Tanjungpinang Gagal Pertahankan Adipura


Kota Tanjungpinang harus melepas predikatnya sebagai Kota Terbersih. Pasalnya, kota ini gagal mempertahankan Piala Adipura ke-11 kalinya. TANJUNGPINANG (HK) – Kota Tanjungpinang harus melepas predikatnya sebagai Kota Terbersih. Pasalnya, kota ini gagal mempertahankan Piala Adipura ke-11 kalinya.
Tim Pemantau Adipura Kota Tanjungpinang Kherjuli mengungkapkannya kepada Haluan Kepri, Jumat (6/6).

“Benar Kota Tanjungpinang tidak mendapatkan Piala Adipura tahun ini. Tanjungpinang tidak mampu bersaing dengan 83 kabupaten/kota yang telah mendapat Piala Adipura dari Wakil Presiden Boediono di Istana Wakil Presiden di Jakarta semalam,” ujarnya.

Direktur LSM ALIM (Air, Lingkungan dan Manusia) Kepri ini mengatakan, pada penilaian Adipura, selain menilai kondisi kebersihan dan pengelolaan lingkungan, juga membandingkannya dengan kabupaten atau kota lain yang mengikuti program Adipura.

“Dari 373 kabupaten/kota yang ikut Adipura tahun ini, 83 kabupaten/kota se-Indonesia dinyatakan layak mendapatkan Piala Adipura. Sedangkan kota Tanjungpinang, Batam, Bintan, dan Karimun dipastikan belum berhasil,” ujarnya.

Ia mengatakan, bukan perkara mudah untuk memperoleh terlebih mempertahankan penghargaan tersebut. Sebab, bobot penilaian setiap tahun terus meningkat. Jadi, harus ada perkembangan signifikan daerah yang bersangkutan lantaran persaingan yang ketat.

Beberapa hal yang membuat nilai Tanjungpinang jatuh, kata dia, adalah pengelolaan sampah melalui bank sampah di tingkat masyarakat serta pengomposan dan produksi gas metan di TPA maksimal dan perlu ditingkatkan.  Hal lainnya, adalah kualitas air, udara dan Ruang Terbuka Hijau (RTH).

“Diharapkan Pemko Tanjungpinang dapat mendorong ke arah tersebut dan menyosialisasikan ke masyarakat. Karena partisipasi masyarakat ikut menentukan,” tuturnya.

Penilaian Adipura meliputi pemantauan satu dan dua oleh Tim Pemantau dari LSM, Perguruan Tinggi, BLH Povinsi dan Pusat Pengelolaan Ekoregion (PPE) Regional. Kemudian diverifikasi oleh Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), lalu dibahas pada sidang Dewan Pertimbangan Adipura yang berlatarbelakang profesor yang ahli di bidangnya.

“Dari situ, hasilnya ditetapkan oleh Menteri KLH atas nama Pemerintah RI. Jadi, bukan Tim Pemantau Adipura yang menentukan pemenangnya melainkan melalui proses yang sangat selektif,” jelasnya.

Sementara Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Tanjungpinang, Gunawan Grounimo ketika dihubungi ke ponselnya, tidak merespon. Begitu juga melalui pesan singkat. Saat disambangi di kantornya, beberapa staf BLH enggan mengatakan kebenaran kabar tersebut.

“Nanti saja ya, Bang. Tunggu Bapak (Kepala BLH,red) pulang dari diklat. Kami tak berani mau menjawab,” ujar seorang staf BLH yang namanya tidak mau disebut. (cw77)

About kherjuli

PRESIDEN AIR

Posted on Maret 7, 2015, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: