Melayu Satu, Melayu Maju


Sumber : www.kepribangkit.com

Melayu Satu, Melayu Maju

Oleh: Raja Dachroni

Direktur Gerakan Kepulauan Riau Gemar Menulis (GKGM) dan 
Sekjend Gerakan Sejuta Melayu (GSM)

Raja Dachroni

Raja Dachroni

Akhir-akhir ini sahabat penulis, Oktavio Bintana yang juga merupakan pimpinan umum salah satu media di Kepulauan Riau begitu gencar menyuarakan Gerakan Sejuta Melayu (GSM). Hal ini patut diapresiasi dan didukung karena memang prinsip-prinsip kehidupan Melayu yang sesungguhnya sudah mulai memudar, layu diterkam zaman. Kalau tidak percaya, lihatlah berbagai fasilitas umum yang ada di Kepulauan Riau yang visinya ingin menjadi Bunda Tanah Melayu itu, sebagian besar sudah tidak kelihatan lagi tanda-tanda kemelayuan itu.  Hal ini tidak boleh dibiarkan, sehingga memang perlu dibuat semacam gerakan yang yang betul-betul mau bergerak dan itulah GSM, gerakan yang Insya Allah akan menyatukan Melayu untuk bersama-sama maju.

Berangkat dari tulisan Oktavio Bintana itupula penulis berdiskusi cukup panjang tentang gerakan ini dengan beliau hingga akhirnya pada Jumat (25/01/2013) penulis bersama Bang Kherjuli (Ketua LSM Alim) dan Oktavio Bintana  melakukan dialog pagi di RRI Tanjungpinang. Tanggapan masyarakat dari dialog itu cukup beragam, tapi mayoritas menerima gerakan ini sebagai gerakan yang benar-benar konkrit dan bisa membumikan Melayu dan menomorsatukan Melayu. Tidak boleh tidak dan kita semua harus sepakat tentang hal ini.

Tak perlu pula disini penulis menjelaskan disini apa itu Melayu dan secara kultural kita juga sudah sama-sama tahu bahkan hingga kondisi hari ini yang terjadi terhadap Melayu itu sendiri. Dari hasil diskusi kami, penulis ingin menyampaikan mengapa ide dan gagasan ini lahir dan begitu penting. Pertama, kita melihat nilai-nilai dan tradisi-tradisi Melayu itu sudah mulai pudar dan tanpa disadari kita sudah larut di dalamnya.

Kedua, kerisauan tentang kemiskinan di bumi Melayu yang melanda cukup banyak orang-orang Melayu yang semakin terpinggirkan. Padahal secara konseptual Kepulauan Riau tempat dimana tamadun Melayu itu seharusnya tumbuh memiliki visi, “Terwujudnya Kepulauan Riau Sebagai Bunda Tanah Melayu Yang Sejahtera, Berakhlak Mulia Dan Ramah Lingkungan,”. Ini secara tertulis Propinsi Kepulauan Riau punya visi – misi yang sama terkait dengan gerakan sejuta Melayu.

Sehingga, agak aneh memang ketika ada masyarakat yang tidak mendukung gerakan ini karena pada prinsipnya gerakan ini memiliki tujuan dan misi yang mulia tidak ada maksud sedikit pun mengandung unsur SARA seperti yang dipersepsikan oleh pihak-pihak tertentu. Kita ingin Kepulauan Riau kembali menguat unsur kemelayuannya dan kita ingin tidak ada kemiskinan di Kepulauan Riau.

Sungguh ini merupakan gerakan yang menginginkan Melayu itu bersatu dan sadar untuk mengantisipasi kepudaran Melayu agar tidak berlarut dan kami yakini tidak bisa kita hanya mengandalkan Pemprop Kepulauan Riau walaupun kita tahu itu adalah tugas pokok mereka. Maka, kami pun menyimpulkan bahwa untuk mengangkat nilai-nilai Melayu itu kembali bersinar perlu kerja cerdas dan keras serta modal ekonomi yang cukup besar pula dan itu butuh kerjasama kita semua tanpa terkecuali.

Belajar dari Genta Melayu

Penulis pikir ide tentang GSM tidak terlepas dari inspirasi Rida K. Liamsi, sosok pengusaha Melayu sukses di bidang media yang juga merupakan ayah dari Oktavio Bintana. Rida K. Liamsi pernah membuat gerakan serupa di Riau dengan singkatan Genta Melayu (Gerakan Sejuta Melayu). Permasalahan Melayu yang begitu kompleks memang perlu disikapi segera dan barangkali gerakan ini bisa belajar banyak dengan Genta Melayu yang memulainya dengan gerakan membangun ekonomi orang-orang Melayu.

Melayu yang selaras dengan prinsip-prinsip  Islam itu pun memulai gerakannya dengan kekuatan ekonomi. Rasulullah SAW dan para sahabatnya adalah para saudagar yang sadar benar bahwa kebangkitan umat Islam harus didukung dengan modal ekonomi yang mapan pula.  Meminjam pendapat Ir. Moch. Arief-Senior Amil, Direktur Eksekutif Nurul Islam Group,  bahwa kemiskinan sudah menjadi ‘lingkaran setan’ cyclus of poverty yang sulit di putus rantainya.

Ketika seseorang berpendapatan rendah, maka sudah dipastikan tingkat konsumsi, daya beli maupun investasi atau menabung pun juga rendah sehingga berdampak pada tingkat kesehatan, kesanggupan penyediaan pakaian, perumahan, pendidikan, akses informasi dan juga produktifitas yang rendah. Hal ini pada akhirnya berakibat pada pendapatan kembali rendah. Dan membentuk siklus kemiskinan yang sulit diberantas. Kemiskinan memang telah menjadi musuh bangsa dan dunia.

Islam secara konsepsional memandang bahwa seseorang yang berada dalam kondisi kemiskinan dimana yang bersangkutan bisa sebagai faqir – miskin (ketidaksanggupan mendapat nafkah untuk memenuhi kebutuhan dasarnya) atau gharim (beban hutang yang tidak sanggup dibayar), ibnu sabil (orang yang kehabisan bekal dalam perjalanan untuk kebajikan), fii sabilillah (orang-orang yang berjuang di jalan Allah), mu’allaf (orang yang masih lunak/lemah imannya), riqab (hamba sahaya), dan juga amil (pengelola/petugas zakat), maka ada bagian dari harta kaum muslimin yang wajib dikeluarkan untuk membayar kebutuhan mereka. Itulah Zakat. Konsepsi Islam soal zakat adalah sebagai rukun (pondasi) Islam. Islam meletakkan persoalan kemiskinan ini dengan solusi konsepsional dengan kewajiban membayar zakat bagi kaum muslimin.

Nah, kita berharap dari kesadaran dan itikad baik untuk Gerakan Sejuta Melayu (GSM)yang dimulai dari aspek ekonomi ini kita bersama bisa mengembalikan nilai atau tradisi Melayu yang sudah mulai pudar itu dan kita juga bisa berharap agar Melayu tidak sekedar menjadi simbol tapi benar-benar mampu menjadi tuan di rumahnya dengan syarat Melayu harus bersatu untuk maju. Melayu bersatu, maka kita bersama-sama pula akan maju. Hidup Melayu!***

About kherjuli

PRESIDEN AIR

Posted on Januari 28, 2013, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: