Masyarakat Tanjungpinang Menjerit


Sumber :  Haluan Kepri  : JUMAT, 14 FEBRUARY 2014 00:00

 SUTANA/HALUAN KEPRI Air di Waduk Sungai Pulai yang berada di perbatasan Tanjungpinang dan Bintan terlihat menyusut. Waduk penyuplai utama air di Tanjungpinang ini terancam kekeringan, Kamsi (13/2).

Dua Bulan Tak Turun Hujan

TANJUNGPINANG (HK) – Hampir dua bulan, Kota Tanjungpinang tak diguyur hujan.

Warga yang mayoritas bukan pelanggan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Kepri terpaksa harus membeli air tangki yang harganya mahal dan sumber airnya tak jelas.

Hal itu diungkapkan Direktur LSM Air, Lingkungan dan Manusia (Alim) Provinsi Kepri, Khairjuli kepada Haluan Kepri di Tanjungpinang, Kamis (13/2).

Satu meter kubik air tanki atau setara dengan empat drum berisi 250 liter air dihargai Rp50 ribu. Meski demikian, warga sangat terbantu untuk memenuhi kebutuhan MCK sehari-hari. Sedangkan untuk minum dan masak, warga terpaksa menggunakan air galon isi ulang yang dibandrol Rp5 ribu per galon.

“Bila dilihat dari data cakupan pelayanan PDAM saat ini baru sekitar 41 persen dari jumlah penduduk Kota Tanjungpinang. Berarti ada sekitar 59 persen yang mengandalkan sumber air yang berasal dari sumur dangkal, sumur bor atau sumber air alternatif lain,” ungkapnya.

Khairjuli menegaskan, masyarakat yang mengandalkan air selain PDAM, jumlahnya lebih besar dibanding yang menikmati air PDAM. Padahal, kata dia, setiap warga negara memiliki hak atas air yang sama di mata hukum.

“Ironisnya, justru warga kurang mampu yang harus bersusah payah mendapatkan air. Sekarang ini, kalau harus membeli air dari mobil tangki, belum tentu satu atau dua hari langsung diantar. Bisa sampai 3 atau 4 hari, bahkan tidak terlayani, sehingga harus menunggu beberapa hari atau terpaksa memanfaatkan air galon,” bebernya.

Selain itu, jelasnya, pengusaha air tangki juga kehabisan stok air karena musim kering. Padahal, dalam kondisi cuaca normal pun mereka sulit bicara soal kualitas air yang mereka pasok.

“Siapa yang bisa menjamin. Tidak ada lembaga pemerintah yang mengontrol transaksi jual beli air tangki ke masyarakat, baik harga maupun kwalitas. Apalagi dalam kondisi seperti sekarang,” katanya.

Air tanki, kata Khairjuli, cukup menolong warga yang kesusahan air. Namun ia juga mengingatkan agar warga lebih jeli membeli air tanki. “Harus dilihat dulu ciri-ciri fisik airnya melalui warna dan bau. Kalau tidak seperti biasa, sebaiknya untuk cuci dan keperluan kakus saja,” imbaunya.

Sementara air mandi, warga disarankan untuk menggunakan air bersih karena bisa saja menimbulkan masalah kesehatan seperti penyakit gatal-gatal pada kulit.

Jangan Salahkan Cuaca

Kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi dan Kota, Khairjuli meminta agar segera mengantisipasi musim kemarau yakni dengan berkoordinasi dengan PDAM dan pihak terkait lain sehingga masyarakat tidak terus menerus menderita.

“Pemerintah atau pihak terkait, jangan menyalahkan cuaca dan air yang semakin langka di Tanjungpinang. Tetapi bagaimana memanajemen lingkungan, sehingga saat musim kemarau berpanjangan tidak seperti ini. Ini bukan yang pertama tetapi sering terjadi,” pungkasnya.

Sementara seorang warga Tanjungpinang, Uni, pemilik warung makan di Komplek Bintan Centre di KM 9 mengatakan, hampir dua minggu aliran air PDAM tidak lancar. Untuk mencukupi kebutuhan warung dan sehari-hari, ia harus membeli air tanki. “Habis bagaimana lagi, air PDAM nyalanya hanya sebentar-sebentar saja. Ini sudah terjadi lama,” ujarnya.

Pantauan Haluan Kepri di Waduk Sungai Pulai di perbatasan Tanjungpinang dan Bintan ke arah Kijang, debit air baku di sana juga terlihat jauh menyusut.

Sementara Proyek Waduk Sei Gesek, kata dia, tidak memberikan pengaruh berarti bagi masyarakat non-pelanggan PDAM. Karena desainnya tidak langsung dihubungkan dengan area cakupan pelayanan baru yang selama ini belum tersentuh PDAM,” katanya.

Seharusnya, kata Khairjuli, pembangunan waduk diiringi dengan pembangunan jaringan distribusi baru, sehingga calon pelanggan dengan biaya dan waktu yang tidak terlalu besar langsung dapat merasakan manfaat proyek ini.

Sebanyak 4.000 pelanggan baru yang dijanjikan PDAM melalui proyek Waduk Sei Gesek di Bintan, kata dia, belum juga terwujud. Ia menilai, jumlah tersebut hanyalah hitung-hitungan teori jika kapasitas produksi airnya 50 liter per detik. Sebab, masih banyak pelanggan PDAM yang mengeluhkan air tidak mengalir di rumah mereka.

“Kami juga binggung melihat manajemen PDAM yang mengaku untung Rp3,5 miliar tiap tahun. Tetapi untuk membeli mobil tangki air saja tidak bisa. Jangankan memasang jaringan distribusi ke daerah yang belum terlayani PDAM,”  ungkapnya. (sut)

About kherjuli

PRESIDEN AIR

Posted on Februari 16, 2014, in Uncategorized and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: