Walau Aku Menangis, Tak Akan Ku Biarkan Setan Tertawa


Sumber : Kompasiana

Oleh : Kherjuli

13579607991375116424

Walau Aku Menangis, Tak Akan Ku Biarkan Setan Tertawa

Andaikan engkau ada disini
Sejuta maaf itu akan ku ucapkan
Ku ucapkan lagi
Dan ku ucapkan lagi
Hingga menembus relung hati mu yang paling dalam
Hingga tetes air mata ini membumi
Menghujam penyesalan
Membunuh setan dan keturunannya
Agar Kau tahu
bahwa aku sangat mencintai mu
Walau Aku menangis
Tak akan Aku biarkan setan tertawa

Tapi kau tak mungkin ada disini. Ditempat ini lagi.

Intan,.. Gubuk inipun sekejap lagi akan roboh. Satu tiang penopangnya telah hilang. Satu lagi rapuh. Sedangkan atap rumbianya terbang diterjang angin. Rangka kayu yang sudah lapuk, sekejab lagi akan menyatu dengan tanah. Mengubur semua kenangan terakhir bersama mu. Kenangan yang tak mungkin ku lupakan hingga akhir hayat ku.

Intan,.. Sebelum aku mati, cinta ku memang sudah duluan mati. Tapi percayalah, aku tidak seperti yang setan kira.

Intan,.. Saat ini aku memang menangis. Tetapi, tak akan aku biarkan setan terus tertawa.

Intan,.. aku sangat merindu mu. Aku kangen, dek. Aku sangat mencintaimu sayang. Cinta ku, bukan seperti yang ada pada pertemuan kita yang terakhir. Tetapi seperti yang ada pada pertemuan kita yang pertama. Ketika itu, dengan tulus aku mencium bahu kanan mu. Menyentuh seragam putih-putih mu. Dan kau menerima cinta ku. Padahal, kita baru saja kenal. Disebuah rumah sakit tempat keluarga ku terbaring lesu. Tempat engkau menuntut ilmu praktek keperawatan selama tiga tahun.

Tuhan,.. cinta yang datang secara tiba-tiba, kenapa harus berakhir dengan cara tiba-tiba pula ?

Tanjungpinang, 11 Oktober 1992

—————————————-

Fakhri baru saja selesai membaca catatan usang miliknya. Berisi puisi yang tidak beraturan. Yang Ia simpan bersama kumpulan rapot dan ijazah. Di dalam lemari yang juga usang. Yang dibeli ayahnya sebelum catatan itu dibuat. Yang menjadi pusaka peninggalan keluarga. Ia lupa kapan lemari itu dibeli. Tetapi Ia tak akan lupa mengapa catatan itu dibuat.

Saat itu, 4 Oktober 1992 atau dua puluh tahun yang lalu, Intan mengajaknya bertemu di pondok samping rumah Mas Tara.

Pada siang hari yang cerah, Intan dan Fakhri duduk berhadapan. Tak nampak keceriaan diraut wajah Intan. Sedangkan Fakhri merasa gugup dan terpaku. Tanda-tanda tak baik sudah mulai terlihat. Tak ada basa-basi. Fakhri dan Intan terlihat tidak semestinya.

Maafkan adek Mas. Hubungan kita cukup sampai disini. Kita putus !”, ungkap Intan dengan suara yang pelan namun jelas. Terdengar sampai ke pemancar hati.

Hati Fakhri yang sejak kemaren subuh terasa tak sedap, semakin menjadi-jadi. Kian tak sedap harus menerima keputusan itu. Keputusan yang menurut Fakhri lebih berpihak kepada setan. Ya, setan yang belum berambus dalam dirinya. Setan masih bercokol dan terus tertawa.

Fakhri masih ingat, ketika itu 11 Oktober 1992. Tujuh hari sejak cintanya mati. Tujuh hari sejak Intan meninggalkannya. Tujuh hari sejak setan berusaha menjerumuskannya kedalam jurang nista. Disuatu subuh yang kelam.

—————

Siang itu Fakhri tidak ditemani siapa-siapa. Ia duduk sendiri digubuk bersejarah. Fakhri merasa, raja setan pun tidak lagi sedang bersamanya. Setan dan keturunannya telah mati terbunuh ayat suci yang Ia bacakan setelah Tahajud. Tak akan kembali, karena telah terbakar ayat kursi. Dan hanyut oleh derasnya air mata taubat. Sementara, Intan telah berada diujung dunia. Di kampong kelahirannya.

Perasaan rindu tak terelekan. Betapa hatinya ingin berjumpa. Hingga Ia tak kuasa memendam rasa. Almarhum cintanya menerawang, menembus gejolak mata. Walau tak berdaya, sorot matanya menatap tajam kedepan. Kearah ketika Intan pernah ada dan membuat keputusan yang tepat. Sesekali, aura gadis cantik tinggi semampai itu muncul. Lalu hilang bersama dalam keikhlasan hati Fakhri.

Fakhri tak kuasa menahan air mata.

“Dek, Kangennnnnnnnnn ! Aku ingin jumpaaaaaaaaa !”, teriak hatinya.

Ia Lalu menulis kerinduan itu disecarik kertas. Dan sekarang kertas itu ada bersamanya. Meski usang, namun berisi kisah cinta yang tak pernah usang.

Secarik kertas usang itu kemudian ingin diphotocopynya supaya kelihatan baru. Lalu akan Ia kirimkan untuk Intan. Harapannya semoga Intan menerima surat itu, membacanya dan mau mengerti. Agar Intan tahu, ketika itu, walaupun Fahkri menangis, tetapi Ia tak ingin membiarkan setan tertawa. Tetapi keinginan itu patah oleh ketidakberdayaan diri. Puisi dalam secarik kertas itupun dirobek.

sret…sret…sret !

***************

About kherjuli

PRESIDEN AIR

Posted on Januari 19, 2013, in Water, Environment and Human and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: