Pulau Lipan Diincar Bos Bauksit


pulau lipanLINGGA | Lentera Kepri – Pulau kecil tidak boleh ditambang karena menyalahi daya dukung lingkungan. Kegiatan ekonomi yang boleh dilakukan hanya sebatas wisata bahari dan perikanan tangkap.

Penegasan tersebut disampaikan Pius Ginting, Koordinator Bidang Kampanye Pertambangan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), menyusul rencana penambangan bijih bauksit oleh PT Telaga Bintan Jaya (TBJ) di Pulau Lipan, Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau.

“Berdasarkan peraturan, pulau kecil tidak boleh ditambang apapun alasannya. Karena keberadaan pulau kecil sebagai penyangga ekosistem pesisir dan laut sekaligus,” tegas Pius kepada Lentera Indonesia, Sabtu (3/8).

Apalagi, katanya, Pulau Lipan yang masuk dalam wilayah Desa Penuba, Kecamatan Selayar, Kabupaten Lingga, hanya memilik luas sekitar 64 hektar. Menurut Pius, jika penambangan bijih bauksit di pulau itu dilakukan, dampaknya cukup signifikan. Debu dari lokasi tambang akan menutupi terumbu karang dan menggangu kehidupan laut.

Demikian dengan tailing (kolam penampung limbah pencucian bauksit) dikhawatirkan dapat merusak hutan bakau, padang lamun (rumput laut), garis pantai dan keberlangsungan terumbu karang.

Terkait hal itu, Walhi berharap agar pemerintah daerah tidak gegabah dalam memberi izin kepada perusahaan tambang yang akan beroperasi di pulau kecil tersebut. “Jika penambangan bauksit di pulau itu dilakukan juga, kita minta agar pihak kepolisian segera mengambil sikap tegas. Karena itu sudah menyalahi peraturan,” tegas Pius.

Kepala Desa Penuba, Dwi Abdi mengatakan, rencana penambangan bijih bauksit di Pulau Lipan diketahui atas pengakuan Komisaris PT TBJ, Suryono, beberapa waktu lalu. “Awalnya Suryono mengatakan akan pembangunan resort di Pulau Lipan. Tapi dia bilang, sebelum resortnya dibangun bauksitnya mau diambil dulu,” terang Dwi.

Karuan, rencana penambangan bauksit berdalih pembangunan resort itupun ditolak oleh masyarakat Desa Penuba. “Saya beserta masyarakat di sini menolak. Karena kami tahu, pulau kecil tidak boleh untuk ditambang. Apalagi pulau itu dihuni sekitar 90 kepala keluarga dengan jumlah penduduk sebanyak 250 orang,” terangnya.

Informasi berkembang menyebutkan, terkait penolakan rencana penambangan bauksit tersebut, pihak PT TBJ kasak-kusuk menemui warga yang berdomisili di Pulau Lipan. Warga yang sebagian besar dari Suku Laut, diiming-imingi dana kompensasi sebesar Rp 2 juta per kepala keluarga/bulan.

Namun sejauh ini, informasi tersebut belum menemui titik. Menurut salah seorang pengurus PT TBJ, Iskandar, sampai saat ini pihaknya belum melakukan aktivitas apapun di Pulau Lipan, apalagi memberikan dana kompensasi seperti kabar yang beredar.

“Sebenarnya penambangan bauksit di Pulau Lipan sudah direncanakan sejak dua tahun lalu. Itupun kalau masyarakat setuju, kalau tidak ya tak jadi. Tapi sebagian besar warga Pulau Lipan setuju. Soalnya mereka mendapat manfaat dari penambangan itu,” kata Iskandar.

Demikian dengan beredarnya kabar soal pemberian dana kompensasi kepada warga Pulau Lipan, ditepis oleh Iskandar. “Setahu saya, sampai saat ini PT TBJ belum memberikan dana apapun kepada masyarakat Pulau Lipan,” ujarnya.(cky&tsk/www.lenteraindonesia.com)

Sumber : http://lenteraindonesia.com/berita-peristiwa-di-kepulauan-riau.html

About kherjuli

PRESIDEN AIR

Posted on Agustus 4, 2013, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: