Ibu Kota Andalkan Air Sumur


Sumber: Tanjungpinang Pos

kenduri air:  Siswa-siswi  SMP Negeri 4 Tanjungpinang saat kenduri air di, Jumat (20/3). f-zulfikar/tanjungpinang pos

Peringatan Hari Air Sedunia

Tanjungpinang – Krisis Air di bersih Tanjungpinang dan Bintan bakal berkepanjangan. Warga semakin ketergantungan menggunakan air tanah melalui sumur-sumur yang dibuat.Sementara, PDAM Tirta Kepri selaku BUMD yang dibuat pemerintah daerah, hanya mampu melayani sekitar 15 ribu pelanggan saja. Padahal, jumlah penduduk di Tanjungpinang dan Bintan sudah lebih dari 330 ribu jiwa.

Meski sudah melayani 15 ribu pelanggan, yang diperkirakan hanya sekitar 30 persen penduduk, itupun air yang diproduksi tidak rutin disuplai secara terus menerus. Dalam sehari, air PDAM hanya mengalir antara 4 sampai 7 jam saja ke pelanggannya.

Sedangkan, untuk sumber air, PDAM Tirta Kepri hanya mengandalkan waduk tadah hujan yakni Waduk Sungai Pulai dan Waduk Gesek. Hal ini membuat ratusan siswa SMPN 4 Tanjungpinang dan

LSM Air Lingkungan dan Manusia (ALIM) menggelar acara keprihatinan tentang ketersediaan air di Pulau Bintan ini.
Sejauh ini belum terlihat upaya pemerintah daerah untuk mengikuti jejak PT Adya Tirta Batam dan BP Batam yang membendung Teluk Duriangkang dan Teluk Tembesi hingga mampu menyuplai air bersih untuk kebutuhan 1,2 juta jiwa penduduk Batam termasuk, untuk kebutuhan industri.

Direktur PT Tirta Kepri Abdul Kholik saat ditanya wacana membendung salah satu teluk di pulau Bintan sebagai sumber air bersih, ia mengaku itu bukan wewenangnya.

”Kita hanya operator yang memanfaatkan waduk yang disediakan pemerintah. Yang jelas, kuantitas produksi air PDAM terus bertambah. Kalau rencana untuk membuat dam yang bersumber air laut, itu ada rencana jangka panjang. Baiknya, tanyakan langsung ke pemerintah daerah selaku yang memiliki wilayah,” ujar Kholik beberapa waktu lalu.

Kholik pun tidak bisa memastikan sampai kapan warga di Pulau Bintan ini akan ketergantungan air tanah, karena belum setengah penduduk yang bisa menikmati air PDAM.

Pada Sidang Umum PBB ke-47 tanggal 22 Desember 1992 di Rio de Janeiro, Brasil. Diumumkanlah, setiap tanggal 22 Maret diperingati sebagai Hari Air Sedunia. Momentum ini dijadikan sebagai pengingat agar manusia selalu menjaga ketersediaan air. Sebab, hingga detik ini hampir di seluruh belahan dunia memiliki permasalahan tentang air besih.

Termasuk di Ibu Kota Provinsi Kepri. Penyebabnya, pemerintah seakan tak berdaya untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat, karena terbatasnya sumber daya air yang tersedia.

Karena masalah air besih tidak pernah terselesaikan di Tanjungpinang membuat ratusan siswa SMPN 4, Kota Tanjungpinang melakukan kegiatan kenduri air atau dalam bahasa internasionalnya dikenal dengan sebutan Pray For Water, pada Jumat (20/3).

Kenduri air dilakukan siswa beserta seluruh elemen sekolah ini. Ini bukanlah hal yang pertama dilakukan oleh LSM Air Lingkungan dan Manusia (ALIM) Provinsi Kepulauan Riau yang melakukan kenduri air. Ini sudah yang kesepuluh kalinya di sepuluh tahun terakhir.

”Orang Melayu senang membacakan ayat-ayat Suci Alquran ke air atau lebih dikenal dengan jampi untuk mendapatkan kebaikan. Berawal dari itulah sejak 2005, setiap perayaan hari air sedunia kami rutin melakukan kenduri air, yang kini telah menjadi kearifan budaya lokal,” sebut Ketua LSM Alim, Kherjuli yang menjadi penggagas acara ini.

Pria yang dikenal konsisten dalam menyuarakan persoalan air ini meneruskan, kenduri air ini tidak hanya sebatas momentum untuk memperingati Hari Air Sedunia. Tapi, kenduri air ini memiliki tujuan untuk memberikan pembelajaran kepada semua orang terutama generasi muda tentang pentingnya menjaga ketersediaan sumber daya air.

”Air merupakan karunia Tuhan Yang Maha Esa untuk memberikan kenikmatan kepada seluruh manusia. Dan air bukan hanya milik satu agama saja. Jadi, dirasa tidak ada alasan bagi kita untuk tidak menjaga sumber daya air. Karena belum ada manusia yang dapat menciptakan air,” tutur Kherjuli.

Menurut dia, selama ini keberadaan air di muka bumi selalu dianggap sepele, seperti tidak memiliki arti. Padahal, air adalah sumber kehidupan utama bagi manusia. Orang mampu bertahan hidup tanpa makan selama sebulan, tapi orang tidak akan mampu bertahan hidup tanpa air selama seminggu.

”Air juga menjadi kebutuhan yang paling mendesak dalam kehidupan. Sebab, di saat bangun tidur saja kita sudah memerlukan air,” sebutnya.

Artinya, kata dia, suka tidak suka mau tidak mau pemerintah wajib menyediakan air dan mendapatkan sumber daya air untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Atas kondisi inilah kata Kherjuli yang membuat dirinya berinisiatif untuk membuat bank air yang akan menjadi bank air pertama dan satu-satunya di Indonesia. Bank air ini kata dia, diharapkan akan membantu Pemerintah yang sekarang ini seakan tidak berdaya untuk memenuhi kebutuhan air di Ibu Kota Provinsi Kepri.

”Kami hanya sebagai fasilitator, untuk membantu masyarakat yang kesulitan air dapat mendapatkan kemudahan. Kami hanya berharap agar pihak ekskutif dan legislatif mau lebih serius lagi dalam memenuhi hajat orang banyak ini,” ujarnya.

Perihal masih minimnya cakupan pelayanan air bersih untuk masyarakat. Seolah menjadi dilema tersendiri bagi Peusahaan Dasar Air Minum (PDAM) Tirta Kepri yang bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat di Pulau Bintan.

Menurut Direktur PDAM Tirta Kepri Abdul Kholik, selama ini yang menyebabkan PDAM Tirta Kepri kesulitan untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat Ibu kota provinsi kepri karena terbatasnya sumber daya air yang tersedia di Pulau Bintan.

”Di Tanjungpinang sejak tahun 1969 hanya Sei Pulai lah yang menjadi satu-satunya sumber air milik PDAM,” ujarnya.

Kondisi ini kata dia, sebenarnya terpaksa terjadi karena disebabkan oleh beberapa faktor. Seperti permasalahan lahan, sampai kesiapan perhitungan yang tak matang. Tapi, PDAM Tirta Kepri tidak mau menyerah dengan kondisi ini. Dengan berprinsip pada konsep surplus air dan menjaga sumber daya air yang ada. Di tahun 2011 yang lalu tercetuslah program pembangunan waduk jangka pendek, menengah, dan panjang.

Sebagai pembuka, tahun 2011 Sei Gesek pun mulai digarap menjadi waduk. Pembangunannya pun selesai dan diresmikan tahun 2015. Tapi ternyata, Waduk Gesek belum mampu untuk memenuhi kebutuhan air warga Ibu Kota Provinsi. Sebab, pertumbuhan penduduk Ibu Kota selama dua tahun belakangan mengalami lonjakan yang sangat signifikan.

Karena, waduk yang diresmikan pada Februari yang lalu hanya mampu memproduksi air sebanyak 100 liter per detik. Sedangkan kebutuhan air bersih untuk masyarakat Ibu Kota Provinsi Kepri saja mencapai 600 liter per detik. Kalaupun ditambah dengan Waduk Sei Pulai yang memiliki kapasitas 350 liter per detik, jumlah tersebut tentu masih sangat jauh dari kata cukup.

Saat ini pemerintah sedang menyiapkan Waduk Kawal, namun ini juga merupakan waduk tadah hujan yang debit airnya akan menyusut drastis bahkan berpeluang untuk kering saat musim kemarau.

Kondisi kurangnya cakupan pelayan air di Ibu Kota Provinsi Kepri ini sangat dirasakan oleh sebagian besar masyarakat Ibu Kota Provinsi Kepri. Salah satunya seperti yang dialami oleh Zulfanwahid, warga Gang Teraling Jalan Ir Sutami, Kota Tanjungpinang.

Pria berusia 60 tahun ini sudah sejak tahun 1978 memanfaatkan air yang ada di kawasan hutan lindung Bukit Kucing atau oleh penduduk setempat dikenal dengan nama waterpark sebagai sumber air untuk memenuhi kebutuhan airnya sehari-hari.

”Inilah satu-satunya penunjang air kami untuk mandi,” sebutnya.

Pria ini melanjutkan, air waterpark ini bukan hanya menjadi andalan untuk masyarakat di kampungnya. Bila kemarau tiba, kata dia, sumber air ini menjadi andalan bagi warga Anggrek Merah dan sekitarnya untuk memenuhi kebutuhan air mereka sehari-hari.

Kondisi ini bukannya tidak dikeluhkan oleh Zulfan, namun kata dia apalah daya memang pada kenyataannya sampai dengan hari ini PDAM Tirta Kepri belum mampu untuk memenuhi kebutuhan air. Buktinya kata dia, sejak dua tahun yang lalu dirinya mendaftarkan diri untuk menjadi pelanggan PDAM Tirta Kepri, hingga detik ini belum juga tersambung.

Gratis untuk Warga
Saat musim kemarau, sumber mata air milik Bambang Suripto di Jalan Sidorejo, Batu 5, Kelurahan Seijang tak pernah kering.
Sumur yang dalamnya hanya 2 meter dan luas serta panjang 2X3 meter ini memiliki mata air yang cukup besar.

Bahkan, beberapa instansi pemerintah di Tanjungpinang sering datang untuk mengambila ir di sumur ini saat musim kemarau.
Bambang menjelaskan, selama ini dirinya dan keluarga tak pernah mematok harga air.

Hanya saja, bagi industri atau kepentingan tertentu yang mengambil darinya diwajibkan membayar uang jasa mesin air. Bila ada warga yang membutuhkan air juga Bambang tak mematok bayaran. Hanya saja ongkos bensin mobil pikup saja yang menjadi patokan harga.

”Sumber air itu ada saat saya dapat ilham dari Allah. Mimpi disuruh menggali di tanah yang sekarang ini. Sebelumnya pada tahun 2011 terjadi kemarau panjang sekitar 6 bulan. Saya gali tanah di depan rumah (dekat mata air, red). Tapi tak ada airnya, padahal sudah digali 7 meter. Lalu saya berdoa dan tafakur. Bukan karena saya sendiri, tapi tak kuat saya melihat warga sekitar yang kekeringan air.Ternyata dapat anugrah untuk menggali di lokasi yang sekarang ini,” ungkap Bambang menceritakan awal mula dirinya mendapatkan air.

Atas karunia yang besar itu, akhirnya Bambang mulai membagi-bagikan air yang berlimpah tersebut. Sebagian warga tempatan juga menikmati hasilnya. Bambang tak perhitungan dalam membagi rejeki tersebut. Bahkan, ia mengimbau bila ada masjid, yayasan, sekolah atau warga tertentu membutuhkan air bisa mengambil di sumber mata air miliknya. (Zulfikar – Indra)

About kherjuli

PRESIDEN AIR

Posted on April 16, 2015, in Uncategorized and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: