Pulau Bintan Defisit Air Bersih


wws2 Sabtu, 5 Maret 2016 17:43 WIB

Tingginya tingkat pertumbuhan penduduk, membuat kebutuhan air tak mencukupi

Tanjungpinang (Antara Kepri) – Mengusung tema Water and Works dalam peringatan Hari Air Dunia yang diperingati pada 22 Maret 2016 nanti, LSM Air Lingkungan dan Makhluk Hidup (Alim) Kepulauan Riau menyatakan, Pulau Bintan masih mengalami defisit air baku sekitar 30-50persen dari kebutuhan.

“Sampai hari ini neraca air di Pulau Bintan masih defisit. Artinya, persedian air baku tak sebanding dengan jumlah penduduk,” kata Ketua LSM Alim Kepri, Kherjuli, Sabtu.
Ketidakseimbangan antara persedian dan kebutuhan tersebut, menurut Kherjuli membutuhkan ekstra kerja keras bagi pemerintah untuk menjamin kebutuhan air masyarakat tercukupi. Karena, air yang bagus, tentu akan mempengaruhi kerja yang bagus.
Sementara itu, persediaan air baku di Pulau Bintan khususnya di Ibukota Provinsi Kepri, Tanjungpinang. Dinilai masih kurang untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakatnya.
“Surplus air di Pulau Bintan itu dulu, ketika jumlah penduduk tak terlalu banyak. Tapi sekarang tingginya tingkat pertumbuhan penduduk, membuat kebutuhan air tak mencukupi,” paparnya.
Upaya pemerintah dalam hal ini Pemkab Bintan, Pemko Tanjungpinang, dan Pemprov Kepri, dinilainya belum maksimal, dan terkesan lambat.
“Padahal masih diseputar air baku, belum ke air minum. Jadi belum bisa berbicara percepatan penyediaan air minum,” tuturnya.
Contohnya, Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) yang dibangun di Batu Hitam Tanjungpinang, yang sampai saat ini belum bisa dirasakan masyarakat, setelah sekitar 4 tahun dikerjakan.
“Air minum ini tak bisa ditunda-tunda, tapi pada kenyataannya lambat, padahal harus ada upaya percepatan. Sementara jumlah penduduk terus bertambah, tentu akan terjadi kesenjangan. Ketidakseimbangan itu yang kini terjadi,” paparnya.
Sehingga perihal tema hari air dunia “Water and Work” yang dengungkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk 2016, dinilainya tepat sebagai motivasi dalam meningkatkan kebutuhan sakral manusia dan makhluk hidup lainnya, yakni air.
Berkacamata pada skala dunia, Kherjuli mengatakan bahwa, memang  separuh penduduk dunia mampu memperoleh akses air bersih.
“Karena, untuk mendapatkan air bersih  butuh pengerjaan yang ekstra, tenaga, pikiran, dan anggaran itu sendiri,” ucap Kherjuli.
Sementara itu, sulitnya mendapatkan air bersih membuat tidak sedikit masyarakat membungkus kran air dengan kain, seperti yang dilakukan Wishnu warga Kampung Baru Tanjungpinang.
“Kalau airnya keruh, terpaksa kran air ledengnya dibungkus kain. Tapi kalau bersih, tak dibungkus,” ucapnya.
Selain itu, jaminan memproleh air bersih juga belum dirasakannya, terbukti tidak setiap hari air bersih dapat diakses.
“Air ledeng ini, kadang hidup kadang mati. Terus, tergantung daerahnya yang juga pengaruh misalnya daerah bukit dan daerah landai,” kata Wishnu.(Antara)
Editor: Evy R. Syamsir

COPYRIGHT © ANTARA 2016

About kherjuli

PRESIDEN AIR

Posted on Maret 9, 2016, in Uncategorized and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: