Krisis Air Adalah Krisis Perilaku


???????????????????????????????

Photo : Ilustrasi

Krisis Air adalah Krisis Perilaku. Karena sesungguhnya jumlah air yang ada didunia sampai dengan tahun 2050 diperkirakan tetap, sementara jumlah penduduk dunia ditahun yang sama meningkat menjadi 9 miliar orang. Ada peningkatan sekitar 2 miliar orang.

Dengan demikian, secara kwantitas, tidak ada persoalan dengan jumlah air untuk kepentingan hidup manusia. Namun dalam kenyataannya, peningkatan jumlah penduduk dunia itu dapat berdampak penting terhadap perilaku manusia dalam mengelola air. Banyak sekali persoalan yang ditimbulkan dari perilaku manusia itu terhadap ketersediaan air.

Bila perilakunya baik, maka baik pulalah kwalitas air yang dihasilkan. Tetapi sebaliknya, perilaku buruk manusia terhadap air akan menghasilkan krisis pengelolaan sumber daya air, daya rusak air dan hilangnya kesempatan dan hak-hak dasar penduduk untuk mendapatkan air minum dan lingkungan yang layak.

Krisis air adalah krisis pengelolaan sumber daya air. Air tidak dapat dipersalahkan. Air adalah ciptaan Allah swt, Tuhan Yang Mahasa Esa. Tidak mungkin Allah menciptakan zat untuk mencelakakan hambaNya. Tetapi sebaliknya, justru air adalah sumber kehidupan bagi manusia dan semua makhluk hidup lainnya.

Krisis air sering dikonotasikan sebagai krisis ciptaan Tuhan. Kita kerapkali mengabaikan perilaku buruk manusia terhadap air sebagai biang keladinya. Seakan-akan, Tuhan lah yang menghendaki air itu menjadi sebuah zat yang dapat mengancam kehidupan manusia. Padahal itu tidak benar sama sekali. Melainkan, perilaku buruk manusia itulah sebagai biang keladinya. Jadi, krisis air adalah Perilaku buruk manusia dalam mengelola Sumber Daya Air.

Krisis Air adalah Perilaku buruk manusia terhadap ciptaan Allah. Salah satu contoh perilaku buruk manusia terhadap air adalah karena manusia tidak pandai mengaktualisasi rasa syukur atas nikmat air yang Tuhan berikan itu. Padahal, bila kita pandai dan bijak, dengan bersyukur saja Allah akan tambah nikmat-Nya. Apalagi diikuti dengan perilaku bijak lainnya seperti menjaga daya dukung hutan dan lahan dan seterusnya.

Ungkapan ini, “Dah Terberak Baru Cari Air” menunjukkan lemahnya perilaku kita dalam Perencanaan Sumber Daya Air. Kalau sudah seperti itu, maka jangan salahkan air, tetapi salahkan perilaku manusia yang kurang pandai dan bijak dalam perencanaan, pengelolaan dan pengawasan Sumber Daya Air.

Seyogyanya sumber air baku untuk air minum sudah harus tersedia untuk menghadapi laju pertumbuhan penduduk. Dengan kata lain, Peningkatan debit air baku harus berada diatas laju pertumbuhan penduduk sehingga kita punya cadangan air baku yang mumpuni. Itulah contoh perilaku yang baik dalam pengelolaan Sumber Daya Air.

About kherjuli

PRESIDEN AIR

Posted on Oktober 7, 2013, in Uncategorized and tagged , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: