Pemko Tanjungpinang Serahkan Pada Kontraktor


Keretakan Bak Penampungan SWRO

TANJUNGPINANG (HK) – Walikota Tanjungpinang Lis Darmansyah menyerahkan masalah kerusakan bak penampung di instalasi SWRO Batu Hitam kepada pihak kontraktor. Ia mengatakan, instalasi tersebut belum sepenuhnya tanggung jawab Pemerintah Kota Tanjungpinang.
“Itu kan belum diserah terima. Yang bertanggung jawab tetap mereka (kontraktor,red). Tapi, kita (pemerintah,red) dalam fungsi sebagai pengawasan agar tidak berdampak buruk bagi masyarakat,” ujar Lis, Sabtu (29/3).

Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Tanjungpinang Robert Pasaribu mengatakan pihaknya telah meminta pihak kontraktor untuk segera mengatasi kerusakan tersebut.

“Dalam proses pengerjaannya nanti juga akan diawasi. Kita berharap awal bulan ini (April,red) sudah direalisasi, sesuai janjinya,” ujar Robert.

Keretakan yang terjadi di bak penampungan tersebut, kata Robert, lantaran pengerjaan proyek yang dilakukan PT Artha Envirotama selaku kontraktor pembangunan SWRO, kurang cermat.

“Kualitas bangunannya yang sedikit kurang. Itu semua menjadi tanggung jawab kontraktor. Karena mereka masih (bertanggung jawab) dalam tahap pemeliharaan,” jelas Robert.

Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Tanjungpinang, Gunawan Grounimo mengatakan, hampir seperempat bagiasn dasar dari bak tersebut mengalami keretakan. “Retaknya itu bercabang-cabang. Hampir seperempat bagian bak mengalami keretakan,” ujarnya.

Bak penampungan ditanam di tanah sehingga keretakan yang terjadi mengakibatkan sumur di sekitar instalasi SWRO mudah tercemar air laut dari bak tersebut. “Karena kadar garam di bak itu sangat tinggi. Hampir tiga kali lipat kadar garamnya,” jelas Gunawan.

Direktur LSM Alim, Kherjuli mengatakan, air sumur warga yang tercemar masih bisa dinetralkan kembali, hanya membutuhkan waktu. Namun tetap harus dilihat sejauh mana volume air laut yang masuk ke dalam sumur dan pengaruhnya terhadap air di dalamnya.

Untuk itu, Kherjuli yang juga merupakan anggota dewan sumber daya air Provinsi Kepri ini mengharapkan kepada perusahaan kontraktor SWRO agar segera menanggulangi persoalan itu. “Jika tidak, bisa dijerat pidana sumber daya air dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang sumber daya air,” terangnya.

Sementara pihak kontraktor masih belum dapat dihubungi. Sepanjang pantauan kemarin, pabrik pengolahan air SWRO di Batu Hitam tutup dan tidak terlihat adanya aktivitas. (cw77)

About kherjuli

PRESIDEN AIR

Posted on Agustus 16, 2014, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: