Sungai Pulai Menjadi Korban PLN


Sumber : Tanjungpinang pos : Diposting oleh  pada 30 April, 20131 Comment
Dewan Telanjangi Kinerja PDAM

Bukan hanya masalah tersendatnya air ke rumah pelanggan, keruhnya air menjadi topik yang diangkat ke permukaan oleh Sarafudin Aluan, HM Sadar, Rudi Chua dan Surya Makmur Nasution. Keempatnya merupakan anggota DPRD Kepri dari Dapil Tanjungpinang. Sementara PDAM Tirta Kepri diwakili oleh direkturnya, Abdul Kholik.

Rudi Chua mengawali pertanyaan dengan mengapa kualitas air yang diterima pelanggan sangat buruk.

“Tarif PDAM dinaikkan per 1 Januari 2013, tetapi kualitas airnya tak bisa untuk diminum. Hanya bisa untuk mandi dan cuci piring,” tanya Rudi.

Selain itu ia juga minta keterangan soal jumlah pelanggan baru yang hanya 15 ribu. Ada yang sudah empat tahun mengajukan sambungan air bersih, tetapi belum juga dilayani sampai saat ini. Rudi pun mengkritik, ada calon pemasang baru tetapi sudah dikerjakan sambungan air di rumahnya. “PDAM harus transparan,” pinta Rudi.

Selanjutnya M Sadar juga menambahkan apa yang disampaikan Rudi, menurutnya penambahan pelanggan termasuk lamban. Padahal, bisnis air sudah jelas pelanggannya. Wakil rakyat yang satu ini pun menyinggung pembebasan lahan untuk pembangunan Dam Sungai Gesek yang menurutnya belum berjalan baik.

“Saya ingin tahu, apakah selama ini PDAM Tirta Kepri pernah berkoordinasi dengan Pemprov Kepri, Pemko Tanjungpinang dan Pemkab Tanjungpinang. Mengapa pipa cacing masih berserakkan di kompleka-kompleka,” tegas M Sadar.

Giliran Surya Makmur Nasution bertanya, penghargaan memang harus diberikan kepada PDAM Tirta Kepri yang pada 2012 lalu bisa untung Rp3 miliar. Namun Surya mengingatkan, agar penghargaan itu tidak mengurangi peningkatan pelayanan.

Karena, masih banyak keluhanan warga ibu kota, tentang kinerja PDAM belum maksimal, belum transparannya manajemen PDAM, terutama tentang penyambungan baru.

“Apakah air yang ada di Sungai Pulai langsung dialirkan ke pipa kemudian disalurkan ke pelanggan? Kalau air Sungai Pulai keruh apakah keruh juga yang masuk ke rumah pelanggan? Apakah tak ada penyaringan?” tanya Surya. Sementara Sarafudin juga menguatkan pertanyaan teman-temannya.

Kritikan keempat dewan, ditanggapai oleh Abdul Kholik. Ia menjelaskan, air yang mengalir ke warga keruh karena sistem area Sungai Pulai belum baik. Kalau turuh hujan di Tanjungpinang, air yang masuk ke Sungai Pulai warnanya keruh.

Begitu juga daerah lain, seperti di depan SMKN 4 Tanjungpinang, air dari SMKN 4 Tanjungpinang, mengalir ke Sungai Pulai dalam kondisi air keruh. Kalau hujan di siang hari, masih bisa diakali, supaya air yang masuk ke pelanggan tidak keruh.

“Kendala kita, kalau hujan di malam hari, tidak bisa mengawasinya. Kami memang memiliki standarisasi pengunaan obat zat kimia untuk menyernihkan air, tidak boleh terlalu banyak,” kata Abdul Kholik.

Ditegaskannya, sesuai dengan MoU tiga pemerintahan, Pemko Tanjungpinang, Pemkab Bintan dan Pemprov Kepri, supaya dua pemerintahan juga memiliki saham di PDAM Tirta Kepri.

“Rp30 miliar untuk pembangunan Waduk Galang Batang dari dana ABPN, tahun 2013 gagal dikerjakan, karena terkendala pembebasan lahan,” jawabnya.

Satu hal yang menjadi catatan penting pejabat ini ialah, kawasan Sungai Pulai menjadi korban PLN. Artinya, selama penerapan listrik bergilir di Tanjungpinang, yang paling banyak dimatikan adalah kawasan Sungai Pulai. Menginggat kawasan ini yang paling banyak menggunakan listrik.

“Kondisi sungai tidak layak lagi untuk melayani sambungan baru,” tegasnya. Karena itulah penyambungan dilakukan setelah melihat kondisi kawasan tersebut. Apakah termasuk kawasan yang masih tersedia air bersih atau tidak.

“Kami menjaga transparansi. Jika ada yang sudah bertahun-tahun mengajukan pemasangan tetapi belum terpasang, karena kawasan itu belum maksimal air bersihnya,” kata Kholik.

Soal transparansi juga dilontarkan Ketua Lembaga Air, Lingkungan dan Manusia (ALIM) Provinsi Kepri, Kherjuli yang meminta PDAM Tirta Kepri menjaga transparansi dalam manajemennya. Apalagi ada pernyataan dari pejabat PDAM, yang menyebutkan kalau PDAM memperoleh laba sekitar Rp3,58 miliar.

Kherjuli berharap agar PDAM dapat membuat laporan penyelenggaraan secara transparan, akuntabel, dan bertanggung jawab sesuai dengan prinsip tata pengusahaan yang baik. Katanya hal ini penting sebagai institusi yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan dasar publik.

“Kami senang bila PDAM ternyata sudah mampu meperoleh
keuntungan/laba pada penutupan tahun buku. Namun bilamana belum, jangan terlalu dipaksakan untuk tujuan Pendapatan Asli Daerah (PAD) atau prestise. Sementara masih banyak calon pelanggan yang belum terlayani karena alasan keterbatasan keuangan PDAM untuk membiayai jaringan pipa sekunder. Seperti di Kampung Mekar Jaya KM 7 dan perumahan lainnya,” pungkasnya.

Kherjuli juga menambahkan, belum laba juga tidak ada masalah. Yang penting, masyarakat dapat terlayani air bersih dengan adil dan merata dan Pemerintah Daerah Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau dapat mewujudkan tanggung jawabnya menyediakan air bersih dengan kualitas yang lebih baik lagi.(ABAS – ASTUTI)

About kherjuli

PRESIDEN AIR

Posted on Mei 5, 2013, in Uncategorized and tagged , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: