Benahi Pemukiman Kumuh dan Lestarikan Tanaman Teratainya


Oleh : Kherjuli

Teratai kher modif

Tanaman Teratai disalah satu hotel bintang 5 di Pulau Bintan. Photo : Kherjuli

Dahulu, pohon teratai (Lotus) identik dengan daerah kumuh. Bunganya tidak berkelas. Dianggap bunganya orang-orang miskin. Tetapi sekarang tidak lagi. Bahkan hotel bintang lima memeliharanya sebagai tanaman hias. Seperti terlihat disalah satu hotel bintang 5 di Pulau Bintan.

 Banyak Turis manca Negara yang berduit, tepesona memandangnya. Bukan karena dinegaranya tidak terdapat daerah kumuh dan negaranya kaya raya, tetapi siapa sangka, kalau benar-benar dipelihara dan dirawat, akan mampu memukau banyak mata.

 Bunga Teratai berwarna kuning dan putih. Batang bunganya panjang. Memiliki kelopak bunga yang sama besar dengan bunga-bunganya. Daunnya berwarna hijau berukuran lebar. Bila diterpa sinar mentari dan percikan air, semakin memberikan keindahan dan menjalarkan  nuansa keteduhan bagi yang melihatnya.

 Daun teratai dapat berfungsi menghasilkan oksigen dan menjadi pelindung bagi tumbuhan kecil dan plangton dari teriknya sinar matahari dan derasnya hujan. Oksigen yang dihasilkannya langsung diserap air. Lalu dihirup kembali sebagai sumber kehidupan yang berkelanjutan. Udaranya sangat segar sekali.

 Mulai sekarang, mari kita benahi kawasan kumuh disekitar kita. Buang jauh-jauh anggapan yang menjadikan Teratai sebagai tanaman kumuh yang enggan dibudidayakan. Mari kita lestarikan tanaman berkelas dunia ini dilingkungan kita sekarang juga.

????????

Tanaman Teratai Pemukiman Kumuh. Photo : Kherjuli

 Sekilas gambaran tentang kawasan kumuh tidak pro lingkungan (pro-environment). Secara umum, tumbuhnya kawasan kumuh merupakan dampak dari pertambahan penduduk kota yang sangat pesat akibat tidak terbendungnya arus urbanisasi, di samping terbatasnya lahan yang diperuntukkan bagi permukiman yang layak. Di samping itu, sebagian besar warga yang tinggal di permukiman kumuh adalah masyarakat berpenghasilan rendah, yang tidak mampu membiayai pengembangan dan pemeliharaan rumah dan lingkungan permukimannya agar layak dihuni.

 Data Bappenas 2010 memperlihatkan bahwa pada tahun 1993, proporsi rumah tangga kumuh perkotaan sebesar 20,75 persen (Susenas) dan pada tahun 2009 sebesar 12,12 persen (Susenas). Memang telah terjadi penurunan sebesar 8,63 persen selama kurun waktu 16 tahun. Lalu Bappenas menargetkan proporsi rumah tangga kumuh perkotaan pada tahun 2020 sebesar 6,00 persen.

 Estimasi kondisi permukiman kumuh Indonesia didekati dengan menghitung proporsi rumah tangga kumuh perkotaan. Terdapat empat indikator yang digunakan yaitu ti dak adanya akses

terhadap sumber air minum layak, tidak adanya akses terhadap sanitasi dasar yang layak, luas minimal lantai hunian per kapita dan daya tahan material hunian. Sementara itu, penggunaan isti lah perkotaan merujuk pada istilah yang digunakan oleh BPS.

Sumber air minum layak adalah sumber air yang berasal dari sumber air berkualitas dan berjarak sama dengan atau lebih dari 10 meter dari tempat pembuangan kotoran dan/atau terlindung dari kontaminasi lainnya. Sumber air layak tersebut meliputi : air leding, keran umum, sumur bor atau pompa, sumur terlindung dan mata air terlindung, serta air hujan. Sementara air kemasan tidak dikategorikan sebagai sumber air minum layak.

About kherjuli

PRESIDEN AIR

Posted on Agustus 20, 2013, in Uncategorized and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: