Proyek Air Tawar Nasip-nasipan


w1.gifProyek percontohan nasional penyulingan air laut menjadi air tawar dengan sistem Reverse Osmosis (RO) di Kota Tanjungpinang, sejak awal memang tidak terlalu kita dihandalkan untuk mengatasi kelangkaan air bersih yang dirasakan oleh lebih dari separuh penduduk Kota Tanjungpinang. Karena, disamping memiliki keunggulan, tentu terdapat banyak masalah. Apalagi itu proyek percontohan, sering dijadikan nasip-nasipan.

Pada awalnya, Kita memang tidak menentang Proyek RO itu. Daripada tidak ada peningkatan pelayanan air bersih/minum sama sekali. Bahkan kami menyambut baik dengan harapan manfaatnya dapat dirasakan warga. Dan kami minta jangan dijadikan proyek nasip-nasipan.

Minimal untuk memasok air yang langsung layak diminum kekapal-kapal maupun kehotel-hotel yang telah ada atau hotel besar yang akan dibangun. Sekaligus dapat menjawab keluhan Pak Bobby Jayanto selaku Ketua Kadin yang sering mengeluh akibat sejumlah Investor yang urung berinvestasi di Kota Tanjungpinang.

Air yang dihasilkan melalui sistem RO itu bisa dijual untuk kepentingan usaha dengan prinsip B to B (Bisness to Bisniss). Karena harga jualnya dapat dijangkau kalangan dunia usaha ketimbang masyarakat biasa. Meskipun demikian, karena itu merupakan proyek Pemerintah, tentu harus mengedepankan kebutuhan pokok sehar-hari warga.

Jangan beranggapan, mentang-mentang itu proyek percontohan (pilot project), jadi bisa berhasil ataupun gagal.

Memang, untuk mencapai tingkat keberhasilan yang optimal dibutuhkan waktu yang relatif panjang. Karena, dalam prosesnya nanti memerlukan anggaran yang relatif besar, kwalitas SDM yang memadai, keseriusan Pemda dan yang tak kalah penting, partisipasi masyarakat atau pelanggan. Khususnya terkait dengan harga jual air dimasa yang akan datang.

Proyek RO itu memang memerlukan anggaran yang relatif besar. Baru tahap konstruksi unit produksi berkapasitas 50 liter/detik saja, menyerap lebih dari Rp 50 milyar. Belum lagi masuk tahap distribusi dan pelayanan. Coba bandingkan dengan proyek Sei Gesek. Dengan kapasitas 100 liter/detik, anggarannya masih dibawah itu dan sudah termasuk unit air baku dan jaringan pipa primer.

Katakanlah anggarannya sama, tetapi kapasitas air yang dihasilkan oleh Instalasi Pengolahan Air (IPA) Sei Gesek sebanyak  dua kali lipat dibanding Proyek RO. Kemudian dapat dikelola secara konvensional dan berbasis air permukaan dalam wilayah sungai.

Keberadaan proyek Sei Gesek itu juga dipandang sangat strategis dalam menghadapi laju pertumbuhan perumahan/ruko diwilayah Tanjungpinang bagian timur dan utara. Termasuk kemungkinan mengantisipasi perkembangan kawasan Gesek di Kabupaten Bintan itu sendiri kedepan.

Meskipun demikian, debit air di waduk Sei Gesek itu juga masih kami pertanyakan, mengingat cathment area yang berfungsi sebagai tata kelola air, lahannya masih dikuasai masyarakat. Kalau tidak salah, tidak termasuk dalam kawasan hutan lindung.

Kami berharap, proyek RO itu kedepan dapat dikelola dengan optimal dan tidak dijadikan proyek nasip-nasipan sehingga kedepan, tidak menambah panjang daftar proyek air bersih/minum yang mubazir di kota ini.

About kherjuli

PRESIDEN AIR

Posted on September 27, 2013, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: