkritik. ”Itu tidak ada masalah bagi saya. Memang sudah risiko perjuangan. Sudah saya pikirkan sebelumnya,” sebutnya.

Media Massa Jadi Senjata
Setelah bebas dari kungkungan manajemen PDAM Tirta Kepri, Kherjuli pun menjadi semakin lebih berani. Media massa, menjadi senjata ampuh baginya untuk menyuarakan karut marut dan tanggung jawab serta kepedulian kepala daerah dalam hal pengelolaan air di Ibu Kota Provinsi Kepri.

Bukan tanpa alasan kata dia bila pengelolaan air di Ibu Kota Provinsi Kepri dan di Provinsi Kepri pada umumnya masih terbilang amburadul.

Hal itu dapat dibuktikan bila sampai dengan hari ini, belum ada separuh penduduk di Pulau Bintan serta penduduk di kabupaten/kota lainnya di Kepri yang sudah menikmati air bersih.

”Memang harus diakui, peran pemerintah terkesan biasa-biasa saja. Belum optimal dan maksimal. Masih dihajar oleh waktu dan sumpah serapah dari rasa tidak puas masyarakat,” katanya.

Sejak berkawan dengan kuli tinta untuk menyuarakan pengeloaan air tersebut, Kherjuli sering mendapatkan sikap tidak senang dari pemerintah. Namun, untungnya ia dan teman-teman lainnya tidak pernah mendapatkan ancaman yang dapat membahayakan nyawanya. Seperti ketika ia masih menjadi pegawai PDAM dulu.

”Sampai saat ini kami belum pernah mendapatkan ancaman atau protes yang berarti. Karena, ujung-ujungnya apa yang kami suarakan di media massa didengar juga dan direalisasikan,” sebutnya sembari tersenyum.

Kenduri Air
Setahun, pascaberdirinya ALIM. Beranjak dari pengalamannya sewaktu masih bertugas menjaga pipa intake di Waduk Sei Pulai, suami Enok Hasanah ini pun termotivasi untuk menggelar kenduri air. Ditambah lagi ia pun teringat dengan tradisi Melayu yang biasa melakukan jampi-jampi (doa, red) di dalam air.

”Dari situlah tercetus ide untuk menggelar kenduri air. Untuk menyampaikan rasa syukur kehadirat Allah yang menciptakan air dan nikmat untuk kehidupan. Dengan bersyukur tentu Allah akan menambah nikmat itu,” sebutnya.

Namun, karena pada hakikatnya air tidak hanya untuk kepentingan satu agama saja. Maka, kenduri air yang digagasnya itu lebih kepada untuk mengajak kepada semua orang dan semua agama dari berbagai status sosial agar selalu bersyukur dan memperlakukan air dengan benar dan bijak.

”Alhamdulillah, kenduri air atau pray for water kini telah menjadi ikon kami di UN Water setiap tanggal 22 Maret yang bersempena dengan World Water Day,” ujar-nya.

Bahkan, sejak kenduri air itu dicetuskan. Kini, banyak organisasi yang berbasis lingkungan dan air mulai melirik Alim untuk melakukan kerja sama. Salah satunya dari LSM Pendidikan Lingkungan Hidup di Berlin, Jerman.

”Sampai sekarang LSM dari Berlin itu masih eksis menjalin kerja sama dengan kita,” tuturnya.

Pembentukkan DSDA
Bentuk perjuangan ketiganya untuk meluruskan karut marut pengelolaan air, yaitu melalui sebuah kelembagaan Dewan Sumber Daya Air (DSDA). Yaitu wadah untuk memperjuangkan hak-hak rakyat atas air di daerahnya.

DSDA yang berdiri pada tahun 2011 itu, sejatinya kata dia merupakan bentukkan dari Pemprov Kepri. Yang mana dalam struktur organiasi DSDA itu terdapat unsur pemerintah dan nonpemerintah.

Tujuannya dibentuknya DSDA itu kata dia untuk memberikan, masukkan kepada kepala daerah terkait konservasi pendayagunaan dan penanggulangan kerusakan sumber daya air di daerah.

”Tapi sejak wadah itu terbentuk sampai dengan sekarang baik gubernur maupun wakil gubernur tidak pernah memimpin rapat atau sidang pleno pengambilan keputusan terkait kebijakan pengelolaan sumber daya air di Kepri. Entahlah, kalau ditanya kenapa tak bisa nak cakap,” ucapnya.

Membentuk Bank Air
Karena DSDA dianggapnya tak berjalan. Di tahun 2015 lalu, Kherjuli mulai berencana untuk membentuk bank air di setiap sekolah. Yang mengilhaminya untuk membentuk bank air tersebut karena ia melihat saat ini masih banyak sekolah di Kota Tanjungpinang yang masih kesulitan untuk memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari.

Entah itu untuk keperluan MCK ataupun sekedar untuk menyiram tanaman. Selain itu, bank air tersebut juga akan dijadikannya sebagai salah satu media pembelajaran bagi generasi muda agar bisa lebih memahami lagi pentingnya air bagi kehidupan.

”Para siswa diarahkan untuk bisa mengukur PH air dan mencatat setiap satuan volume air dalam mata uang virtual. Dengan begitu para siswa akan menjadi semakin paham bila air selain memiliki fungsi sosial dan lingkungan hidup juga memiliki fungsi ekonomi,” tuturnya.

SMPN 4 dipilihnya untuk menjadi kelinci percobaan kerja hebatnya itu. Namun, pada tahun 2015 lalu, sekolah yang beralamat di Jalan Basuki Rahmat, Kota Tanjungpinang itu sedang fokus untuk meraih gelar Adiwiyata. Sehingga projek hebatnya itu sempat terhenti sementara. Ia pun, sudah berniat pada tahun ini bank air itu akan benar-benar dapat terwujud.

Sebab, dalam diam seluruh peralatan dan dukungan untuk mewujudkan kerja hebatnya itu sedikit demi sedikit mulai terpenuhi. Ditambah lagi, pada tahun ini SMPN 4 juga sudah berhasil meraih gelar Adiwiyata sehingga ia dan pihak sekolah bisa benar-benar fokus untuk mewujudkan bank air tersebut.

”Semoga bank air nantinya dapat dijadikan item untuk menuju predikat sekolah Adiwiyata Mandiri,” harapnya.

Keterlibatan generasi muda dalam setiap aksinya tidak hanya dilakukan ketika ia hendak mendirikan bank air saja. Jauh sebelum ide itu terbayang di otaknya, Kherjuli kerap mengajak para generasi muda khususnya pelajar dan mahasiswa untuk melakukan kampanye atau sosialisasi serta pemantauan kualitas air baku di Pulau Bintan.

Dan tidak ketinggalan Kherjuli juga selalu mengikutsertakan masyarakat dan generasi penerus bangsa itu untuk melakukan aksi penanaman pohon. Sebab, kata dia pohon itu diibaratkan seperti spon, yang berfungsi sebagai tempat untuk cadangan air.

”Kami sangat berharap banyak dan menaruh harapan besar pada remaja. Agar di tangan mereka nantinya nikmat Allah itu bisa dilakukan dengan bijak,” sebutnya.

Tanpa Pamrih
Selama berjuang untuk menyuarakan ihwal pengelolaan air. Kherjuli mengaku tidak pernah mengharapkan bantuan dari pihak manapun.

Segala pendanaan untuk operasional gerakannya di ALIM, diperolehnya dari hasil patungan para anggota ALIM yang berjumlah 30 orang. Serta ditambah lagi dengan dari kocek ia sendiri, yang berasal dari hasil penjualan bibit pohon gaharu dari usaha nursery miliknya.

”Ada juga dari hasil menyisihkan dana pribadi yang saya dapatkan dari honor menjadi juri dan lain sebagainya. Serta dari keuntungan usaha budidaya gaharu itulah yang saya sisihkan untuk menjalankan misi sosial dan lingkungan hidup,” tuturnya.

Ibarat kata pepatah, di mana ada kemauan pasti ada jalan. Semua pengorbanannya itu kini mulai berbuah manis. Kini satu per satu organisasi di Kota Tanjungpinang dan luar negeri mulai tertarik untuk menjalin kerja sama dengan ALIM. Dengan satu tujuan tentunya yaitu menjalankan misi untuk menyelamatkan lingkungan dan air.

Tercatat, beberapa organisasi lingkungan hidup tingkat nasional seperti Laskar Air, DSDA Nasional, Kemitraan Air Indonesia, Persatuan Perusahaan Air Minum Indonesia (Perpamsi), Air Minum dan Penyelamatan Lingkungan (AMPL), serta Wahana Lingkungan Hidup (Walhi). Kini sudah menjadi mitra kerja ALIM.

Tidak sampai di situ, di level Kementerian Pekerjaan Umu dan Pemukiman Rakyat (PU dan Pera) dan Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup ( Kemenhut LH) pun tertarik untuk menjalin kerja sama dengan ALIM. Di level internasional, ALIM juga kini sudah dipercaya oleh UN-Water. Yang merupakan entitas antarlembaga di PBB untuk meng-kampanyekan Hari Air Se-dunia.

”Insya Allah, tahun ini ada satu TK dan satu SD akan coba saya hubungkan dengan sekolah yang sama di Berlin untuk menjalin persahabatan global,” tuturnya.

Tak hanya sampai di situ, kini Kherjuli pun dipercaya untuk menduduki beberapa posisi dalam sebuah kelembagaan lainnya yang berhubungan dengan lingkungan.

Di antaranya seperti menjadi Ketua Forum Kota Sehat (FKS) Kota Tanjungpinang, Sekretaris Forum Daerah Aliran Sungai (FORDAS) Provinsi Kepri, Anggota Komisi AMDAL Provinsi Kepri, Anggota Tim Pemantau Adipura Provinsi Kepri dan Anggota Tim Penilai Sekolah Adiwiyata Kepri.(Zulfikar)

About kherjuli

PRESIDEN AIR

Posted on Maret 9, 2016, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: