Batas-batas Kemerdekaan Daerah Perbatasan


Oleh : Kherjuli

???????????????????????????????Didalam alenia pertama pembukaan UUD 1945 menyebutkan, “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan”.

67 tahun telah berlalu. Sejak Kemerdekaan Indonesia di Proklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945, Indonesia telah menjadi Negara yang berdaulat. Bangsa Indonesia telah menjadi bangsa yang merdeka.

Hak kemerdekaan untuk tidak dijajah oleh bangsa lain sudah didapatkan bangsa Indonesia melalui pertumpahan darah. Melewati sebuah pertaruhan yang dasyat. Hidup atau mati. Tak terhitung para suhada dan pahlawan bangsa berguguran untuk merebut kemerdekaan itu.

Beberapa tahun sejak Kemerdekaan Indonesia di Proklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945, bangsa Indonesia belum terbebaskan dari  tindakan yang tidak sesuai dengan peri-kemanusian dan peri-keadilan. Karena tentara Belanda masih berusaha ingin menjajah kembali. Namun, berkat Rahmat Tuhan Yang Maha Esa, akhirnya penjajahan lenyap. Serdadu Belanda pun hengkang dari bumi persada. Akhirnya, kemerdekaan yang telah diraih dengan susah payah itu tetap berada dipangkuan  ibu pertiwi.

Sejak saat itu sampai dengan sekarang, tidak ada Kapal perang asing, Pesawat Tempur Asing dan Tentara asing yang menguasai tanah air Indonesia. Tidak ada Bombardil, letupan meriam dan bunyi ledakan atau tembakan. Tidak ada lagi pembunuhan dan perampasan hak-hak hidup bangsa Indonesia. Tidak ada rasa kecemasan dan ancaman keselamatan jiwa dari ganasnya serdadu asing.

Ya, Serdadu asing memang tidak lagi menguasai tanah air Indonesia. Namun pengaruh asing dari kemerdekaan bangsa-bangsa asing terhadap kemerdekaan bangsa Indonesia masih tetap ada. Demikian juga sebaliknya.

Ada pengaruh negatif dan positif. Pengaruh itu akan selalu muncul sebagai konsekwensi kehidupan di era globalisasi. Beberapa pengaruh negatif yang dirasakan oleh bangsa Indonesia, terutama mereka yang tinggal di daerah perbatasan seperti praktek Pencurian Kekayaan Laut (Illegal Fishing), Eskplorasi Pasir, Gangguan Signyal Telepon Seluler, Gangguan Frekwensi Gelombang Radio, Praktek-praktek penyeludupan (smokel) barang-barang bekas/limbah, dan Tar Ball (Bola Tar). Mungkin masih ada lagi yang lain.

Disamping pengaruh negatif, banyak sekali pengaruh positif yang dapat bangsa Indonesia rasakan. Banyak diantara kita pasti sudah mengetahuinya dan bahkan kita rasakan sampai dengan hari ini. Salah satunyanya adalah penggunaan media Internet yang menjadikan bangsa lain menjadi dekat dengan kita dan bangsa kita dikenal bangsa lain.

Untuk menyangkal pengaruh-pengaruh negatif itu, sebagai bangsa yang merdeka, Indonesia memiliki politik luar negeri yang berlandaskan kepada komitmen untuk ikut serta dalam perdamaian dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Sebuah konsensus dalam menjalin hubungan bilateral dan multilateral dengan bangsa-bangsa lain yang ada di dunia.

Pada kesempatan ini, penulis akan memaparkan masalah Tar Ball yang kerap kali terjadi di peraiaran Bintan pada musim utara (sekitar bulan November – Februari). Ada beberapa pertanyaan yang menyelimuti pikiran kita. Apakah Tar Ball merupakan pengaruh dari –praktek-praktek kemerdekaan atau merupakan “penjajahan” model baru di daerah perbatasan ? Atau sebagai aksi balas dendam terhadap “perang” asap yang membuat penglihatan dan saluran pernapasan jutaan rakyat Singapura yang “terjajah” ? Atau sebuah “ancaman” atas harga oksigen (O2) yang didapatkan dari hutan Indonesia yang belum dibayar Singapura dan Malaysia ?

Tar Ball  “Menjajah” Bintan

???????????????????????????????Tar Ball adalah gumpalan minyak yang telah lapuk setelah mengambang di laut. Tar Ball merupakan Limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) yang dapat mencemari lingkungan. Tar Ball dapat terjadi akibat sisa-sisa tumpahan minyak.

Tar Ball kerapkali mengotori sekitar pantai Bintan dimusim utara. Tar Ball merupakan kado buruk praktek yang tidak bertanggung jawab dari perusahaan pelayaran asing di Selat Singapura yang mengakibatkan nelayan, masyarakat lokal dan pengelola wisata dirugikan.

Berbagai desakan dilontarkan oleh sejumlah LSM Lingkungan maupun Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia Kabupaten Bintan kepada Pemerintah/Pemerintah Daerah, agar praktek tidak bertanggung jawab itu tidak terulang kembali. Berbagai upaya telah dilakukan Pemerintah Kabupaten Bintan agar Tar Ball tidak singgah di peraian Bintan. Antara lain meminta penyelesaian masalah kejahatan lingkungan di laut dilakukan secara G to G (Government to Government) antara Pemerintah Indonesia dan Singapura. Namun sampai dengan Februari 2013 yang lalu belum juga membuahkan hasil. Semoga pada musim utara mendatang, tidak ditemukan Tar Ball disana.

Namun upaya itu belum membuahkan hasil. Kenyataannya, penyelesaian masalah Tar Ball itu  memang harus dilakukan oleh Pemerintah. Sebab, sumber limbah itu diduga berasal dari Selat Singapura yang merupakan jalur pelayaran internasional yang ramai dan sibuk.

???????????????????????????????Tidak menepis kemungkinan sumber limbah B3 itu berasal dari perusahaan pelayaran dalam negeri. Untuk itu diperlukan investigasi secara menyeluruh untuk menjawab anggapan yang berdampak kepada citra pariwisata Bintan. Harus ada political will Pemerintah untuk menyelesaikan masalah kemerdekaan lingkungan. Presiden SBY seyogyanya bersikap tegas terhadap masalah Tar Ball di Bintan, dengan memerintahkan Kapolri dan Menteri Lingkungan mengusut tuntas dan menemukan pelakunya. Suruh Negara tetangga itu minta maaf dan berjanji untuk tidak mengulangi lagi. Jangan sampai kedaulatan laut dan pantai kita dicemari  Tar Ball.

Kita apresiasi ketika Presiden SBY menyikapi masalah asap kabut yang singgah ke Negara tetangga kita beberapa waktu lalu. Presiden SBY tidak segan-segan meminta maaf dan memerintahkan Kapolri untuk melakukan investigasi menyeluruh. Sikap tegas seperti itu yang kita tunggu dalam menyikapi masalah Tar Ball di Bintan.

Waktu itu, Presiden SBY juga menyangkangkan sikap lambat yang dilakukan oleh Pemda Riau dalam mencegah kebakaran agar tidak meluas. Dari pengalaman itu, sebaiknya Gubernur Kepri juga menyurati Presiden SBY sehingga tidak disalahkan dikemudian hari. Memang ini bukan masalah kebakaran. Tetapi siapa yang bisa menjamin Tar Ball tidak mencemari pantai Berakit, dan kawasan wisata Lagoi, Bintan.

Sekarang musim utara belum tiba. Kondisi pantai Berakit dan Lagoi masih bersih. Para nelayan belum terusik perbuatan yang tidak berperi-kemanusian dan peri-keadilan. Mestinya kondisi seperti itu harus terus dipertahankan. Upaya pencegahan harus dilakukan. Sehingga ketika musim utara datang, Tar Ball tidak ikut serta.

Dengan demikian, dipastikan tidak menganggu arus kunjungan wisata, karena musim utara terjadi diujung tahun dan pergantian tahun yang ramai dengan kunjungan wisatawan manca Negara.

Itulah potret buram kemerdekaan di daerah perbatasan. Belum ada dinding atau tembok raksasa yang membatasi kedaulatan laut antar bangsa-bangsa yang merdeka. Hanya dibatasi oleh titik-titik ordinat dan peta kedaulatan masing-masing Negara. Tidak ada Pos Penjagaan laut yang dijaga oleh Marinir maupun Angkatan Laut.

Begitu pula dengan kedaulatan udara. Tidak ada dinding dan tembok yang membatasi masing-masing kedaulatan udara bangsa-bangsa yang merdeka. Tidak ada alat yang mampu menahan kuat arus frekwensi gelombang radio maupun signyal telepon seluler. Tidak ada sarana yang mampu menahan oksigen (O2) berhamburan ke Negara tetangga. Atau menahan kabut asap yang dapat menyerang kedaulatan Negara tetangga.

Semua bergerak bebas. Termasuk kentut para Koruptor penjahat bangsa. Sudah melakukan tindakan Korupsi di negeri sendiri, lalu melarikan diri ke Singapura dan kentut disana. Saat angin utara tiba, bau busuknya menuju tanah air seiiring kado busuk yang bernama Tar Ball.

Mestinya kemerdekan didaerah perbatasan sama seperti daerah lain. Masalah limbah B3 harus dapat diatasi dengan baik sesuai amanat UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Didalam UU 32/2009 itukan diatur juaga tentang lingkungan hidup terkait lintas Negara. Tinggal implementasinya saja lagi. Semoga Pemerintah mau turun tangan.

Harapan kita semoga para nelayan didaerah perbatasan dapat menangkap ikan dengan layak bagi memenuhi kebutuhan hidup mereka. Jangan sampai mereka terbebani akibat Tar Ball. Jangan buat hasil tangkapannya berkurang. Jangan bikin mereka kehilangan makna kemerdekaan. Pasca kenaikan BBM sudah membuat nelayan terbebani. Jangan ditambah lagi dengan masalah limbah yang mengotori per—kemanusian dan peri-keadilan mereka.

Tar Ball Information

“Tar Ball, the little, dark-colored pieces of oil that stick to our feet when we go the beach, are actualy remnants of oil spills. You may sometimes find the Tar Ball on our beach.

Due to the busy shipping routes through the Singapore straits and the irresponsible practice of shipping companies, residual amounts of tar currently washing up on our beach, brought in by the monsoon winds and current.

If any tar should get in contact your skin, you can wash it off cleaning oil and soap provided for you at the various beach showers.

Please rest assured that we are making efforts to keep our beaches clean at all times and we would like  to apologize for any inconvenience caused”.

About kherjuli

PRESIDEN AIR

Posted on Agustus 4, 2013, in Uncategorized and tagged , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: