Dompak Jadi Kelurahan Terkotor se-Kota Tanjungpinang


 Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Tanjungpinang menobatkan Kelurahan Dompak sebagai kelurahan terkotor se-Kota Tanjungpinang.TANJUNGPINANG (HK) – Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Tanjungpinang menobatkan Kelurahan Dompak sebagai kelurahan terkotor se-Kota Tanjungpinang.

Kelurahan itu diwajibkan mengibarkan bendera hitam selama tiga bulan di depan kantor kelurahannya.

“Kelurahan Dompak menjadi kelurahan yang paling kotor dengan nilai 53,04, diikuti Kelurahan Kemboja dengan nilai 55,04. Terakhir Kelurahan Tanjungpinang Timur dengan nilai 58,37,” ujar Kepala BLH Kota Tanjungpinang, Gunawan Grounimo, di SMKN 4 Kota Tanjungpinang, Kamis (19/6) pagi.

Dengan demikian, Kelurahan Kemboja wajib mengibarkan bendera hitam selama dua bulan dan Kelurahan Tanjungpinang Timur selama satu bulan di depan kantor kelurahan masing-masing.

Hal itu merupakan hasil penilaian pada lomba Kelurahan Bersih Hijau (KBH) yang telah digelar beberapa waktu lalu.

Gunawan mengatakan, BLH akan memantau perkembangan kelurahan-kelurahan berpredikat terkotor itu. Jika ternyata masih tidak ada perbaikan, maka bendera hitam akan tetap terpasang sampai kelurahan tersebut dianggap bersih dan hijau.

Untuk mewujudkan lingkungan bersih dan hijau, kata Gunawan, perlu kesadaran semua pihak untuk peduli lingkungan. “Jangan hanya beberapa pihak saja. Jadi seluruhnya memang harus bersinergi,” tuturnya.

Sementara itu, salah seorang tim penilai, Kherjuli mengatakan, di tiga kelurahan itu, aktitivitas warga dalam mengelola lingkungan seperti pengomposan dan bank sampah masih minim.

Ia menjelaskan alasan Kelurahan Dompak mendapat nilai terendah dalam penilaian, yakni karena masih ditemukan warga yang membakar sampah di kelurahan tersebut.

“Memang kalau dilihat kebersihan di kelurahan ini sudah bagus. Tapi sayang dibersihkan dengan cara-cara dibakar. Cara-cara seperti itu tidak sesuai dengan prinsip pengelolaan lingkungan hidup,” paparnya.

Kelurahan Tanjungpinang Timur dan Kemboja, juga dinilai masih kotor karena sebagian drainase tersumbat dengan sampah.

Kherjuli yang juga merupakan Direktur LSM Air, Lingkungan, dan Manusia (ALIM) Provinsi Kepri ini juga mengharapkan agar predikat itu menjadi motivasi untuk tidak lagi membakar sampah. Perubahan perilaku masyarakat harus dimulai dari aparat pemerintahan di tingkat kelurahan.

“Lurah harus bisa memberikan contoh untuk tidak membakar sampah yang ada di perkarangan kantornya. Tidak saja mencegah pembakaran, tetapi harus dapat menjadi contoh mampu merubah mindset warga terhadap sampah, yang semula dianggap barang tak bernilai menjadi bernilai,” paparnya.

Salah satu cara mengelola sampah, kata dia, dengan mengubah sampah daun menjadi kompos yang bermanfaat untuk pembibitan, tanaman hias maupun Dasa Wisma PKK.

Selain keluarhan terkotor, BLH juga memberikan predikat kelurahan terbersih, yakni Kelurahan Air Raja, Kampung Baru, dan Tanjungunggat. Atas keberhasilannya, ketiga kelurahan tersebut memperoleh piala dan uang sebesar Rp7 juta, Rp6 juta, dan Rp5 juta.

Sementara tiga kelurahan yang meraih Juara Harapan 1, 2 dan 3 adalah Kelurahan Senggarang, Bukit Cermin, dan Kota Piring. Masing-masing mendapat piala dan uang sebesar Rp4 juta, Rp3 juta dan Rp2 juta. (cw77)

About kherjuli

PRESIDEN AIR

Posted on Maret 7, 2015, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: