Waspada Kebakaran di Musim Kemarau


Sumber :  Haluan Kepri  MINGGU, 09 FEBRUARY 2014 00:00

HAMPIR satu bulan musim kemarau melanda sebagian besar wilayah Provinsi Kepri. Kondisi cuaca yang panas sangat rawan terjadinya kebakaran. Untuk mengantisipasi hal ini Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tanjungpinang telah menyiapkan peralatan dan personil jika mendapatkan laporan kebakaran.

Musim kemarau yang berkepanjangan di Kota Tanjungpinang telah mengakibatkan banyaknya hutan terbakar. Hampir setiap hari dilaporkan ada hutan yang terbakar. Data terakhir kebakaran hutan di tanjungpinang telah menghanguskan lebih dari 15 hektar hutan dan terjadi lebih dari 20 kali. Kebakaran juga menimpa rumah penduduk.

Petugas Kebakaran Raja Mukmin yang merupakan Kasi Pencegahan dan kesiapsiagaan BPBD Kota Tanjungpinang menjelaskan, kebakaran hutan yang terjadi di Tanjungpinang pada minggu ini menghanguskan sekitar 6 hektar lebih yang terjadi di sekitar wilayah Senggarang.

“Saat ini sudah lebih dari 20 kebakaran hutan yang terjadi di Tanjungpinang, dan menghanguskan 15 hektar lebih. Sebenarnya di tanjungpinang ini tidak ada hutan melainkan semak belukar yang terbakar,” jelasnya di Tanjungpinang, Sabtu (8/2).

Raja Mukmin juga mengatakan, untuk mengantisifasi kebakaran yang lebih parah di musim kemarau saat ini. Pihak BPBD kota tanjungpinang khususnya petugas kebakaran selalu siap siaga selama 24 jam apabila ada kejadian kebakaran.

“Petugas kebakaran selama 24 jam siap siaga, bila ada kebakaran baik hutan dan juga kebakaran yang terjadi di bangunan atau perumahan. Setiap petugas kebakaran selalu siaga dengan cara bekerja membagi shif tugas. Jadi dalam sehari selama 24 jam petugas stand bay,” jelasnya.

Selain itu menurut Raja, bukan hanya kesiap siagaan petugas saja, tetapi kesiapan alat-alat kelengkapan pemadam juga selalu di kontrol, baik itu mobil kebakarannya, selang-selang, pompa dan lain-lainnya.

“Setiap hari kita cek dan dilakukan perawatan terhadap alat-alat kelengkapan pemadam ini. Sehingga saat mendapatkan informasi ada kejadian kebakaran dimana saja, petugas tinggal jalan,” ucapnya lagi.

Dan yang lebih penting lagi jelasnya, yaitu kelengkapan keselamatan bagi petugas pemadam kebakaran. Bila tidak dilengkapi dengan perlengkapan petugas kebakaran ini akan sia-sia dan bekerja kurang maksimal saat turun di lokasi kebakaran. Jadi tegasnya, kelengkapan keselamatan bagi petugas sangat utama sebelum turun di lapangan.

“Petugas kebakaran yang turun ke lapangan harus memperhatikan juga keselamatan dirinya. Bila tidak akan berakibat fatal dan juga dapat membahayakan orang lain. Selain itu petugas juga selalu melakukan latihan agar tidak gamang dalam menghadapi kebakaran dan juga akan mengetahui tugas masing-masing. Sehingga saat kejadian kebakaran baik di hutan dan di bangunan tidak semrawut dan kebingungan tugas masing-masingnya,” jelasnya.

BPBD Kota Tanjungpinang sendiri saat ini memiliki empat mobil kebakaran, untuk mobil dengan kapasitas besar ada dua dan kapasitas sedang juga dua, sementara anggota pemadam sebanyak 32 orang termasuk di bagian administrasi.

“Armada pemadam yang besar dengan kapasitas sebesar 6000 kubik satu dan yang sedang dengan kapasitas 4000 kubik satu sementra yang kapasitas 3000 ada dua unit. Jadi saat ini hanya ada 4 unit mobil kebakaran. Saat ini Pos kebakaran ada dua pertama di BPBD dan juga di Terminal Sei carang di KM 9 selain itu di pos Suka Berenang namun dalam tahap pembangunan,” jelasnya.

Kendala yang dihadapi jelas Raja yaitu, saat petugas akan menuju lokasi kebakaran dan berada di jalan raya. Hal ini dikarenakan masyarakat yang menggunakan kendaraan di jalan umum terkadang tidak memberikan ruang untuk melintas mobil.

“Apalagi saat berada di lampu merah. Kita kadang sampai menunggu lama, padahal kita sudah membunyikan serine dan peringatan untuk bisa melewati kendaraan umum itu. Pengendara seolah tidak peduli dan menghalangi jalan kita. Sehingga terkadang kita sedikit telat datang ke lokasi kejadian kebakaran dan ini sangat disayangkan,” ungkapnya.

Inilah perlu kesadaran dari masyarakat luas tambahnya, sehingga. Apabila mobil kendaraan pemadam kebakaran saat melintas di jalan raya dengan suara serine yang meraung-rangu agar memberikan laluan dan ruang bagi mobil ini.

“Sehingga bila sudah ada kesadaran dari masyarakat pengguna jalan raya ini, dipastikan kita tidak akan terlambat dalam hal pemadaman kebakaran di lokasi. Seharusnya bila saat menrima laporan ada kejadian kebakaran waktu maksimal tiba di lokasi maksmal hanya 10 atau 15 menit,” jelasnya

Selain itu juga tambahnya saat kejadian kebakaran diminta kepada masyarakat agar jangan meonton atau melihat dilokasi kejadian, karena ini menyulitkan bagi petugas dalam bekerja.

“Karena bila terjadi yang tidak diinginkan kepada masyarakat, jelas kita selaku petugas akan dipersalahkan dan ini juga menjadi kendala dalam penanganan pemadaman. Ini sering terjadi bila ada kejadian kebakaran masyarakat berdesakan ingin melihat, padahal kita selaku petugas sangat terganggu,” ungkapnya.

Raja juga meminta kepada masyarakat yang akan membuka lahan, untuk perkebunan dan lainnya agar tidak melakukan pembakaran hutan. Karena selain meyebabkan polusi udara juga bisa berakibat fatal bagi masyarakat.

“Saya meminta kepada pihak mana saja, bila akan membuka lahan agar tidak membakarnya. Patuhi peraturan yang berlaku sehingga tidak merugikan masyarakat banyak. Apabila tertangkap pelaku pembakaran kita akan laporkan dan akan lakukan proses hukum sesaui peraturan dan ketentuan hukum yang beralaku,” tegasnya lagi.

Ia juga menegaskan, kebakaran semak belukar ini disebabkan beberapa faktor, diantaranya dilakukan secara sengaja oleh pihak-pihak yang akan membuka lahan untuk pertanian dan perkebunan. Selain itu ada juga yang disebabkan oleh ketidak sengajaan.

“Kita memang belum dapat memastikan kebakaran ini apakah disengaja atau tidak. Hal ini dikarenakan pada saat pertama kejadian kebakaran semak belukar ini tidak ada yang melihat, namun tau-tau api sudah menjalar kemana-mana,” katanya.

Namun, menurut Raja Mukmin pengalaman sebelumnya memang ini disengaja karena untuk membuka lahan baru. Banyak bekas kebakaran yang dijadikan sebagai perkebunan maupun untuk pertanian.

“Selain itu kebakaran juga, ada sebab yang tidak disengaja, seperti masyarakat yang merokok atau sengaja akan membakar sampah, tetapi akibat angin bertiup kencang sehingga puntung rokok yang dibuang sembarangan itu berada di alang-alang dan daun kering dan saat membakar sampah tidak diawasi sehingga dengan cepat api merembet ke semak belukar dan terjadi kebakaran,” pungkasnya. ***

Disayangkan, Warga Sengaja Membakar Hutan

Sepanjang Januari tercatat sebanyak delapan hektar hutan di Kota Tanjungpinang terbakar diantaranya di Senggarang, Kampung Bugis, Madong, Kilometer 9, dan Kilometer 13. Aktivitas warga membuka lahan dengan cara membakar hutan menjadi penyebabnya.

Kepala Bidang Kehutanan, Pertambangan, dan Energi dari Dinas Kelautan, Perikanan, Pertambangan, Kehutanan, dan Energi (KP2KE) Kota Tanjungpinang Zulhidayat juga meminta hal yang sama kepada warga Tanjungpinang.

Zulhidayat mengatakan, warga yang sengaja membuka lahan dengan membakar hutan bisa dikenakan sanksi pidana sebab hal itu dilarang undang-undang mengenai lingkungan hidup.

Ia menyayangkan warga yang sengaja membakar hutan. “Kalau hutan dibakar, bagaimana nanti di tahun-tahun ke depan? Ini sangat berdampak pada lingkungan masyarakat sekitar. Tentunya juga dapat menimbulkan kerugian tidak hanya finansial juga ekologis. Kerugian ekologis belum bisa dihitung dengan uang seperti hilangnya fungsi serapan air, penghasil oksigen, penyerap karbon akibat hilangnya hutan yang terbakar,” tambahnya.

Terpisah, Direktur LSM Alim Kherjuli mengatakan, aktivitas membakar hutan adalah tindakan yang dilarang oleh undang-undang, baik undang-undang tentang kehutanan maupun perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, UU No.32 Tahun 2009.

“Karena (membakar hutan,red) dapat merusak fungsi hutan, ekosistem dan lingkungan hidup. Sejumlah pohon yg berfungsi sebagai penghasil oksigen menyerap karbon. Tata kelola air dan daya dukung tanah bisa jenuh akibat panas api ditambah dengan terik matahari,” jelasnya.

Kherjuli mengharapkan Dinas terkait terus mengawasi dan menyosialisasikan bahaya dan ancaman yang akan timbul akibat aktivitas membakar hutan terutama di musim kemarau, mengingat sumber air sulit didapat yang menyulitkan upaya pemadaman jika terjadi kebakaran.

“Bumi Bintan ini sudah keropos pasca tambang bauksit. Jangan diperparah lagi dengan kebakaran. Ini akan membuat suhu meningkat panas dan cadangan air bersih semakin hari semakin menipis,” pungkasnya

“Sepanjang Januari ini lebih dari 20 titik api yang terpantau. Sebagian besar hutan yang terbakar berada di Senggarang yang menghanguskan 6 hektar. Sedangkan 2 hektar di Kilometer 13,” ujar Kepala Seksi Kesiapsiagaan dan Pencegahan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tanjungpinang Mukmin.

Penyebab utama kebakaran, kata dia, adalah aktifitas warga membuka lahan dengan cara membakar hutan. Untuk itu, ia berharap warga untuk tidak membakar lahan atau membuang puntung rokok sembarangan. “Ada sanksi hukumnya. Jangan sembarang membuka lahan. Harus melapor dahulu jika mau membuka lahan ke Dinas terkait,” ujarnya. (zul)

About kherjuli

PRESIDEN AIR

Posted on Februari 11, 2014, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: