KEMERDEKAAN DAN KETERSEDIAN AIR


Artikel ini telah diterbitkan Tanjungpinang Pos

kliping1

Oleh : Kherjuli

Direktur NGO ALIM (Air, Lingkungan dan Manusia) Provinsi Kepulauan Riau,
Anggota Dewan Sumber Daya Air Provinsi Kepulauan Riau

Didalam alenia pertama pembukaan UUD 1945 menyebutkan, “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan”.

kliping3

Sejak tahun 1945 sampai dengan sekarang, doktrin tersebut belum berubah walaupun isi dari UUD 1945 itu sudah beberapa kali dilakukan perubahan (amandemen). Itu artinya, bangsa Indonesia masih memandang bahwa penjajahan diatas dunia tidak boleh ada dan harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan.

Tanpa terasa, sudah 68 tahun doktrin itu bertahan. Pasti kita semua sepakat bahwa apapapun bentuknya, penjajahan jangan pernah ada. Baik penjajahan yang dilakukan oleh bangsa lain terhadap bangsa kita, atau bisa jadi oleh oknum bangsa kita sendiri. Pokoknya, semua tindakan yang tidak bermartabat harus berambus (pergi) dari bumi pertiwi ini. Karena dapat mempersulit bangsa ini masuk kedalam pintu gerbang kemerdekaan yang didalamnya ada kesejahteraan umum, perdamaian abadi dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Salah satu kebutuhan dasar manusia yang wajib dipenuhi dalam rangka mewujudkan kesejahteraan umum, perdamaian abadi dan keadilan social adalah air minum. Air minum merupakan sumber kehidupan, dan bagian dari hak asasi manusia (HAM). Oleh karena itu, Negara wajib menyediakan air minum bagi memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari rakyatnya. Tanpa dibedakan oleh usia, jenis kelamin, suku bangsa dan strata lainnya, setiap warga Negara berhak atas air minum yang layak.

kliping2

Sungguh sangat tidak manusiawi (berperi-kemanusian dan per-keadilan) bila ada anak bangsa yang masih mengakses air yang tidak layak dikonsumsi. Bukankah kita sudah mendekalrasikan jati diri kita sebagai bangsa yang merdeka ? Apalagi sampai ada anak bangsa yang mati akibat penyakit diare dan penyakit lainnya akibat buruknya kwalitas air minum. Bangsa kita akan dianggap sebagai bangsa yang terbelakang dari pintu gerbang kemerdekaannya.

Oleh bangsa maju, kematian itu akan dianggap sebagai peristiwa yang sangat tidak terhormat. Sangat kontraproduktif dengan semangat dan jiwa kemerdekaan. Semoga peristiwa menyakitkan dan memalukan  itu tidak terjadi.

Pertanyaannya sekarang, apakah bangsa Indonesia telah masuk lewat pintu gerbang kemerdekaannya dan menikmati kesejahteraan umum dan keadilan sosial seperti dimaksudkan diatas ? Sebelum sampai kesana, mari kita lihat dahulu bagaimana potret air minum di negeri ini pada era penjajahan.

Air Minum di Era Penjajahan

Pada tahun 1905, Pemerintah Kota Batavia pun dibentuk. Kemudian pada tahun 1918, berdiri PAM Batavia. Sumber air bakunya berasal dari Mata Air Ciomas. Pada masa itu penduduk Jakarta kurang menyukai air yang berasal dari sumur bor yang berada di Lapangan Banteng karena diduga memiliki kandungan zat Fe/besi nya tinggi sehingga bila dipakai menyeduh teh, airnya berubah menjadi berwarna hitam.

Selain di Batavia, di Makassar juga terdapat Hamente waterleiding (PDAM) yang dibangun pada tahun 1924. Di Tanjungpinang, tepatnya dibatu 2 disamping Bak Resevoar PDAM, terdapat bekas tangki air yang terbuat dari beton. Belum diketahui secara pasti, apakah bak penampung air yang disalurkan dari sumber air yang berada di salah satu titik di lokasi hutan lindung bukit kucing itu dibangun oleh Pemerintah Hindia Belanda atau bukan ? Ada yang bilang bak air itu bekas peninggalan Belanda. Tetapi yang pasti, bekas bangunannya masih bisa dilihat dengan mata telanjang.

Dalam salah satu tulisan di Blog milik Nurali Mahmudi yang berjudul “Gelora Api Revolusi di Tanjungpinang Tahun 1945 – 1950” terungkap bahwa pada awal tahun 1946 terdapat sebuah hotel yang bernama Hotel Daja yang terletak di batu 2 Tanjungpinang. Sebuah hotel yang digunakan sebagai tempat rapat gelap para Revolusioner dalam menentang Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia.

Apakah ada hubungannya Hotel Daja ini dengan sumber air di hutan lindung bukit kucing atau bak air di batu 2 Tanjungpinang ? Belum dapat penulis jawab pada kesemapatan ini. Karena tentu harus ditelusuri jejaknya. Perlu bukti sejarah dan analisis yang tajam.

Tidak dapat dipungkiri, terdapat bekas sarana dan prasarana air minum yang dibangun sebelum kemerdekaan Indonesia. Pada sumber yang lain disebutkan, Perusahaan air minum sudah ada sejak jaman penjajahan Belanda, yaitu pada tahun 1920 dengan nama Waterleiding. Sedangkan pada pendudukan Jepang, perusahaan air minum dikenal dengan nama Suido Syo.

Dengan demikian berarti bangsa Indonesia telah dapat menikmati air minum dengan kwalitas yang lebih baik dibanding air yang mereka peroleh dari sumur bor. Dengan kata lain, sebelum bangsa ini sampai didepan pintu gerbang kemerdekaannya (17 Agustus 1945), pelayanan air minum dengan kwalitas yang lebih baik sudah dapat dirasakan bangsa ini. Walaupun hanya dinikmati oleh sebagian kecil anak bangsa ini.

Sehubungan dengan itu, maka tidak dapat dinafikan bila ada persepsi yang menyatakan, “sekejam-kejamnya Belanda, masih punya rasa peri-kemanusian”. Alasannya, air minum yang menjadi sumber kehidupan setiap orang, dapat dipenuhi kebutuhannya.

Saat tulisan ini dibuat, belum ditemukan data statistik berapa besar cakupan pelayanannya, kwalitas, investasi dan harga air yang harus bangsa ini keluarkan ketika itu. Apakah pelayanan air minum itu juga sudah menerapkan prinsip-prinsip berkeadilan, atau hanya didominasi oleh sekelompok kecil orang-orang dan kakibusuk Belanda, petinggi dan serdadu Belanda saja ?

Air Minum Di Era Pembangunan Millenium

Pada September 2000, melalui Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Milenium Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), telah diadopsi Deklarasi Milenium yang dijabarkan dalam kerangka praktis Tujuan Pembangunan Milenium (Millennium Development Goals/MDGs). Saat iut, ada 189 negara anggota PBB termasuk Indonesia sepakat menempatkan pembangunan manusia dengan indikator kemajuan yang terukur.sebagai focus pencapaian target MDG 2015.

Ada 8 pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium yang harus diupayakan Indonesia, antara lain pengurangan kemiskinan, pencapaian pendidikan dasar, kesetaraan gender, perbaikan kesehatan ibu dan anak, pengurangan prevalensi penyakit menular, pelestarian lingkungan hidup dan kerjasama global. MDGs yang didasarkan pada kesepakatan dan kemitraan global itu menekankan kewajiban negara maju untuk mendukung penuh upaya Indonesia.

Komitmen Indonesia untuk mencapai tujuan MDGs adalah mencerminkan komitmen untuk meningkatkan kesejahteraan rakyatnya dan memberikan kontribusi kepada peningkatan kesejahteraan masyarakat dunia. Karena itu, MDGs dijadikan acuan penting dalam penyusunan Dokumen Perencanaan Pembangunan Nasional. Pemerintah Indonesia telah mengarusutamakan MDGs dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN 2005-2025), Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN 2005-2009 dan 2010-2014), Rencana Pembangunan Tahunan Nasional (RKP), serta dokumen Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Pada akhirnya, komitmen itu bertujuan untuk mengurangi lebih dari separuh orang-orang yang menderita akibat kelaparan, menjamin semua anak untuk menyelesaikan pendidikan dasarnya, mengentaskan kesenjangan jender pada semua tingkat pendidikan, mengurangi kematian anak balita hingga 2/3, dan mengurangi hingga separuh jumlah orang yang tidak memiliki akses air bersih pada tahun 2015.

Laporan Bapenas 2010 memperlihatkan bahwa proporsi rumah tangga dengan akses air minum layak mencapai 47,71 persen dan proporsi rumah tangga dengan akses sanitasi layak sebesar 51,19 persen pada tahun 2009. Sementara target MDG untuk akses ke sumber air minum layak sebesar 68,87 persen dan sanitasi layak sebesar 62,41 persen dari total populasi. Maka sanga dibutuhkan perhatian lebih besar untuk dapat mencapai target MDG tersebut.

Waktu terus bergulir. Tinggal 2 tahun lagi bagi Indonesia untuk menyelesaikan dan mengakselerasi pencapaian target air minum dan sanitasi yang layak. Bebagai upaya terus dilakukan melalui investasi penyediaan air minum dan sanitasi, terutama untuk melayani jumlah penduduk perkotaan yang terus meningkat.

Untuk daerah perdesaan, Pemerintah Indonesia akan mengupayakan penyediaan air minum dan sanitasi melalui pemberdayaan masyarakat, agar masyarakat juga ikut memiliki dan bertanggung jawab dalam pengelolaan infrastruktur dan pembangunan sarana. Di samping itu, diharapkan pula ada upaya untuk memperjelas peran dan tanggung jawab pemerintah daerah dalam pengelolaan sumber daya air dan pengelolaan sistem air minum dan sanitasi yang layak di daerah.

Laju pertumbuhan penduduk yang tinggi dan tidak sebanding dengan pertumbuhan penyediaan air minum dan sanitasi layak, dapat membuat bangsa ini berada dalam tingkat kesenjangan yang tinggi atas hak dasar yang harus mereka dapatkan. Pada tahun 2009, sebesar 23,60 persen penduduk perkotaan memiliki akses ke air minum perpipaan, sementara di perdesaan hanya 7,44 persen penduduk.

Bila tidak ada upaya yang serius dari Pemerintah dan Pemerintah Daerah, maka bangsa ini akan semakin mengalami kesulitan untuk masuk melalui pintu gerbang dan sampai kepada tujuan kemerdekaannya. Bukankah UUD 1945, pasal 28 H telah mengamanatkan bahwa lingkungan yang baik dan sehat adalah hak setiap warga Negara Indonesia ? Selain itu, bukankah Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air dan Peraturan Pemerintah Nomor 16 tahun 2005 tentang Penyelenggaraan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM), telah mengharuskan Pemerintah dan Pemerintah Daerah bertanggung jawab terhadap penyediaan air minum bagi penduduknya dengan parameter mengalir selama 24 jam perhari dan kwalitas air yang langsung layak diminum, terhitung 1 Januari 2008 ?

Sebuah renungan suci disampaikan kepada seluruh Kepala Daerah (putera-puteri terbaik yang dimiliki bangsa ini) untuk terus memahami dan mengaktualisasikan tanggung jawab mereka terhadap pelayanan air minum yang berperi-kemanusia dan peri-keadilan. Jangan sampai  justru ditangan merekalah bangsa ini mengalami kesulitan untuk bergerak maju dari depan pintu gerbang kemerdekaannya menuju kesejahteraan umum dan keadilan sosial.

Andaikata ada Kepala Daerah yang tidak menjalankan tanggungjawabnya dalam menyediakan pelayanan air minum bagi penduduknya, itulah yang penulis maksudkan dengan oknum bangsa penjajah bangsa sendiri. Merusak cita-cita luhur pejuang kemerdekaan ini. Melanggar konstitusi dan Hak Asasi Manusia.

Air Minum Yang Berperi-kemanusian dan peri-keadilan

Seyogyanya, masyarakat miskin dinegeri ini tidak lagi dimiskinkan secara structural. Tidak lagi dirampas hak-hak dasarnya. Apakah lewat kebijakan politik yang bersifat menjajah atau lewat korupsi yang sistemik. Jangan biarkan Politisi busuk dan koruptor menjajah bangsanya sendiri. Sehingga fakir miskin dan anak-anak terlantar tidak buntu (stagnan) dan menunggu lama didepan pintu gerbang kemerdekaan. Mereka (fakir miskin dan anak-anak terlantar) dapat masuk kedalam pintu gerbang dan menikmati tujuan kemerdekaan ini. Kurun waktu 68 tahun semestinya sudah cukup sebagai batas waktu berbenah diri. Agar kesejahteraan umum dan keadilan sosial dapat diraih.

Masyarakat miskin yang seringkali tidak memiliki akses ke sumber air minum dan sanitasi layak harus dimerdekakan (dibebaskan dari beban sosial, politik, ekonomi dan lingkungan hidup). Minimnya akses air minum dan sanitasi layak yang berdampak buruk pada kesehatan dan mata pencaharian dan penyakit yang ditularkan melalui air hingga menimbulkan dampak biaya kesehatan yang tinggi bagi masyrakat miskin, adalah tindakan yang tidak sesuai dengan peri-kemanusian dan peri-keadilan. Jelas itu merupakan musuh berarti bagi bangsa yang merdeka.

Studi Bank Dunia 2006 mengungkapkan biaya kesehatan yang ditimbulkan akibat kondisi air dan sanitasi yang buruk adalah sebesar Rp 133 ribu per kapita. Dua penyebab utama kematian anak di bawah usia lima tahun (balita) adalah penyakit yang menyebar melalui kotoran dan penyakit yang menular lewat perantaraan air – yang diderita sekitar 30 persen penduduk Indonesia – seperti kolera, diare, dan tifoid, yang terkait dengan penggunaan sumber air minum tidak layak, sanitasi yang buruk, dan rendahnya kesadaran masyarakat untuk berperilaku hidup bersih dan sehat.

Jadi, air minum dan sanitasi yang buruk merupakan musuh bangsa. Sama seperti penjajahan di zaman pendudukan Belanda dan Jepang. Sama-sama menghilangkan nyawa. Bedanya, lebih mengarah kepada Balita sebagai sasaran korban, yang mati secara perlahan-lahan, tanpa letupan meriam, pertumpahan darah dan tindakan kekerasan orang dewasa.

Masyarakat miskin yang sering menghabiskan banyak waktu untuk mengambil air dari sumber yang jauh atau memanfaatkan sumber daya keuangan mereka yang terbatas untuk membeli air minum yang mahal atau membeli bahan bakar untuk memasak air, harus dicarikan solusi yang nyata. Menurut studi, masyarakat miskin membayar 10 hingga 20 kali lipat lebih mahal untuk membeli air bersih dibandingkan dengan harga jual air Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Sementara, orang kaya justru diberikan kemudahan dan subsidi Negara.

Kesenjangan yang tinggi antara orang miskin dan orang kaya, penduduk perkotaan dan pedesaan terhadap hak-hak yang sama merupakan pelanggaran Hak Asasi Manusia. Pelayanan air minum yang tidak beri-kemanusian dan peri-keadilan itu merupakan tindakan yang harus diakhiri karena dapat mencoreng hitam makna merah putih kemerdekaan ini.

*****

Sumber Data dan bacaan : Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia : ©2010 Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional /Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS)

About kherjuli

PRESIDEN AIR

Posted on Agustus 25, 2013, in Uncategorized and tagged , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: