Air Kepung Kampung Sidomulyo


???????????????????????????????Banjir yang terjadi di Kampung Sidomulyo RT03 RW 12, Batu 11, Tanjungpinang Timur pada Selasa (9/4), merupakan peristiwa daya rusak air yang sepertinya disengaja, dengan cara mengepung aliran air alami dengan batu dan tanah.

Dari hasil investigasi yang ALIM lakukan pada Rabu (10/4) ditemukan tiga titik aliran air alami yang sepertinya disengaja dihadang dengan batu dan tanah. Tiga titik itu antara lain, satu titik merupakan rawa yang ditimbun dengan tanah bauksit, satu titik terhadang gorong-gorong yang terbuat dari semen dan satu titik lagi, diatasnya dijadikan jalan tanpa sarana jembatan. Sehingga membuat aliran air alami terkepung.

Banjir di Kampung Sidomulyo bukan dikarenakan drainase tersumbat melainkan karena aliran air alami dikepung dengan tanah dan bebatuan. Aliran air alami itu kemungkinan besar merupakan anak sungai yang muaranya kelaut.

b3Dengan adanya perubahan iklim dan pembukaan lahan untuk pembangunan, idealnya laluan air alami itu justru di perlebar atau diperdalam agar air mengalir dengan lancar dan tidak tertahan dibeberapa titik yang ada pemukiman penduduk. Tetapi kenyataannya tidak. Akibatnya, kampong Sidomulyo terkepung air dan merugikan warga setempat.

Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Tanjungpinang dituding kurang cermat dan tidak memperhatikan daya rusak air dan dampak lingkungan dalam pembuatan jalan. Mestinya dititik aliran air alami yang akan dijadikan jalan dibuat jembatan terlebih dahulu, atau dipasang gorong-gorong yang volumenye memenuhi standard debit dan ketinggian air, tetapi itu tidak dilakukan.

Jangankan membuat jembatan, mengganti dan menambah gorong-gorong yang sudah terpasang oleh swadaya masyarakat saja, tidak dilakukan. Ini malah ditimbun dan diaspal begitu saja. Sungguh sangat kelewatan !

b4Penimbunan rawa yang dilakukan oleh oknum warga yang mengaku pemilik lahan juga sudah tidak dapat ditolerir. Rawa itu merupakan tempat tinggal ribuan kubik air. Ada aturan yang mengaturnya dan tidak boleh sembarangan ditimbun begitu saja. Kurangnya kesadaran warga dan lemahnya pengawasan aparatur pemerintahan merupakan dua sebab rawa yang berada tidak jauh dari lokasi banjir itu ditimbun.

Bahkan, tidak saja dilokasi banjir itu saja, rawa-rawa di Kota Tanjungpinang ini banyak yang sudah berubah menjadi tempat tinggal manusia dengan motif mencari keuntungan sepihak tanpa mempedulikan daya rusak air dan dampak lingkungan.

Banjir di Kampung Sidomulyo kemaren itu hendaknya dijadikan pelajaran bagi kita semua betapa sumber daya air dan lingkungan hidup harus dikelola dengan baik. Bila tidak, kedepan Kampung Mekar Jaya Batu 7 lagi yang dilanda banjir karena palung sungai, rawa dan mangrove dekat jembatan di Jalan Peralatan Km 7 terkesan dibiarkan rusak.

???????????????????????????????

About kherjuli

PRESIDEN AIR

Posted on April 19, 2013, in Uncategorized and tagged , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: