Pemerintah Dituding Tak Serius


Sumber :  Tanjungpinang Pos  : Maret 6, 2014

Krisis Air

Krisis Air

Atasi Persoalan Krisis Air

Tanjungpinang – Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kota Tanjungpinang, Bobby Jayanto menuding pemerintah daerah, baik Pemerintah Provinsi Kepri maupun Pemko Tanjungpinang, tidak serius mengatasi persoalan krisis air bersih di Tanjungpinang. Buktinya, musim kemarau panjang yang terjadi saat ini sudah membuat orang menjerit di sana-sini.

Tidak hanya tidak serius, Bobby juga menyebut pemerintah tidak profesional. Buktinya, anggaran dari pemerintah pusat yang cukup besar untuk  pembangunan Instalasi Pengelolaan Air (IPA) di Sungai Gesek sampai saat ini tidak maksimal pemanfaatannya. Ditambah lagi, proyek Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) gagal dioperasikan hanya gara-gara tidak ada listrik.

“Air di Sungai Gesek tumpah ruah. Di sisi lain, masyarakat kesulitan air bersih. Di sini kita sudah melihat tidak profesionalnya pemerintah mengelola air bersih,” kata Bobby Jayanto, kemarin.

Tidak tersedianya listrik untuk instalasi proyek SWRO di Batu Hitam, sebenarnya hal lucu. Sebab, sudah seharusnya Pemko Tanjungpinang menganggarkan biaya untuk pengadaan listriknya.

“Jadi pekerjaan setengah-setengah. Pembangunan RO sudah selesai dibangun. Harus menunggu satu tahun lagi bagi bisa pengadaan listrik, inikah pekerjaan yang lucu,” tegas Bobby.

Untuk itu, mantan Ketua DPRD Kota Tanjungpinang ini mengatakan, jika tidak sanggup, sebaiknya diserahkan saja ke pihak swasta. Dipastikannya, pihak swasta akan mampu.

Sapu Rata Masyarakat
Sementara itu, hal sama juga diungkapkan Ketua Lembaga Swada Masyarakat (LSM) Air Lingkungan dan Manusia (Alim) Kepri, Kherjuli. Kherjuli juga menilai, pemerintah tidak optimal memberikan bantuan ke masyarakat yang kesulitan air. Kherjuli berpendapat, pemerintah tidak perlu lagi membahas perkara masyarakat mampu atau tidak mampu, tapi bantuan sudah saatnya diserahkan.

“Sekarang, kekeringan sudah menyapu rata masyarakat Tanjungpinang,” kata Kherjuli.

Beberapa daerah yang sudah kering saat ini, di antaranya Tanjung Unggat, Bukit Cermin, Ganet, Kampung Melayu serta Batu 9. Padahal, sebelumnya Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kota  Tanjungpinang memprakirakan, hujan baru akan turun bulan April mendatang.

Melihat gambaran ini, Kherjuli menyebutkan, sudah nyata pemerintah tidak serius menyediakan air bersih. Saat ini, Perusahaan Air Minum Daerah (PDAM) Tirta Kepri baru mampu menyediakan air untuk 41 persen masyarakat Kota Tanjungpinang.

“Dalam UU nomor 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air diamanatkan, pemerintah harus menjamin hak setiap orang agar mendapatkan air untuk kebutuhan pokok minimal 144 liter per orang atau 17 liter kubik per bulan untuk satu keluarga (KK),” ungkapnya.

Saat ini, tambahnya, kebutuhan pokok minimal saja sudah sulit dipenuhi. Terlebih, cadangan air di Waduk Sungai Pulai tinggal 70 cetimeter. Belum lagi, setiap hari mengalami penyusutan 5-10 sentimeter.

“Saya rasa tujuh sampai empat belas hari lagi hujan tak turun masyarakat kita akan chaos. Terjadi keresahan masyarakat karena kesulitan mendapatkan air bersih,” ungkapnya.

Diingatkannya jangan sampai atas masalah ini memaksa masyarakat ke depannya menggugat haknya. Wakil rakyat juga yang tak mampu memperjuangkan hak rakyatnya atas air bersih.(DESI-ABAS)

About kherjuli

PRESIDEN AIR

Posted on Maret 12, 2014, in Uncategorized and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: