Waspada, Kekeringan di Kepulauan Riau Masih Belum Berakhir


Sumber : Batam Pos : 4 Maret 2014 – 10:16 WIB Opini

Oleh: Hartanto, ST, MM
hartanto

Kepala Stasiun Meteorologi Tanjungpinang

Berdasarkan posisi geografis wilayah Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) berada di wilayah yang tidak mempunyai musim kemarau dalam siklus musimnya. Berdasarkan dari tinjauan klimatologisnya seluruh wilayah Kepulauan Riau mempunyai jumlah intensitas hujan yang cukup sepanjang tahun. Kepulauan Riau yang berada di sekitar laut China Selatan mempunyai iklim maritim, kondisi cuaca di wilayah ini sangat dipengaruhi oleh cuaca perairan yang merupakan sumber uap air terbesar. Curah hujan terendah terjadi ‘hanya’ terjadi pada bulan Februari selebihnya jumlah curah hujan cukup sepanjang tahun. Jumlah curah hujan mengalami dua puncak yaitu pada bulan April/Mei dan Nopember, dengan bulan-bulan September – Desember merupakan bulan dengan berlimpah air.

Bulan Februari tahun 2011, masih dalam ingatan masyarakat kota Tanjungpinang selama lebih dari satu bulan mengalami krisis air bersih. Tercatat pada bulan Januari – Februari 2011 wilayah Tanjungpinang tidak terjadi hujan selama kurang lebih 31 hari. Suatu dry spell yang panjang untuk wilayah yang berada di wilayah kepulauan dengan jumlah curah hujan tinggi. Kejadian yang sama juga pernah terjadi pada tahun 1988/1989 dengan hari tanpa hujan sekitar 35 hari.

Pada tahun 2014 kondisi yang sama kembali terulang dengan dry spell yang jauh meningkat, terhitung sejak pertengahan Januari hingga akhir Februari sudah 45 hari tidak pernah turun hujan dan merupakan dry spell terpanjang dalam sejarah. Kondisi yang sama juga melanda hampir sebagian besar wilayah Kepulauan Riau yang mempunyai pola cuaca yang sama. Pada tahun 2014 kejadian tahun 2011 kembali terulang bahkan sudah lebih parah, tahun 2014 merupakan tahun dengan kekeringan terpanjang dalam catatan BMKG untuk wilayah Kepulauan Riau.

Kejadian kekeringan lebih dari 1 bulan pernah terjadi pada tahun 1988/1989, 2005 dan 2011. Seluruh wilayah Kepulauan Riau sejak tanggal 13 Januari sampai akhir Februari (45 hari) tidak turun hujan. Kecuali wilayah Lingga dan Natuna yang pernah mengalami hujan dengan skala lokal pada pertengahan bulan februari. Panjangnya dry spell sebelumnya mengakibatkan hujan selama dua hari tersebut belum mampu mengurangi dampak kekeringan yang ada.

Kondisi pada tahun ini yang merupakan anomali terbesar dapat ditinjau dari beberapa faktor yang mempengaruhi diantaranya :

1.  Suhu Muka Air Laut

Suhu muka air laut di Perairan Laut Cina Selatan tercatat mengalami pendinginan 1 – 2 derajat celcius dibandingkan dengan normalnya, kondisi menurunnya suhu muka air laut mengakibatkan menurunnya potensi pasokan uap air. Yang membuat lebih parah adalah pendinginan suhu muka air laut juga melanda sampai dengan wilayah perairan Laut Jawa. Kondisi serupa dengan anomali suhu muka air laut juga pernah terjadi pada tahun 2005 yang mengakibatkan terjadi kekeringan sampai dengan 35 hari untuk wilayah Kepulauan Riau.

2. Outgoing Longwave Radiation (Olr)

Radiasi gelombang panjang wilayah Indonesia Bagian Barat termasuk wilayah Kepulauan Riau pada pertengahan bulan Januari dan pertengahan bulan Februari mengalami peningkatan sehingga massa udara pada wilayah ini mengalami subsidensi (udara turun). OLR pada awal dekade II bulan Februari  mengalami penurunan sehingga terjadi pembentukan awan yang cukup aktif dan menimbulkan hujan di wilayah Lingga dan Natuna. Peningkatan terjadi kembali pada pertengahan Februari sampai akhir Februari, sehingga pembentukan awan kembali sulit terbentuk.

3.  Kelembaban Udara pada Lapisan Menengah (700 Mb).

Faktor lain yang mempengaruhi anomali ini adalah rendahnya tingkat kelembaban udara pada lapisan menengah 700 mb atau setara dengan lapisan 3 km dari permukaan bumi. Lapisan ini merupakan jembatan pembentukan awan antara lapisan permukaan hingga lapisan puncak awan, rendahnya kelembaban pada lapisan menengah ini mengakibatkan massa udara yang terjadi menjadi panas dan awan menjadi pupus kembali. Cakupan lapisan menengah yang kering menyebar dari lintang menengah hingga ke equator.

4. Monsoon Asia yang Kering

Monsoon Asia yang oleh masyarakat Kepulauan Riau dikenal dengan sebutan angin utara, pada tahun ini juga mengalami anomali. Mulai pada pertengahan bulan Januari pergerakan massa udara dari utara cenderung menjadi kering. Angin utara yang pada kondisi normal merupakan angin dengan kandungan uap air tinggi setelah bergerak melintasi laut Cina Selatan maka pada kali ini, pergerakan massa udara tersebut bergerak melintasi wilayah perairan yang sedang mengalami pendinginan.

Pola angin utara yang sedang berlangsung mulai pertengahan bulan januari mempunyai pola angin yang menyebar (divergensi) dengan kecepatan tinggi 10 – 25 knot. Tingginya kecepatan angin utara ini menandakan bahwa perbedaan tekanan antara belahan bumi utara dan selatan masih signifikan. Wilayah Kepulauan Riau merupakan pintu masuknya massa udara dari belahan bumi utara ke belahan bumi selatan sehingga apabila terjadi anomali sirkulasi utara-selatan akan mengalami dampak yang paling besar. Dampak ini bahkan bisa bisa dirasakan sampai ke Riau Daratan dimana berdasarkan data yang ada wilayah Rengat dan sekitarnya juga mengalami kekeringan yang sama dengan wilayah Kepulauan Riau.

Berkaitan dengan kondisi yang saat ini terjadi maka seluruh masyarakat Kepulauan Riau untuk senantiasa waspada terhadap anomali cuaca yang sedang terjadi dan mengantisipasi beberapa dampak yang berpotensi muncul. Seperti bahaya kebakaran sebagai akibat dry spell yang panjang, udara yang kering dan angin dengan kecepatan tinggi. Masyarakat harus aktif dalam mencegah terjadinya kebakaran, BMKG memasukan wilayah kepulauan Riau dalam status Bahaya Kebakaran berdasarkan tinjauan parameter cuaca.  Pembukaan lahan dengan cara dibakar tentunya suatu tindakan yang tidak bijaksana dan sudah masuk dalam kategori membahayakan, potensi kebakaran yang terjadi sudah dalam kategori musah sekali terbakar dan apabila terjadi kebakaran akan sangat sulit sekali dikendalikan.

Hal lain yang perlu diantisipasi adalah krisis air bersih, masyarakat Kepulauan Riau yang bertempat tinggal pada pulau-pulau kecil sangat rentan dengan pasokan air bersih. Sebagian besar masyarakat mengandalkan pasokan air bersih dari air hujan. Dengan berkurangnya intensitas hujan maka tentunya akan berkurang juga pasokan air bersih. Krisis air bersih berpotensi melanda seluruh wilayah Kepulauan Riau termasuk Pulau Batam yang saat ini sudah mempunyai waduk dalam jumlah cukup. Wilayah-wilayah lain seperti Pulau Bintan, Karimun, Lingga, Anamas dan Natuna juga berpotensi mengalami krisis air bersih  yang lebih besar dengan adanya kekeringan yang berkepanjangan ini.

Waduk penampungan di kepulauan merupakan sumber air bersih untuk mencukupi kebutuhan  masyarakat yang sangat mengandalkan curah air hujan yang terjadi.  Waduk-waduk yang ada menjadi andalan dalam mencukupi kebutuhan air bersih. Keberadaan waduk sebagai penampungan air bersih juga menjadi sangat vital, terutama pada saat mengalami kekeringan yang cukup panjang.

Sumur-sumur warga juga mempunyai permasalahan yang tidak kalah pelik, perlu menggali tanah cukup dalam untuk bisa mendapatkan sumber air dalam tanah. Sumber air dalam tanah yang merupakan resapan dan air hujan tentunya juga akan sangat dipengaruhi oleh jumlah hujan yang ada. Apabila curah hujan terhenti untuk kurun waktu lebih dari satu minggu maka sudah ada sebagian masyarakat yang sudah mulai merasakan kekurangan air.

Jumlah curah hujan yang berkurang drastis, selama satu bulan tidak terjadi turun hujan mengakibatkan krisis air bersih sudah melanda hampir sebagian besar masyarakat Kepulauan Riau. Sumur-sumur masyarakat jumlah airnya sudah jauh berkurang bahkan sudah banyak sumur yang sama sekali tidak ada airnya.

Kekeringan yang lebih dari satu bulan mempunyai dampak yang besar terhadap  kelangsungan kehidupan masyarakat Kepulauan Riau. Keberadaan waduk yang hanya mengandalkan air yang tersisa diwaduk tanpa ada aliran air dari manapun, ditambah tidak ada hujan yang turun dan besarnya kebutuhan masyarakat akan air bersih mengakibatkan pasokan air bersih di waduk tentunya semakin menipis.

Manfaat waduk di wilayah kepulauan seperti di Kepulauan Riau tentunya berbeda dengan keberadaan waduk pada daerah lain yang kemanfataannya selain untuk air bersih juga untuk irigasi pertanian. Keberadaan waduk mempunyai peran yang sangat strategis dan vital untuk kehidupan yang langsung dirasakan oleh masyarakat.

Krisis yang terjadi pada waduk ini juga langsung dirasakan oleh masyarakat dalam kurun waktu tidak lama. Waduk di wilayah kepulauan ebagian besar mengandalkan air hujan sebagai sumber airnya, berkurangnya jumlah curah hujan tentunya akan berpengaruh besar terhadap jumlah air dalam waduk.
Kebutuhan manusia akan air bersih merupakan kebutuhan vital yang tidak tergantikan oleh apapun, tidak ada suatu benda yang mampu menggantikan posisi air dalam kehidupan kita. Seluruh sendi kehidupan memerlukan air untuk kelangsungan hidupnya, sehingga keberadaan air menjadi sangat vital.

Terganggunya pasokan air tentunya akan mengganggu sendi-sendi kehidupan masyarakat. Yang menjadi pertanyaan dalam masyarakat tentunya adalah sampai kapan kekeringan ini akan berakhir. Dalam kondisi normal maka potensi hujan akan meningkat pada awal bulan Maret dan mengalami puncak pertama pada bulan April/Mei. Kondisi saat ini yang merupakan kondisi anomali tentunya juga akan terjadi pergeseran awal peningkatan curah hujan. Kekeringan ini akan kembali normal tentunya apabila seluruh parameter yang menyebabkan amonali ini juga kembali normal.

Berdasarkan dari pantauan parameter yang ada saat ini masih menunjukan bahwa masih diperlukan waktu beberapa minggu kedepan untuk mengembalikan ke kondisi normal. Suhu muka air laut yang merupakan sumber pasokan uap air terbesar memerlukan waktu beberapa minggu mendatang untuk kembali kepada suhu normalnya. Perbedaan sistem tekanan antara belahan bumi utara dan selatan yang mengakibatkan aktifitas angin utara yang kering juga masih cukup besar. Tetapi seiring dengan pergerakan semu matahari yang sudah bergerak menuju belahan bumi utara diharapkan akan mampu mempercepat kondisi-kondisi anomali kembali ke normalnya.

Potensi-potensi munculnya dry spell break dengan munculnya potensi hujan-hujan lokal berpeluang terjadi pada awal-pertengahan maret, sehingga ada jeda kekeringan yang terjadi walaupun kondisi yang kering juga masih berpotensi muncul kembali.  BMKG merilis bahwa pada bulan April – Juli 2014 pasokan uap air untuk wilayah Indonesia bagian barat cenderung berkurang dari normalnya, sehingga kita perlu mengantisipasi munculnya potensi berkurangnya curah hujan dalam kurun waktu tersebut.

Potensi kekeringan yang masih berlanjut tentunya harus disikapi dengan arif oleh semua pihak. Semua pihak harus saling mendukung untuk bisa melewati krisis yang terjadi saat ini. Diperlukan manajemen penanganan yang serius dari pemerintah dan dukungan penuh dari masyarakat agar krisis ini bisa kita lewati. Kondisi iklim global yang berpotensi mengalami perubahan tentunya membuka peluang bahwa kondisi ini akan terulang kembali pada tahun-tahun mendatang. Pemerintah khususnya pemerintah Propinsi Kepulauan Riau perlu membuat kebijakan jangka panjang untuk menanggulangi krisis ini. Pengelolaan sumber air baku juga perlu mendapatkan perhatian tersendiri, tanpa pengelolaan yang baik maka potensi curah hujan yang besar sepanjang tahun akan menjadi sia-sia. Tanpa kebijakan strategis dari pemerintah dan dukungan seluruh masyarakat bukan tidak mungkin kita akan mengalami masa-masa yang jauh lebih sulit daripada saat ini. ***

About kherjuli

PRESIDEN AIR

Posted on Maret 12, 2014, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: