Belajar dari Melayu Dulu


Sumber : Tanjungpinang Pos : Diposting oleh  pada 5 July, 20130 Comment

Kenduri Air 2013 (6)TAHUNAN: Perayaan Kenduri Air bersama anak panti asuhan di Bintan, kemarin. Kegiatan ini menjadi agenda tahunan LSM Alim.

f-abas/tanjungpinang pos

LSM Alim Gelar Kenduri Air

Tanjungpinang – Begitulah cara LSM Air, Lingkungan dan Manusia (Alim) memperlakukan air. Lewat acara tahunan yang diberi nama kenduri air atau pray for water, LSM ini mengajak penghuni Panti Asuhan Bina Insani, Kampung Sidomulyo, Bintan Timur, berdoa agar Allah SWT senantiasa memberikan air berlimpah untuk manusia.

Kenduri air 2013 dilaksanakan Senin (1/7), selain rasa syukur juga menumbuhkan nilai-nilai kearifan budaya lokal masyarakat Kepri dalam pengelolaan Sumber Daya Air.

“Dengan bersyukur, nikmat air itu akan Allah tambah. Sehingga mampu memberikan kesejahteraan dalam segala bidang,” kata Kherjuli. Memang segalanya Allah yang menentukan, namun manusia bisa berbicara seperti itu jika seyogyanya sudah melakukan upaya, tak hanya berpangku tangan.

Menurut Kherjuli, selain dengan pendekatan religi, pengelolaan sumber daya air juga harus dilakukan dengan pendekatan budaya. Saat ini tambahnya, ada kecenderungan bahwa pengelolaan air sudah terlalu berorientasi bisnis (profit oriented). Air sudah menjadi barang berharga.

Ia memastikan daya dukung lahan dan hutan semakin menurun akibat kepentingan ekonomi yang kurang terkendali. Dampaknya, ketersediaan air permukaan juga ikut menurun. Sementara jumlah penduduk terus bertambah. Untuk memenuhi kebutuhan yang tidak bisa ditunda-tunda dan gaya hidup serba instan, para spekulan menaikkan harga air dengan alasan air bersih semakin sulit didapatkan.

Masyarakat Melayu dulunya, kata Kherjuli, memiliki kearifan budaya lokal dalam pengelolaan sumber daya air. Walaupun mereka hidup di daerah hilir (pesisir) namun tidak mengalami kesulitan air bersih karena daerah tengah dan hulunya terjaga. Kondisi hutan dan daerah resapan air tambahnya masih terlindungi. Mereka tidak merusak hutan dan membangun rumah panggung di atas resapan air.

“Tetapi sekarang nilai-nilai budaya itu sudah terkikis oleh laju pertumbuhan penduduk, pembangungan dan rantai ekonomi,” tegasnya.

Jangankan kawasan resapan air, palung sungai saja ditimbun. Hutan dan bakau ditebang. Daerah hulu dan tengah berisi aktivitas pertambangan. Sebentar saja hujan, sudah banjir. Belum lama musim panas, sumur tadah sudah pada kering.
Anggota Dewan Sumber Daya Air Kepri ini mengingatkan, dahulu orang mengenal air jampi dan kenduri tolak bala. Sudah empat tahun ini Alim mencoba mengadopsi budaya itu yang dikemas menjadi kenduri air.

Ternyata Kenduri Air sudah terdaftar pada event air internasional melalui UN-Water. Semua dokumen kegiatan kenduri air disampaikan ke UN-Water.

“Alhamdulillah, ada juga yang tertarik dengan kenduri air ini. Mungkin karena wilayah Kepri berdekatan dengan Singapura. Selain itu, Bintan adalah salah satu daerah yang pernah diburu untuk pasokan air bersih negara kaya di Asia Tenggara itu,” jelas Kherjuli.(YUNI ASTUTI)

About kherjuli

PRESIDEN AIR

Posted on Juli 6, 2013, in Uncategorized and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: