Berharap dari Waduk Sungai Gesik


SUMBER :  HALUAN KEPRI  :  MINGGU, 23 FEBRUARY 2014 00:00

Berharap dari Waduk Sungai Gesik 

MUSIK kemarau panjang telah menyulitkan masyarakat dalam mendapatkan air bersih. Kini mereka hanya berharap dari ketersediaan air dari waduk Sungai Gesik yang telah diresmikan di penghujung tahun 2013 lalu.
Gubernur Kepri Muhammad Sani berjanji akan mengoperasikan Waduk Sungai Gesek. Hal ini ditegaskan Gubernur setelah mendengar bahwa PDAM selama dua minggu tidak mengoperasikan Waduk Sungai Gesek, Bintan yang pada akhir tahun 2013 diresmikan.

Gubernur mendesak agar PDAM Tirta Kepri segera mengatasi kekeringan yang terjadi di Tanjungpinang.

“Jika besok (hari ini,red) Waduk Sungai Gesek belum beroperasi dan tidak melayani masyarakat, jangan tanya PDAM, langsung tanya ke Saya. Karena Saya sudah meminta agar Waduk Sungai Gesek dioperasikan sesuai yang telah disepakati dulu saat peresmian yakni menyediakan 50 meter kubik per detik,” tegas Sani di sela Coffee Morning di Pulau Penyengat beberapa waktu lalu.

Sani berharap, Waduk Sungai Gesek dapat membantu mengatasi krisis air bersih di Tanjunginang. Disebutkan, kapasitas produksi air bersih Sungai Gesek sekitar 50 meter kubik per detik, mampu melayani 4.000 pelanggan. Jika mungkin, pemerintah juga akan melakukan teknik hujan buatan dengan menabur garam.

“Kita memang tidak bisa menghindar dari musim kemarau. Ini adalah hukum alam. Namun, jika musim kemarau terus berkepanjangan, (kita) akan memikirkan langkah lain. Apakah akan membuat hujan buatan dengan menabur garam agar hujan turun, itu akan dilihat ke depan. Tetapi Waduk Sungai Gesek dioperasikan dulu,” ujarnya.

Waduk Sungai Gesek diresmikan Gubernur pada akhir Desember 2013 lalu. Namun, PDAM Tirta Kepri belum memiliki anggaran untuk mengoperasikannya. Hal itu diakui Gubernur sebab DPA (Dokumen Pelaksanaan Anggaran) untuk PDAM Tirta Kepri baru diserahkan pekan lalu.

“Kita juga harus mengerti bahwa DPA baru diserahkan minggu lalu. Mudah-mudahan dalam pekan ini anggarannya sudah bisa dipergunakan untuk pembiayaan operasional pengolahan air bersih waduk ini,” terangnya.

Diketahui, pengoperasian Waduk Sungai Gesek di Kabupaten Bintan yang telah diresmikan Gubernur mengalami kendala yakni terganjal persoalan administasi antara Dinas PU Kepri dengan PDAM Tirta Kepri.

Hal ini diungkapkan Anggota Komisi II DPRD Kepri, Rudi Chua di Tanjungpainang. “Jika terus dibiarkan maka Tanjungpinang akan krisis air bersih. Ketinggian Waduk Sei Pulai yang menjadi andalan untuk memasok air ke Tanjungpinang semakin menurun debit airnya. Persoalan admistrasi harus segera diselesaikan,” ujar Rudi.

Bila Waduk Sei Gesek dioperasikan, kata Rudi, maka akan membantu kebutuhan air masyarakat daerah Bintan Centre dan sekitarnya.

Alternatif lain untuk mengatasi krisis air, kata Rudi, adalah secepatnya mengoperasikan Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) Batu Hitam. Ia berharap pengoperasian SWRO tidak menunggu peresmian oleh Kasal dan Gubernur pada 28 Februari mendatang.

“Sekarang kondisi air di Tanjungpinang ini sudah pada tahap kritis, sehingga tidak perlu menunggu peresmian. Lebih baik jalankan dulu, setelah itu baru diresmikan kan tidak masalah. Hal ini karena menyangkut kebutuhan masyarakat,” katanya.

Rencana Pipanisasi

Sementara itu, rencana Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Kepri membangun jaringan pipa ke pusat pemerintahan di Pulau Dompak disesalkan sejumlah pihak.  Perusahaan itu diminta untuk lebih mengutamakan kebutuhan masyarakat.

Anggota DPRD Provinsi Kepri, Rudi Chua, usai rapat paripurna di Gedung DPRD Provinsi di Dompak, Tanjungpinang belum lama ini mengatakan, saat ini pertumbuhan penduduk Tanjungpinang sangat pesat, pembangunan perumahan dan rumah toko (ruko) terus berkembang.

“Pesatnya penduduk dan pembangunan, bila tidak dibarengi dengan pengadaan air dan listrik maka akan menyusahkan masyarakt dan pengembang perumahan. Memang pengembang menyediakan sumur gali, tetapi ketersediaan air sumur terbatas. Contohnya sekarang ini yang dilanda kemarau berkepanjangan, semua sumur kering,” jelasnya.

Rudi menyarankan agar pengadaan air bersih ke pusat pemerintahan di Pulau Dompak menggunakan Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) atau air laut yang telah disuling menjadi air tawar yang ukurannya lebih kecil.

“Sumber air laut sangat banyak dan dekat dengan pusat pemerintahan. Alat-alat SWRO juga mudah didapat di Indonesia. Tidak perlu membeli ke luar negeri bila menggunakan mesin yang kecil. Saya rasa akan mencukupi untuk memenuhi kebutuhan air di pusat pemerintahan,” bebernya.

Ia malah mendukung bila PDAM membangun jaringan pipa yang baru ke daerah KM 8 Atas, asalkan tidak masuk ke Pulau Dompak terutama ke pusat pemerintahan.

“Kita dukung upaya PDAM membangun pipanisasi yang baru sehingga masyarakat yang selama ini belum teraliri atau terlayani air PDAM dapat merasakannya juga. Untuk saat ini jangan dulu membuat jalur ke pusat pemerintahan. Bila telah banyak stok air dan lebih, baru layani ke pusat pemeritahan di Dompak,” tegasnya.

Selain itu, tambahnya, PDAM dan pemerintah harus memikirkan pipa lama yang sering pecah di tengah jalan. Pipa yang telah berumur puluhan tahun itu perlu peremajaan agar tidak banyak air terbuang.

“Dalam hitungan minggu ini saja, PDAM telah memperbaiki lebih dari lima titik pipa air yang pecah. Itu semua terjadi di Jalan DI Panjaitan KM 8 dan 9. Jelas dengan seringnya pipa induk pecah, banyak air terbuang sia-sia. Ini harus dicari jalur pipa baru agar aman dan tidak sering pecah. Masih banyak jalur yang aman untuk pipa ini,” tegas Rudi.

Hal senada disampaikan Direktur LSM Air, Lingkungan dan Manusia (Alim) Kepri, Khairjuli. Ia menyayangkan rencana PDAM yang akan membuka jalur pipa baru hingga ke pusat pemerintahan di Dompak. Masyarakat kini membutuhkan air bersih karena kekeringan lebih dari dua bulan.

“Untuk pengadaan air bersih ke pusat pemerintahan, lebih baik dicarikan alternatif lain. Untuk saat ini, jangan menggunakan air dari PDAM. Tetapi, apabila PDAM telah memiliki cadangan air baku berlebih, boleh saja menyuplai ke Dompak,” jelasnya kemarin.

Sebelumnya, Direktur PDAM Tirta Kepri Abdul Kholik menyatakan bahwa tahun ini PDAM telah mengusulkan ke Dinas Pekerjaan Umum (PU) Provinsi Kepri anggaran sebesar Rp15 miliar terkait pemasangan jalur baru pipa induk.

Jalur baru pipa induk tersebut, kata Kholik, akan melalui jalur jalan KM 8 Atas dan masuk ke perumahan-perumahan di sekitarnya serta terhubung ke pusat pemerintahan di Dompak.

“Jadi (kita) telah buat maketnya. Insya Allah, tahun ini akan dikerjakan. Untuk air bakunya sendiri akan disuplai dari Waduk Sungai Pulai yang selama ini menyuplai air ke Tanjungpinang,” ujar Kholik. ***

BMKG: Awan Hujan Ditiup Angin

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Hang Nadim, Batam, memprakirakan wilayah Kota Batam, Kepulauan Riau, akan mengalami kekeringan karena tidak akan ada hujan sampai akhir Februari 2014.

“Berdasarkan pantauan kami, tidak akan ada hujan di Batam hingga akhir Februari,” kata Kepala BMKG Hang Nadim Batam, Phillip Mustamu.

Ia mengatakan, sebenarnya potensi pembentukan awan di wilayah Batam relatif banyak. Namun, awan-awan hujan itu tertiup hingga menjauhi wilayah Batam.

Berdasarkan catatan BMKG, hal itu sudah terjadi sejak 20 Januari 2014 hingga sekarang. Hujan tidak pernah turun di wilayah Batam dan sekitarnya.

Sebenarnya, kata dia, saat ini bukan musim kemarau. Karena, Batam dan daerah lain di Kepulauan Riau tidak mengenal musim melainkan hujan sepanjang tahun. Namun, kondisi angin yang menyebabkan belum ada hujan sejak akhir Januari 2014.

Panas yang melanda Batam juga memicu kebakaran lahan. Philip mengimbau masyarakat untuk tidak membuang puntung rokok sembarangan untuk menghindari kebakaran. Ini mengingat daun-daun yang mengering saat kemarau sangat rentan terbakar.

Panas berkepenjangan juga membuat, tanaman dan rumput di taman-taman kota menjadi gersang. Sepanjang mata memandang di wilayah Batam Centre terlihat rumput terlihat menguning dan kecoklat-coklatan. Bahkan sebagian tanaman ada yang mati yang sudah lama tidak disirami.

Kondisi gersang juga terasa di wilayah Batuaji, dimana debu telah menjadi ‘santapan’sehari-hari warga yang melewati jalan-jalan di perumahan. Diperparah lagi dengan truk-truk yang membawa tanah galian ke lokasi proyek. Hal ini sangat dikeluhkan oleh warga karena udara sudah tidak sehat lagi bagi anak-anak mereka.

“Kalau keluar rumah kami terpaksa memakai masker karena debu di jalan banyak sekali,” keluh Marni.

Jalan berdebu juga terlihat di Bintan dan untuk melakukan penyiraman jalan, pihak Pemkab mengaku sangat kesulitan karena mereka juga kekurangan air bersih.

Kepala Dinas Kebersihan Bintan, Raja Muhammad, mengatakan, penyiraman jalan menggunakan air sangat sulit. Sebab, saat ini Dinas Kebersihan juga kesulitan air.

Raja mengaku sudah mengerahkan pasukan kuning untuk membersihkan jalan di wilayah Kabupaten Bintan.

“Yang jelas jalan tetap kita bersihkan menggunakan sapu.  Namun untuk menyiram jalan dengan air itu agak sulit karena kita kekurangan air. Tidak mungkin mau mengambil air warga. Nanti kita bisa dimarahi warga,” kata Raja Muhammad.

Menurut Raja, armada untuk dinas kebersihan juga masih minim. Soalnya, baru ada dua unit armada kebersihan. Satu berada di Kijang dan satu lagi di Tanjunguban. (Rofik/jf)

About kherjuli

PRESIDEN AIR

Posted on Februari 27, 2014, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: