Gerakan Sejuta Melayu, Hidupkan Kembali Roh Melayu


Kherjuli

Oleh : Kerjuli, Aktivis Air dan Lingkungan Hidup Kepri

Sempat Ingin Pindah Suku

Waktu itu, sekitar dua tahun yang lalu, Saya mendatangi Kantor Kesatuan Bangsa Politik dan Perlindungan Masyarakat (Kesbangpolinmas). Saya bertemu dengan salah seorang Pegawai yang ada disana. Tanpa basi-basi, saya langsung meminta formulir proses pindah suku. Saya berpikir, pindah kewarganegaraan saja bisa, apalagi hanya sekedar pindah suku.

Debatpun terjadi. Tanya jawab berakhir pada sebuah kesimpulan. Tidak ada layanan pindah suku di kantor itu. Tidak ada legalitas formal yang dikeluarkan oleh pemerintah untuk menguatkan bahwa seseorang/individu itu benar berasal dari suku bangsa tertentu. Yang ada hanya pengakuan terhadap organisasi/lembaga social/ormas yang menaungi suku bangsa tertentu.

Lantas, kemana lagi Saya akan mengadu? Apakah ke Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil, ke Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Kantor Camat, atau ke kantor LAM seperti yang disarankan teman Saya?

Ternyata pindah suku tidak semudah yang Saya bayangkan. Tidak semudah membalikkan telapak tangan. Saya justru ditertawakan. Dianggap mengada-ada. Padahal Saya serius dan saat itu emosi memang sudah tidak bisa dibendung. Ingin segera pindah dari suku melayu. Tetapi kenyataannya lain, pindah suku tidak seterang pindah kewarganegaraan.

Beberapa alasan mengapa ingin pindah dari suku Melayu saat itu: Pertama, Saya merasa, roh Melayu di daerah ini telah mati suri. Marwah Melayu lenyap dari bumi. Walaupun baunya wangi, tetapi isinya busuk. Ya, Melayu bagaikan durian busuk. Ada ulat yang hidup disebalik wanginya. Ulat-ulat itulah yang menjadikan Melayu jatuh harga. Ulat-ulat dari luar yang masuk kedalam dan ingin berkuasa dengan politik ekonominya. Lewat intrik dan rekayasa.

Kedua, Saya melihat, pengganti saya sudah ada. Lebih dari satu orang. Mereka adalah elit-elit berduit yang “dimelayukan” dengan gelar Melayu. Seperti gelar Datok, Datin dan lainnya. Bukan main, mereka begitu disanjung-sanjung oleh si pemberi gelar. Nama mereka diharum-harumkan melebihi wangi puspa pusaka. Padahal sesungguhnya, bukan asli bunga lokal.

Ketiga, Saya yakin, setiap waktu akan lahir putra-putri melayu dari tetes darah dan rahim melayu. Tak melayu hilang dibumi. Saya jamin, hilang satu akan tumbuh seribu. Termasuk populasi orang yang dimelayukan, akan semakin bertambah. Seandainya yang elit diantara mereka berkuasa. Tentu ibarat semut dengan gula. Tak peduli, mengenal adat atau tidak. Tahu marwah atau tidak. Padahal, Saya dan orang asli Melayu yang dilahirkan dari tetesan darah dan rahim Melayu, diperkenalkan adat dan marwah sejak dari susuan dan buaian (bayi) lagi. Enak-enak saja mereka (sekelompok kecil orang melayu) yang memberi gelar itu. Besar kepala lah mereka yang dimelayukan itu.

Keempat, Saya ingin hijrah bersama istri dan anak-anak ke Bandung untuk mencari kehidupan yang lebih baik lagi. Saat itu yang Saya rasakan, negeri ini bukan negeri yang nyaman untuk cari makan. Meskipun terbilang negeri yang kaya, tetapi penuh dengan bisikan setan. Orang asli Melayu sering dipecundang. Mau diadu domba oleh kedudukan dan uang yang tak seberapa nilainya. Sehingga Saya berpikir, hujan emas di negeri orang akan lebih baik dibanding hujan bauksit dan dusta di negeri sendiri.

Itulah beberapa alasan mengapa emosi ini tidak bisa dibendung lagi dan ingin segera pindah dari suku Melayu ketika itu.

Andaikan dulu saya jadi pindah dari suku Melayu dan hidup di Bandung, Saya akan berusaha menjadi warga Bandung yang baik. Saya akan berusaha untuk tidak pernah bermimpi menjadi Pangeran di tanah Pasundan. Menjunjung tinggi adat istiadat dan nilai-nilai budaya lokal. Membangun kehidupan yang lebih baik secara bersama-sama.

Saya ingin seperti saudara-saudara saya (non melayu) yang ada di negeri ini. Mereka orang dari luar dan mencari makan di negeri ini dengan damai. Mereka sungguh santun dengan kerjas keras saling membangun. Sebenarnya, hanya sebagian kecil saja mereka (non melayu yang dimelayukan) yang lupa diri dan ingin berkuasa di negeri kami. Selebihnya, mereka sudah seperti saudara sekandung.

Kita bisa merasakan damainya negeri dan mencari makan bersama-sama. Kita masih bisa duduk berkendaraan mengangkang. Tidak ada paksaan menggunakan jilbab. Belum ada Perda lokal yang mengatasnamakan agama, budaya dan kerarifan lokal yang memberatkan pendatang. Enak bukan ?

Meskipun demikian, Saya berharap, biarkan Melayu menjadi Raja dan Tuan Rumah di negerinya sendiri. Sekarang era otonomi daerah. Kami akan menjamu tuan dan puan dengan sebaik-baiknya. Jangan berebut makanan, apalagi kekuasaan. Karena negeri ini bertuan.

Upaya untuk pindah secara resmi dan terhormat dari suku Melayu tak terwujud. Hijrah ke Bandung juga gagal. Saya masih menjadi bagian dari Melayu dan hidup bersama keluarga tercinta di negeri bertuah ini.

Sejak saat itu, Saya sudah tidak lagi menghiraukan Melayu dalam dinamika politik, ekonomi dan budaya. Saya kembali kepada tanggungjawab dan kapabilitas sebagai aktivis air dan lingkungan. Ya, sekuat tenaga dan daya upaya untuk menjadikan negeri ini berAIR tanpa bencana. Mengajak semua orang untuk senantiasa peduli terhadap air dan lingkungan. Jangan membuat kerusakan di bumi Melayu.

Mendukung Gerakan Sejuta Melayu

Ketika membaca artikel yang ditulis sahabat Saya, Oktavio Bintana di media cetak dan online yang berjudul, “Gerakan Sejuta Melayu”, hati Saya tersentuh. Sebelumnya, Beliau juga menulis artikel, “Jangan pernah mimpi menjadi Raja di negeri kami”.

Menurut Saya, dua tulisan itu dapat menghidupkan kembali roh Melayu yang telah mati suri itu. Dapat menyacakkan kembali marwah Melayu ke bumi. Dapat menjadikan durian lokal lebih berharga, baunya harum dan isinya sedap serta bebas dari ulat. Dapat membangkitkan semangat untuk menjadi orang Melayu yang berbudaya. Sebagai peringatan bagi non Melayu dan non Melayu yang dimelayukan untuk tidak bermimpi menjadi raja di negeri ini. Sebagai rambu-rambu bagi pemimpin Melayu untuk tidak lupa diri, membangun ekonomi yang kuat dikalangan masyarakat Melayu.

Bagi Saya, tidak ada alasan untuk tidak mendukung Gerakan Sejuta Melayu itu. Karena tujuannya memang ingin memberdayakan masyarakat Melayu secara ekonomi agar untuk menjadi tuan di negerinya sendiri.

Peningkatan Kapasitas LAM

Tujuan Gerakan Sejuta Melayu lainnya adalah untuk meningkatkan kapasitas kelembagaan, mendorong kiprah dan peran LAM untuk menjadi payung adat yang kuat dalam melindungi adat istiadat masyarakat Melayu dan menjadi payung budaya dari semua budaya yang ada di negeri Melayu ini.

Menurut Saya, tidak saja dari dua variable itu saja, yakni adat-istiadat dan budaya, melainkan juga kepada variable kehidupan lainnya. Sebab, apalah artinya adat dan budaya, bila masyarakat Melayu masih mengemis kursi, kedudukan, jabatan dan menjadi raja dirumahnya sendiri. Apalah artinya Cogan, bila orang Melayu masih mengais sisa-sisa makanan non Melayu yang dibuang. Apalah artinya Tanjak, kalau masyarakat Melayu di level bawah masih terancam kelaparan, kebodohan dan kemiskinan (ekonomi). Apalah artinya Petuah Alam, bila bumi Melayu masih terus dirusak. Tetapi sebaliknya, apalah arti semuanya itu bila tidak beradat, berbudaya dan bermarwah.

LAM diharapkan dapat berfungsi seperti Majlis Perwakilan Rakyat (MPR) daerah. Atau Majlis Tertinggi daerah, yang mampu memberikan saran dan masukan serta pertimbangan kepada Gubernur/Bupati/Walikota untuk melahirkan kebijakan yang bijak, bermarwah dan bermartabat, demi kesejahteraan masyarakat Melayu dan kepulauan riau umumnya.

Kita berharap, kehidupan berpolitik, ekonomi, sosial, pendidikan, lingkungan hidup dan bidang-bidang lainnya dapat terus ditingkatkan melalui lembaga LAM. Harus ada reformasi regulasi, kelembagaan, dan kebijakan di tubuh LAM itu sendiri. Soal aturan main (AD/ART) LAM, bisa saja disesuaikan sepanjang bisa implementasikan dan memiliki tujuan dan manfaat yang lebih besar daripada mudoratnya.

Kepada saudara-saudara (non melayu dan non melayu yang dimelayukan) Saya berharap untuk selalu memegang peribahasa ini. “lebih baik hujan batu di negeri sendiri, daripada hujan emas di negeri orang”. Artinya, biarkan kami yang punya negeri ini memanen emasnya. Jangan khawatir, kesejahteraan akan dibagikan secara adil. Tetapi ingat, jangan menambah pemerataan kemiskinan di negeri kami.

Saran Saya kepada generasai penerus, jangan pernah terpikir untuk pindah dari suku Melayu. Jangan pula sampai rela menggadaikan marwah Melayu untuk kepentingan pribadi. Jangan mau dipecundang. Apalagi sampai diadu-domba.***

Sumber : www.Kepribangkit,com

About kherjuli

PRESIDEN AIR

Posted on Februari 6, 2013, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: