Perlu Waktu dan Proses Panjang



EKSTAMBANG: Lahan ekstambang di kawasan Dompak, Tanjungpinang. f-zulfikar/tanjungpinang pos

Menyolek Lahan Bauksit Tanjungpinang 

JAUH sebelum PP Nomor 47 tahun 2007 terbit, Kawasan Senggarang dan Dompak sudah menjadi ladang tambang untuk meraup keuntungan. Sembilan tahun pascaaturan itu terbit, hampir seluruh kawasan itu menjadi tak sempurna. Sehingga perlu usaha yang cukup keras, agar kawasan itu dapat kembali jaya seperti dulu. Seperti di saat tambang bauksit masih beroperasi. 

Tanjungpinang – Berdasarkan catatan sejarah, bijih bauksit pertama kali ditemukan di Pulau Bintan pada tahun 1924, dan pihak pertama yang memanfaatkannya adalah perusahaan Belanda, NV Nederlansch Indische Bauxiet Exploitatie Maatschapij (NV NIBEM). Perusahaan dari negara kincir angin itu melakukan penambangan dari tahun 1935 hingga tahun 1942.

Kemudian, di tahun 1942 sampai 1945, penambangan bauksit diambil alih oleh Jepang melalui perusahaan Furukawa Co Ltd. Pada tahun 1959 usaha ini kembali ditangani oleh NV NIBEM.

Di tahun yang sama, yaitu pada tahun 1959, kegiatan pertambangan bauksit di daerah diambil alih oleh Pemerintah Indonesia dengan mendirikan PT Pertambangan Bauksit Indonesia (PERBAKI), dan kemudian dilebur menjadi PN Pertambangan Bauksit Indonesia yang berada di lingkungan BPU PERTAMBUN, yang kemudian menjadi PT Aneka Tambang.

Singkatnya, sejak saat itu sampai tahun 2013, Pulau Bintan bak menjadi surga bagi para penambang bauksit untuk mengeruk keuntungan dari tanah coklat itu. Eksploitasi besar-besaran pun tak terhindarkan. Dampaknya, setiap tahun kondisi alam di Pulau Bintan mengalami sedikit ketimpangan.

Pasalnya, akibat eksploitasi besar-besaran itu membuat beberapa kawasan yang dulunya dipadati oleh berbagai macam pohon berubah menjadi gersang.

Direktur LSM ALIM Kepri, Kherjuli mengatakan, akibat penambangan itu selain membuat hutan berkurang juga menyebabkan berkurangnya air di Pulau Bintan. Khususnya di kawasan Senggarang dan Dompak.

”Karena pohon yang dulunya tumbuh subur itu berfungsi sebagai penyerap air. Tapi sejak tambang bauksit fungsinya mulai berkurang,” ujarnya.

Sejogjanya kata dia, para perusahaan tambanglah yang paling bertanggungjawab. Pemerintah pun ujarnya, juga diharapkan dapat bersikap tegas dan mau melakukan tindakan supaya lahan gersang bekas tambang itu dapat kembali hijau.

Namun, sampai dengan dua tahun penambangan bauksit terhenti, apa yang diharapkan tersebut tak juga kunjung terwujud. Justru, di tahun 2016 ini, lahan yang lama terdiam itu mulai dicoba untuk didandani. Adalah Badan Pengusaha (BP) Kawasan Tanjungpinang yang mencoba untuk mendandani lahan gersang tersebut.

Tahun 2015, usaha untuk menyolek lahan bekas tambang di Senggarang dan Dompak pun dimulai. Sebagai langkah awal, BP Kawasan Tanjungpinang melakukan pemetaan dan pemasangan tanda di kawasan Senggarang dan Dompak.

Walaupun secara fisik usaha itu tidak terlalu kelihatan hasilnya. Namun, usaha tersebut sejatinya memiliki dampak yang cukup besar untuk masa depan kedua kawasan tersebut.
Sebab, berdasarkan PP Nomor 47 tahun 2007, kedua kawasan itu sudah ditetapkan menjadi lokasi Free Trade Zone (FTZ) Tanjungpinang.

”Itu berguna sebagai acuan untuk investor ketika ingin menanamkan modalnya,” ujar Kepala BP Kawasan Tanjungpinang, Dean Yealta.

Namun, untuk mewujudkan hal itu tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Perlu usaha keras, materi, bahkan pertikaian.

”Ketika memasang patok. Tak jarang kami harus berhadapan dengan para pemilik lahan yang tidak senang lahannya ditandai,” kenangnya.

Namun, setelah melalui berbagai proses, akhirnya satu per satu rintangan tersebut terselesaikan. Tahun ini, pengerjaan pemetaan dan pemasangan tanda di kawasan itupun dipastikan rampung.

Selain itu, masyarakat yang memiliki lahan di kawasan tersebut juga akan diajak berembuk. Untuk membicarakan persoalan lahan yang sempat menjadi pertikaian.

Infrastruktur pendukung, yaitu pelabuhan bongkar muat di Tanjungmocco Dompak tahun ini juga selesai dikerjakan. Pelabuhan itu kata Dean memiliki peran yang sangat besar untuk mendukung perkembangan kawasan di Dompak. Karena sesuai konsepnya, Dompak memang disiapkan menjadi pusat kawasan industri.

”Pelabuhan itu nanti akan menjadi tempat pengiriman barang dari kawasan industri yang ada di Dompak,” tutur Dean.

Tak cuma pelabuhan yang akan disiapkan. BP Kawasan Tanjungpinang juga tengah mencari cara untuk membuat infrastruktur pendukung penyediaan air. Untuk hal ini, Dean sendiri sudah berancang-ancang untuk menjadikan kubangan bekas lahan bauksit di Dompak sebagai sumber air baku.

”Kami juga sudah berkoordinasi dengan PDAM untuk penyediaan air bersih di kawasan investasi Dompak,” sebutnya.

Dean berharap, usahanya untuk menyolek lahan bauksit menjadi menarik dapat terwujud. Dia pun merasa optimis bila semua usaha dan rencananya berjalan sesuai dengan harapan. Tahun 2018 mendatang, kawasan Dompak sudah siap untuk ditawarkan ke investor.

Alasannya yang membuat ia merasa optimis cukup sederhana. Karena, ketika lahan yang lama diam itu masih belum dan dalam proses didandani. Sudah banyak investor asing yang berniat untuk menanamkan investasinya di Dompak.

”Sehingga saya optimis kalau semua lancar dalam waktu dua tahun. Kawasan itu akan ber-kembang,” ujarnya. (ZULFIKAR)

About kherjuli

PRESIDEN AIR

Posted on Maret 9, 2016, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: