Masyarakat Justru Merasa Ditolong Batu Menangis


Sumber : Tanjungpinang Pos

AMBIL AIR : Warga mengambil air dari celah batu yang oleh warga sekitar hutan Mata Kucing disebut Batu Menangis. f-zulfikar/tanjungpinang pos

Ketika Warga Jalan Kempas Tak Bisa Nikmati Air PDAM

Ada peribahasa untuk menggambarkan peliknya kehidupan meski berada di gudang makanan. ‘Anak Ayam Mati di Lumbung Padi’, begitulah bunyinya.

Tanjungpinang – Peribahasa ini sepertinya tepat dialamatkan kepada warga Jalan Kempas, Kelurahan Tanjungpinang Timur. Kampung ini menjadi tempat perlintasan pipa Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Kepri, tapi warga sekitar tak bisa menikmatinya.Warga harus mengambil air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dari batu yang oleh penduduk setempat disebut dengan Batu Menangis.

Sudah sejak puluhan tahun lamanya, Batu Menangis menjadi sumber air utama bagi penduduk Jalan Kempas. Sumber air yang terletak persis di tengah Hutan Lindung Bukit Kucing ini menjadi andalan bagi 50 kepala keluarga di kampung tersebut untuk memenuhi kebutuhan air bersih mereka sehari-hari. Air dari Batu Menangis itu hanya digunakan oleh warga untuk mandi dan mencuci.

Selain itu di Batu Menangis tersebut setiap harinya selalu ramai oleh ibu-ibu rumah tangga yang mencuci dan mandi. Iwan salah seorang warga yang ditemui sedang mengambil air di lokasi tersebut mengatakan, bila sudah masuk musim kering, tidak hanya warga di kampung itu yang mengambil air ke Batu Menangis.

Tapi warga di luar kampung itu, seperti warga Jalan Kampung Baru dan warga Jalan Borobudur juga akan memanfaatkan sumber air tersebut.

”Kalau sudah kemarau, bisa lebih 50 orang yang ambil air di sini. Tapi syukurlah, air di sini memang tidak pernah kering,” ujarnya.

Secara kasat mata, air di lokasi itu hanyalah belahan batu yang di tengahnya berisi air. Bila musim hujan seperti saat ini, air yang keluar dari batu tersebut debitnya bisa sangat banyak.

Tapi bila musim kemarau, debit air di batu itu akan menyusut namun tidak sampai kering. Selain itu, lokasi batu menangis ini juga berada di tengah hutan. Orang awam dipastikan akan sulit untuk pergi ke tempat ini. Sebab tidak ada petunjuk jalan untuk menunjukkan lokasi batu menangis ini. Selain itu, tak jauh dari lokasi batu menangis ini terdapat lintasan pipa milik PDAM Tirta Kepri yang posisinya hanya sekitar 100 meter dari lokasi batu menangis.

Lintasan pipa ini jugalah yang melintas di kampungnya. Menurut Iwan, pipa itu sudah berada di sana sejak tahun 1979. Selain itu, pipa tersebut juga sudah lama mengalami kebocoran. Tapi sampai saat ini belum juga ditangani oleh pihak PDAM.

”Kalau bocornya itu sudah lama. Tapi dibiarkan saja kayak gitu. Sayang padahal airnya,” tuturnya.Walaupun sudah belasan tahun memanfaatkan air dari sumber tersebut, Iwan sama sekali tidak mengetahui darimana air yang keluar dari batu itu berasal.

”Tak tau ini dari mana asal airnya. Mata airnya juga tak pernah nampak. Tapi airnya ini tak pernah kering,” ucapnya.

Pada waktu itu, sebagai warga Iwan menyampaikan keinginannya seandainya air dari pipa PDAM Tirta Kepri tersebut dialirkan ke pemukiman rumahnya. Tentu dirinya dan warga di kampungnya tersebut tidak perlu susah payah lagi untuk mencari air.

”Kalau memang bisa, mau sajalah air dari PDAM itu dialirkan ke rumah. Biar tak capek lagi ngangkat air,” sebutnya tersenyum.

Tapi jika hal itu tidak bisa terwujud, Iwan hanya berharap agar pemerintah dapat menyediakan tempat penampungan air yang airnya bersumber dari batu menangis tersebut.

”Orang kampung sini berharap saja kalau seandainya pemerintah mau bikinkan tempat penampungan. Supaya airnya bisa langsung di alirkan ke rumah,” harapnya.

Sementara itu, Direktur ALIM Kepri Kherjuli yang saat itu menemani Tanjungpinang Pos mengatakan, jika kondisi sumber air dari Batu Menangis tersebut sejatinya sangat memprihatinkan. Sebab, di sekitar lokasi sumber air tersebut kini dipenuhi oleh sampah plastik. Pada waktu itu, Kherjuli juga menuturkan, saat ini pihaknya tengah melakukan penelitian terhadap kandungan air di lokasi tersebut.

”Sekarang ini kualitas airnya sedang kami teliti. Untuk mengetahui dari mana sumber air ini berasal,” ujarnya.

Kherjuli pada waktu itu juga menyebutkan, dikhawatirkan air yang ada di batu tersebut berasal dari kebocoran pipa PDAM Tirta Kepri yang lokasinya tidak jauh dari batu tersebut.

”Khawatirnya ini air dari pipa PDAM. Makanya mau kami teliti. Kalau ada mengandung kaporit berarti benar air PDAM. Tapi kalau tidak, berarti air ini murni dari mata air,” sebut anggota Dewan Sumber Daya Air (DSDA) Provinsi Kepri ini.(ZULFIKAR)

About kherjuli

PRESIDEN AIR

Posted on Juli 9, 2015, in Uncategorized and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: