Hutan Mangrove Dijarah Pengusaha


???????????????????????????????

Gambar : Kherjuli

Sumber : Tanjungpinang Pos. 

Tanjungpinang – Ratusan hektare hutan mangrove atau hutan bakau di Tanjungpinang sudah dijarah. Kondisi mangrove yang sangat parah terlihat di sekitar pesisir kawasan Sei Jang, serta sisi jalan raya menuju pusat pemerintah Provinsi Kepri di Dompak.

Di Sei Jang saat initampak aktivitas penimbunan yang dilakukan pengusaha di mana luas lahan mangrove yang ditimbun mencapai 10 hektare. Beberapa warga menyebutkan, pengusaha yang menimbun mangrove itu beralasan akan membangun objek wisata.

???????????????????????????????

Gambar : Kherjuli

Pihak BLH Kota Tanjungpinang sendiri menyebutkan mereka tidak ada mengeluarkan Amdal untuk pembangunan di atas lahan bakau karena itu hutan lindung.

Menurut warga yang ditemui Tanjungpinang Pos, hutan mangrove yang ada di pesisir Sei Jang sudah dikuasai oleh salah satu perusahan. Dan, direncanakan dalam waktu dekat akan dibangun pusat wisata bermain dan kolam renang.

”Hanya saja, penimbunan bakau yang terjadi, ternyata aktivitasnya di luar dugaan kami. Puluhan hektare hutan mangrove ditebang dan ditimbun dengan cara serampangan.
”Tentu saja ini dampaknya sangat memengaruhi warga. Pemilik lahannya disebut-sebut dari pihak perusahaan Hotel Sunrise (eks Hotel Bali).

Dampak yang terjadi saat ini, salah satunya mencemari laut serta merusak biota laut.

”Selama ini, di sekitar hutan mangrove masih menjadi andalan warga untuk mencari ikan. Sekarang airnya sudah sangat keruh. Hewan-hewan ternak milik warga juga jadi terancam, karena airnya sudah tidak jernih lagi,” sebut Munaf salah satu warga Kampung Kolam RT04 Sei Jang.

Menurut Munaf, penimbunan bakau itu sudah cukup lama berlangsung. Awalnya, pihak perusahaan yang melakukan penimbunan hanya menimbun bagian tepi mangrove saja. Lama-kelamaan karena warga diam saja, hingga pihak perusahaan melakukan penimbunan besar-besaran dan kini hutan mangrove yang ada sudah habis.

”Aparat keamanan harus cepat bertindak. Pemerintah daerah juga mestinya jangan hanya diam, karena hutan mangrove merupakan hutan lindung dan tidak bisa dialihfungsikan.

Apalagi, hutan mangrove di Tanjungpianng sangat terbatas,” tegasnya.
Kini aktivitas penimbunan bakau itu sudah mendekati rumah warga di sekitar Sei Jang.

Selain itu, sambung Munaf, aktivitas penimbunan itu sudah menghilangkan mata pencarian nelayan tradisionil di Sekitar Sei Jang.

Munaf yang mengaku anggota kelompok organisasi nelayan setempat menyebutkan, dulunya, lokasi itu tempat nelayan mancing ikan serta banyak ditemukan kepiting bakau dan udang. Hanya saja, sejak aktivitas penimbunan bakau itu terjadi, warga sudah kehilangan tempat mencari sumber rezeki.

Selain, merusak lingkungan dan menghilangkan mata pencarian nelayan, dampak lain aktivitas penimbunan bakau itu juga mulai menghantui warga. Seperti banjir dan dampak kesehatan lainnya.

”Saat ini tidak ada lagi aliran pembuangan air sungai yang mengarah ke laut sehingga potensi banjir pasti terjadi dan belakangan ini mulai kami rasakan,” sebutnya.

Menurut Munaf, jika aparat tidak cepat menindak dan mempidanakan pengusaha atas penjarahan hutan mangrove serta pemerintah daerah hanya diam saja, ia meyakini warga setempat yang akan beraksi untuk menindak sendiri pengusaha nakal itu.

Selama ini, sambung Munaf, pengusaha yang menimbun bakau itu juga tidak pernah koordinasi dan menyantuni warga setempat. Padahal, dampak dari kegiatan ilegal yang mereka lakukan sangat dirasakan oleh masyarakat.

Sementara itu, aktivis lingkungan dari LSM Air Lingkungan Hidup dan Manusia (Alim) Provinsi Kepri, Kherjuli menegaskan, penimbunan hutan mangrove yang dilakukan di atas luas lahan lebih dari 10 hektar itu tentu sudah melanggar aturan dan mesti dikenakan sanksi karena telah melanggar aturan yang tertuang dalam Undang-Undang (UU) No 41 tahun 1999 tentang Kehutanan dan KUHP pasal 406 tentang pengerusakan hutan.

”Kita perlu teliti apakah izin penimbunan tersebut telah disetujui instansi terkait apa tidak. Andainya ada izin dari pemerintah daerah, tentu oknum pemerintah daerah yang memberikan izin itu juga mesti dipidanakan karena pemerintah daerah tidak memiliki wewenang untuk memberi izin penimbunan hutan mangrove.

Menurut Kherjuli penimbunan yang dilakukan pihak Hotel Sunrise Tanjungpinang dengan membabat dan menimbun lahan hutan mangrove itu artinya mereka sudah merusak dan menguasai hutan lindung negara.

”Aktivitas penimbunan ini sudah membabi buta. Saat ini, sungai-sungai yang ada sudah tertimbun dan palung-palung sungai juga sudah tertutup. Tentu saja dengan rusaknya padang lamun ini merusak biota laut yang selama ini hasilnya bisa dirasakan oleh masyarakat.

”Tidak mudah mendapatkan izin menimbun bakau. Selain, pengusahanya harus membuat hutan pengganti dengan jumlah yang lebih luas dan pohon bakau yang lebih banyak, baru kementerian kehutanan mengeluarkan izin. Kalau yang ini, mana hutan pengantinya? Ini mereka melakukan aktivitas sesuka mereka saja dan dipastikan tidak ada kajian uji amdal atau analisis dampak lingkungan bersama pihak instansi terkait. Anehnya, pemerintah juga seakan-akan membiarkan pembabatan hutan mangrove yang dijadikan lahan bisnis oleh pihak perusahaan hotel,” tutupnya.

Di tempat terpisah, Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Tanjungpinang, Gunawan menegaskan penimbunan lahan hutan mangrove dilarang.

”Hutan mangrove dilindungi dan tidak boleh ditebang apalagi digunakan sebagai lahan bisnis,” tegasnya.

Gunawan juga menegaskan pihaknya tidak ada mengeluarkan izin penimbunan lahan tersebut. ”Kami hanya mengawasi. Yang memberikan izin biasanya ke KP2KE,” tutupnya.(Suhardi)

About kherjuli

PRESIDEN AIR

Posted on November 19, 2013, in Uncategorized and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: