Air Kaleng Jadi Komoditas Politik ?


Oleh : Kherjuli

DSC09933

Tradisi dan Sejarah Air Kaleng di Tanjungpinang

Entah sejak kapan air kaleng (soft drink) menjadi tradisi lebaran di Kampung Ku, Tanjungpinang. Yang aku tahu, diera tahun 70-an tradisi itu sudah ada. Aku masih ingat, betapa senangnya rasa hati ini ketika disuguhkan minuman kaleng di Hari Raya. Apalagi minuman tersebut boleh dibawa pulang. Satu kaleng begitu berarti bagi Ku. Apalagi sampai puluhan kaleng dengan berbagai warna, rasa, merk dan corak yang berbeda. Waktu itu, minuman kaleng dengan merk Go Go menjadi primadona Ku (anak-anak). Selain rasanya enak seperti jeruk Sunkist, harganya juga terbilang mahal dan sulit didapatkan dipasar bebas.

Wajar, karena minuman kaleng masih tergolong jenis minuman ber-kelas yang hanya dimiliki rumah tangga berkelas pula. Yaitu mereka yang berasal dari kalangan ekonomi menengah dan atas. Mereka yang memiliki jabatan penting di Pemerintahan. Mereka yang bekerja di Institusi yang berkaitan dengan jalur masuknya minuman kaleng dari Singapura ke Tanjungpinang. Seperti intstitusi Kepolisian, KKO atau Marinir dan Bea Cukai. Atau mereka yang bekerja sebagai pelaut dengan gaji dolar Singapura.

Oleh karena itu, dapat dipastikan, air kaleng hanya ada dirumah-rumah tertentu yang saya sebutkan diatas. Begitulah, air kaleng secara tidak langsung telah menjadi symbol strata kemewahan lebaran di Kampung Ku. Jadi, yang memiliki air kaleng dapat digolongkan strata atas. Sedangkan strata dibawahnya, ditandai dengan jenis minuman botol yang kami panggil dengan sebutan Limon (leamon). Lalu dibawah Limon ada Sirup dan air putih.

Pada era tahun 70-an, di rumah orang tua ku hanya mampu menyuguhkan tamu dengan jenis minuman sirup dan air putih saja. Aku masih ingat, merk sirupnya waktu itu adalah Rose. Baunya wangi. Satu botol sirup Rose, dicampur dengan air putih, dapat dijadikan puluhan gelas minuman penghias lebaran. Waktu itu, Es batu sulit didapatkan. Karena, rumah orang tua ku belum dialiri listrik. Selain itu, kulkas (alat pendingin makanan dan minuman) masih tergolong barang mewah yang hanya dimiliki kelas mewah pula.

Bila persediaan sirup sudah menipis, Ibu ku punya cara lain untuk membuat suasana lebaran tetap meriah. Ibu membuat minuman pengganti yang kami panggil dengan air selasih. Yaitu, minuman yang terbuat dari biji buah selasih, dicampur air dan diberi gula. Baunya lumayan wangi dan biji selasih terlihat seperti mata kucing bila terendam air. Kadang-kadang Ibu juga membuat minuman sejenis sirup yang bahan dasarnya dari jahe atau daun pandan.

Pada era tahun 80-an, strata lebaran di rumah orang tua ku sudah naik kelas. Dari air sirup menjadi air Limon. Itu seiring dengan kemampuan ekonomi orang tua Ku yang mulai berganjak naik kelas. Dari pesuruh sekolah berstatus pegawai harian lepas, telah menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) golongan buntut. Dari sekolah, sekarang telah berubah sector dan bekerja sebagai petugas pajak tameng anjing. Ya, aku masih ingat, ada pajak tameng anjing, pajak bangsa asing (WNI) dan lain-lain.

Pada era tahun 90-an, minuman kaleng dengan jenis dan merk serupa mulai diproduksi didalam negeri. Ada yang diproduksi di Medan dan ada pula di Jakarta. Barang-barang tersebut sudah mulai banyak ditemukan dipasaran lokal. Walaupun pada awalnya rasanya agak berbeda, tetapi lama-lama kelamaan sudah mulai mirip aslinya. Ditambah lagi, minuman impor sudah mulai berkurang keberadaannya dipasaran. Walaupaun masih dapat ditemukan, tetapi harganya jauh berbeda dengan barang dalam negeri.

Air Kaleng di Era Milineum

Pada era tahun 2000-an, minuman kaleng luar negeri sudah tidak lagi meramaikan pasar lokal. Pada era itu, Batam pun tumbuh sebagai kota Industri yang sangat maju di wilayah barat Indonesia. Sehubungan dengan itu, mak pada salah satu jenis dan merk minuman kaleng yang pernah Aku baca, tertulis diproduksi oleh Perusahaan … Kepri. Mungkin maksudnya diproduksi diwilayah Kepri, yaitu di Batam. Atau diimpor oleh Perusahaan yang berdomisli di Kepri. Ya,… memang harus dicari tahu kepastiannya.

Terlepas benar atau tidak, yang pasti sekarang minuman kaleng itu sudah menjadi tradisi lebaran di kampong Ku. Hampir tiap rumah dipastikan memilikinya. Harganya relative murah. Satu kes (berisi 24 kaleng) dibandrol antara Rp 50.000 – Rp 70.000. Tergantung jenis dan merknya. Maka wajar bila hampir tiap instansi Pemerintah dan swasta menyediakan minuman kaleng untuk pegawainya. Lebih praktis bila dibandingkan dengan paket daging sapi impor. Tidak heran bila hampir setiap bingkisan lebaran untuk masyarakat juga memasukan minuman kaleng didalamnya. Minimal satu kes dan rata-rata dua kes satu paket.

Air Kaleng Menjadi Komoditas Politik

Sejak tahun 2004, seiring pertama kali diadakannya Pemilu langsung, minuman kaleng menjadi daya tarik bagi Caleg untuk melakukan pendekatan dengan konstituennya. Dengan demikian, permintaan minuman kaleng menjelang lebaran diprediksi menjadi meningkat. Memang belum ada penelitian, tetapi hipotesa meningkatnya permintaan minuman kaleng untuk para caleg atau anggota Dewan sudah memenuhi logika dasar Ku. Trend sembako terkalahkan oleh tradisi air kaleng. Air kaleng telah menjadi komoditas Politik.

Terlebih lebaran tahun 2013 ini. Permintaan minuman kaleng diprediksi akan lebih meningkat. Seiring dengan masa kampanye/sosialisasi caleg yang telah dimulai sejak beberapa bulan lalu dan hari H Pemilu yang jatuh tidak lama lagi. Minuman kaleng semakin beredar ditengah masyarakat. Laksana kartu nama yang bertaburan dari satu komplek ke komplek perumahan lainnya.

Pesta Pemilu secara tidak langsung ikut memperkuat nilai-nilai tradisi air kaleng di Kampung Ku. Tidak semua daerah memiliki tradisi seperti itu. Buktinya, tradisi air kaleng tidak aku temukan di daerah lain di Jawa Barat. Seperti di salah satu kawasan padat penduduk di jalan Kopo Sukaleueur Bandung, di Garut, Tasik, Lembang, Bogor,  nyaris tidak ditemukan tradisi air kaleng dihari lebaran. Seperti pada lebaran tahun 2011 lalu pun demikian. Yang ada hanya air mineral dalam kemasan plastic dari berbagai merk. Si pemilik/Tuan rumah hanya menghidangkan jenis minuman teh atau air buah yang dibikin sendiri untuk tamunya.

Kebutuhan air untuk Industri

Satu kaleng rata-rata memiliki isi bersih 300 ml. Dengan demikian maka satu kes (24 kaleng) berisi 7.200 ml atau 7,2 liter. Jika satu rumah memiliki rata-rata 4 kes saja, maka terdapat 28,4 liter air. Kalau dikali 100.000 RT di Tanjungpinang, maka berjumlah 28.400.000 liter atau 28.400 M3 air. Sebuah perkiraan yang memperlihatkan bahwa penggunaan air untuk keperluan Industri ikut meningkat dengan adanya Tradisi air kaleng di kampong Ku.

Diakui bahwa belum ada data yang dikeluarkan secara resmi tentang jumlah konsumsi air kaleng di Kota Tanjungpinang pada hari Lebaran dari tahun ketahun. Namun demikian, secara kwalitatif dapat dipastikan akan ikut meningkat, seperti peningkatan kebutuhan daging, bawang merah, minyak goreng dan jenis makanan lainnya.

Tradisi air kaleng ikut memberikan kontribusi pada penggunaan air untuk kepentingan industri. Seperti halnya dengan air minum mineral, air yang telah diproses tersimpan dalam berbagai bentuk kemasan, yang setiap saat dapat dikonsumsi. Bedanya, air kaleng memiliki batas kadaluarsanya.

Dengan kata lain, bila telah melewati batas waktu yang telah ditentukan, maka air kaleng tersebut dinyatakan tidak layak dikonsumsi karena dapat berbahaya bagi kesehatan. Bila itu terjadi, maka ada sejumlah air yang Mubazir atau terbuang begitu saja. Itulah konsekwensi dari sebuah kegiatan industri. Dalam mengejar keuntungan, ada sejumlah air yang mereka sia-siakan.

Air Kaleng Dalam Hitungan Virtual

Bayangkan saja, untuk menghasilkan 300 ml air kaleng, ada sejumlah liter air yang digunakan dalam proses industry. Seperti contoh minuman Soya yang terbuat dari bahan baku Kedelai. Ada sejumlah air dihabiskan untuk menanam kedelai, merawat kedelai, membersihkan/mencuci kedelai, memasaknya, air untuk membuat kaleng, air untuk membuat pewarna kaleng/sablon,  air untuk karyawan pabrik minuman kaleng dan pabrik minuman Soya serta untuk MCK dan lain-lain. Banyak sekali air virtual yang tanpa kita sadari penggunaannya bukan ?

Bagaimana dengan air kaleng jenis rasa Strowbery, Apel, Jeruk, Kelapa, Cincau, Sarang Walet dan lain sebagainya. Untuk sarang wallet misalkan, berapa jumlah air yang digunakan untuk memelihara burung wallet, membersihkan kotorannya, atau air yang digunakan untuk menanam strowbery dan lain sebagainya. Secara virtual, tiap tetes air kaleng yang kita minum, ada sejumlah air yang secara virtual kita nikmati dan  habiskan.

Air Kaleng Sebagai Salah Satu Daya Tarik Mudik

Banyak faktor yang membuat orang asli Tanjungpinang yang berada diperantauan ingin segera mudik dan lebaran di Kampungnya. Selain ingin bertemu dengan orang tua, sanak saudara, kerabat dan handai tolan, mereka juga rindu dengan suasana lebaran di Tanjungpinang. Suasana yang mereka tidak temukan di daerah perantauan. Antara lain, suasana senandung hari raya, suasana kunjung-mengunjungi untuk bermaaf-maafan dan suasana menikmati minuman kaleng.

Suasana senandung hari raya adalah suasana yang penuh dengan senandung lagu-lagu selamat hari raya yang enak didengarkan. Lagu-lagu hari raya yang berasal dari negeri jiran Malasyia itu sering dikumandangkan mulai seminggu sebelum dan sesudah hari Raya, melalui Radio Singapura, Radio Malasyia dan RRI Tanjungpinang. Hampir setiap waktu dikumandangkan. Lagunya pun beraneka ragam. Sangat mengundang hati untuk cepat bertemu dengan keluarga.

Berikut cuplikan lirik lagunya :

“Selamat hari raya kepada saudara serta saudari

Setahun hanya sekali merayakan hari yang mulia ini”

“…Selamat pada Pemimpin, rakyatnya makmur

Suasana kunjung-mengunjungi untuk bermaaf-maafan adalah suasana dimana setiap orang bersiraturahmi dengan tetangga, kerabat, handai tolan dan sanak saudara dengan saling kunjung-mengunjungi dan bermaaf-maafan. Bila sudah mengunjungi maka bersiaplah menyambut kunjungan balasan.

Dengan kata lain, tidak cukup hanya bersalaman dan bermaaf-maafan didepan rumah atau pas ketemu dijalanan saja. Tetapi harus sampai kerumahnya juga. Disamping bermaaf-maafan kita disuguhi kue-kue dan minuman. Dengan begitu, maka waktu kunjung-mengunjungi pun bisa berlangsung lama. Bisa sampai satu minggu dan bahkan lebih.

Kalau didaerah lain, suasananya mungkin tidak seperti itu. Kalau sudah bertemu dan bersalaman, sudah cukup. Tidak peduli, mau bertemu dijalan kah, di mesjid atau ditanah lapang. Kalau sudah bertemu dan bermaaf-maafan, tidak diperlukan lagi kunjungan balasan. Apalagi jika kunjungan balasan itu dimaksudkan hanya untuk tujuan mencicipi  makanan dan minuman lebaran. Jarang sekali bukan ?

Berikut suasana menikmati minuman kaleng. Bagi anak-anak dan remaja, suasana ini merupakan suasana yang sangat menyenangkan. Aneka ragam rasa minuman kaleng menarik perhatian dan keinginan mereka untuk segera menikmatinya.

Namun bagi kalangan dewasa dan orang tua, aneka rasa minuman menjadi nomor dua dibanding aura kemeriahan meja tamu yang penuh dengan warna-warni minuman kaleng. Suasna tersebut mengundang mereka untuk segera mudik lebaran.

********

About kherjuli

PRESIDEN AIR

Posted on Agustus 5, 2013, in Uncategorized and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: