Ketika Laut Tidak Lagi Biru, Nasip Nelayan Semakin Tak Menentu


???????????????????????????????Oleh : Kherjuli

Laut ku memang masih biru, tetapi sayang pantainya kian berubah. Tidak lagi hijau dilihat dari laut, dan tidak pula biru dilihat dari darat. Jutaan pohon Manggrove (Bakau) mati sia-sia. Kayunya tidak sempat dibikin arang.

Tidak saja itu, jutaan planton mati tersiksa. Ikan Sembilang dan jenis hewan pantai lainnya mati seketika. Yang hidup, lari terbirit-birit. Karena tempat tinggal mereka sudah menjadi neraka jahanam.

???????????????????????????????Pasir putih dan lumpur bersih di Tanjung Buntung sudah menjadi beton dan aspal hotmix. Batu-batu indah di sekitar Dompak dan pesisir pantai negeri ini  banyak yang tertimbun bauksit.

Para nelayan pun beralih profesi. Mereka tidak lagi melaut, karena lautnya telah dilintasi Tug Boad dan Tongkang berisi dolar. Dari bobot dan nilai keuntungan yang didapat, memang sangat tidak sebanding Jongkong, Sampan atau Boad Pancung kecil terbuat dari kayu. Makanya mereka menghindar dari laut.

Belum lagi dihajar lumpur bauksit dan oli bekas. Mereka semakin menjauh dari laut. Sebab, sumber pencemaran itu membuat mereka susah menatap terumbu karang. Mereka yakin, tempat-tempat keramaian ikan telah berubah menjadi tempat persembunyian belut.

???????????????????????????????Meskipun demikian, laut ku masih tetap membiru bila dilihat dari atas langit yang biru. Tapi, bila dilihat dari pantai, tentu tidak sebiru dulu. Dilihat dari waktu, tidak sebiru lagi. Sebab, tak nampak lumba-lumba main kejar-kejaran. Yang ada justru sejumlah tongkang main kejar-kejaran dan bagi-bagi setoran dengan aparat terkait.

Aku pun sedih melihat perubahan kehidupan, dari laut yang sudah tidak lagi biru. Banyak kisah dan ratapan yang tak sempat keluar dari hati mantan nelayan. Mereka mencari makan dengan menjadi tukang kuli bangunan. Atau menjadi buruh lepas yang penghasilannya tak menentu. Lebih tidak menentu dibanding saat mereka menjadi nelayan dan berada ditengah laut yang ganas.

Dari pagi hingga petang, hidup melontang lantung dari satu kedai kopi ke kedai kopi lainnya.  Seolah-olah tengah menyusun rencana dan program bantuan untuk mantan nelayan. Atau untuk nelayan lainnya yang masih melaut, walau hanya bekerja secara pura-pura. Tujuannya, bukan untuk menangkap hasil tangkapan ikan yang banyak, tapi hanya untuk mendapatkan status agar bisa menangkap bantuan anggaran dan peralatan serta bantuan tunai dari Pemerintah. Itulah salah satu cara mereka untuk melawan pengusaha tambang dan penguasa yang telah merubah warna laut.

Kadang-kadang mantan nelayan itupun tidak dapat menahan rasa rindunya dengan laut. Merekapun bekerja sebagai buruh bongkar muat. Tenaganya tidak seberapa tapi perasaannya berlebihan. Mudah tersinggung dan cepat merajuk.

Ada lagi yang menjadi buruh di Pelabuhan dengan maksud ingin selalu dekat dengan pantai dan bisa menatap laut. Soal upah, tidak mereka hiraukan. Saking tidak menentunya, jarang ada rupiah yang bisa dibawa pulang untuk keluarga. Akhirnya mereka mengutuk dalam hati. Tak jarang pulak, anak dan Istri jadi sasaran sumpah serapah. Begitulah,.. bila laut sudah tidak lagi biru dilihat dari pantai. Begitulah,.. bila pantai sudah tidak lagi hijau dilihat dari laut.

Program Laut Biru (Blue Ocean Radio) yang digagas RRI Pusat bekerjasama dengan RRI Tanjungpinang, perlu diberikan apresiasi. Sebuah terobosan baru dalam mengajak semua pihak untuk selalu menjaga kelestarian bakau, pantai dan laut tentunya. Sebuah program yang patut ditiru oleh Dinas Kelautan dan Perikanan di Indonesia.

Wassalam.

About kherjuli

PRESIDEN AIR

Posted on April 24, 2013, in Uncategorized and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: