8 Hektar Hutan di Tanjungpinang Terbakar


Sumber :  Haluan Kepri  JUMAT, 07 FEBRUARY 2014 00:00

Membakar Hutan Bisa Dipidanakan 

TANJUNGPINANG (HK) – Sepanjang Januari tercatat sebanyak delapan hektar hutan di Kota Tanjungpinang terbakar diantaranya di Senggarang, Kampung Bugis, Madong, Kilometer 9, dan Kilometer 13. Aktivitas warga membuka lahan dengan cara membakar hutan menjadi penyebabnya.
“Sepanjang Januari ini lebih dari 20 titik api yang terpantau. Sebagian besar hutan yang terbakar berada di Senggarang yang menghanguskan 6 hektar. Sedangkan 2 hektar di Kilometer 13,” ujar Kepala Seksi Kesiapsiagaan dan Pencegahan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tanjungpinang Mukmin, Kamis (6/2).

Penyebab utama kebakaran, kata dia, adalah aktifitas warga membuka lahan dengan cara membakar hutan. Untuk itu, ia berharap warga untuk tidak membakar lahan atau membuang puntung rokok sembarangan. “Ada sanksi hukumnya. Jangan sembarang membuka lahan. Harus melapor dahulu jika mau membuka lahan ke Dinas terkait,” ujarnya.

Kepala Bidang Kehutanan, Pertambangan, dan Energi dari Dinas Kelautan, Perikanan, Pertambangan, Kehutanan, dan Energi (KP2KE) Kota Tanjungpinang Zulhidayat juga meminta hal yang sama kepada warga Tanjungpinang.

Zulhidayat menambahkan, warga yang sengaja membuka lahan dengan membakar hutan bisa dikenakan sanksi pidana sebab hal itu dilarang undang-undang mengenai lingkungan hidup.

Ia menyayangkan warga yang sengaja membakar hutan. “Kalau hutan dibakar, bagaimana nanti di tahun-tahun ke depan? Ini sangat berdampak pada lingkungan masyarakat sekitar. Tentunya juga dapat menimbulkan kerugian tidak hanya finansial juga ekologis. Kerugian ekologis belum bisa dihitung dengan uang seperti hilangnya fungsi serapan air, penghasil oksigen, penyerap karbon akibat hilangnya hutan yang terbakar,” tambahnya.

Terpisah, Direktur LSM Alim Kherjuli mengatakan, aktivitas membakar hutan adalah tindakan yang dilarang oleh undang-undang, baik undang-undang tentang kehutanan maupun perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, UU No.32 Tahun 2009.

“Karena (membakar hutan,red) dapat merusak fungsi hutan, ekosistem dan lingkungan hidup. Sejumlah pohon yg berfungsi sebagai penghasil oksigen menyerap karbon. Tata kelola air dan daya dukung tanah bisa jenuh akibat panas api ditambah dengan terik matahari,” jelasnya.

Kherjuli mengharapkan Dinas terkait terus mengawasi dan menyosialisasikan bahaya dan ancaman yang akan timbul akibat aktivitas membakar hutan terutama di musim kemarau, mengingat sumber air sulit didapat yang menyulitkan upaya pemadaman jika terjadi kebakaran.

“Bumi bintan ini sudah keropos pasca tambang bauksit. Jangan diperparah lagi dengan kebakaran. Ini akan membuat suhu meningkat panas dan cadangan air bersih semakin hari semakin menipis,” pungkasnya. (cw77)

About kherjuli

PRESIDEN AIR

Posted on Februari 11, 2014, in Uncategorized and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: