Nikah Unik, Patut Ditiru


Sumber : Kompasiana

dsc02221

Photo : Ilustrasi Kherjuli

Oleh : Kherjuli dan Effendi

Dibawah sinar lampu neon, Edi membolak-balik koran yang belum sempat dibaca. Maklumlah, sebagai seorang kontraktor, Ia jarang berada di rumah. Edi lebih sering keluar kota memantau proyek-proyeknya. Baru satu bulan belakangan ini Ia selalu berada di rumah. Menyiapkan segala sesuatu untuk hari pernikahan mereka. Ia, calon istrinya dan pihak keluarga telah sepakat untuk melangsungkan pernikahan pada tanggal 28 Oktober.

Edi membaca judul-judul yang menarik perhatiannya. Seperti yang berkaitan dengan tender proyek. Sedangkan yang lain, dibacanya selayang pandang. Bahkan dilewatinya begitu saja.

Malam itu, tiba-tiba saja Ia tertarik dengan sebuah artikel berita yang berjudul “Kasus Perceraian Dikalangan PNS Meningkat”. Judul itu ditulis besar dengan warna hitam tebal. Ia coba menyimak dengan seksama. Maklum saja, namanya juga koran. Kadang-kadang antara judul dan isi berita berseberangan.

Edi sangat serius membacanya. Tiba-tiba, artikel tersebut diguntingnya, dilipat dan disimpan didalam dompetnya. Belum tahu apa maksud dan tujuannya. Yang pasti, itulah Edi. Seorang pria yang dikenal berani dan penuh sensasi di mata teman-teman seprofesinya.

Dua hari kemudian, Edi berkunjung kerumah Tuti, calon istrinya. Mereka akan membuat kesepakatan design dan format undangan nikah.

Sebelum sampai kepada tujuan yang sebenarnya, Edi dan Tuti terlibat percekcokan kecil. Namun terlihat heboh. Pasalnya, hanya gara-gara kliping Koran yang diterbitan beberapa hari yang lalu. Ya, gara-gara fenomena yang dimuat didalam Koran itu.

“Kebanyakan, PNS yang menggugat cerai. Angkanya melebihi talak yang dijatuhkan suami”
“Ya, itu karena suaminya selingkuh”.
“Bukankah dikoran itu penyebabnya karena PNS yang berselingkuh”
“Itu berita tidak seimbang”
“Tidak seimbang bagaimana ?”
“Penyebab awalnya karena suami mereka yang kontraktor itu duluan yang selingkuh”
“Kamu tahu dari mana ?”
“Teman sekantor ku yang menggugat cerai suaminya itu yang bilang. Mereka pikir, kontraktor saja yang bisa selingkuh katanya ?”

Edi terdiam sejenak. Ia tahu betul karakter calon istrinya itu. Cerdas dan punya prinsip-prinsip kepribadian yang kokoh. Sebagai PNS yang baru saja mendapatkan Nomor Induk Pegawai (NIP), sebenarnya Edi tidak menyimpan sedikitpun kecurigaan kepada Tuti. Namun, itulah Edi yang senang mencari sensasi agar suasana penuh enerjik.

“Sayang, aku tidak sedikitpun menaruh kecurigaan pada mu”, ungkap Edi dengan suara yang lemah lembut. “Aku hanya menyampaikan fakta seperti yang dimuat dikoran itu. Aku ingin rumah tangga kita nanti bahagia selamanya” tambah Edi.
“Aku juga tidak sedikitpun menaruh curiga pada mu Mas”, kata Tuti sembari mencium tangan calon suaminya dan minta maaf.
“Bagaimana kalau diundangan yang mau kita bikin nanti, kita cantumkan kesepakatan bersama”
“Kesepakatan apa itu Mas ?”
“Sumpah ku pada mu untuk tetap setia, tidak selingkuh dan tidak bertengkar”
“Aku setuju Mas”

Suasana kembali mencair. Canda tawa mereka terdengar sampai kedapur rumah orang tua Tuti yang sengaja dirancang dengan model panjang kebelakang. Seperti losemen dizaman dulu.

Beberapa hari kemudian, undangan berwarna dasar krem yang dihiasi motif batik lokal bercorak kepala duyung pun disebar. Jumlahnya lumayan banyak. Tidak dibedakan untuk walikota atau Pemulung. Dibelakang undangan itu bertuliskan :

SUMPAH NIKAH :
1. Kami suami dan istri mengaku akan setia selamanya
2. Kami suami dan istri mengaku tidak akan berselingkuh
3. Kami suami dan istri mengaku tidak akan bertengkar
Tongseng, 28 Oktober 2012.
Tertanda, Edi dan Tuti

Tanggal 28 Oktober 2012 pun tiba. Resepsi pernikahan berlangsung cukup meriah. Para tamu undangan sejak pukul 10.00 datang silih berganti. Namun sebelum dilakukan prosesi Ijab Qobul, karangan dan papan bunga dari rekan sejawat, sahabat orang tua kedua mempelai, organisasi dan perorangan, termasuk dari pejabat, pada berdatangan. Bahkan sejak malam hari sudah ada yang terpajang. Yang menakjubkan, karangan dan papan bunga bertuliskan, “IKUT MENDUKUNG SUMPAH NIKAH

Pada malam hari selepas acara sungkeman, kado dan bingkisan segera di buka. Sebab, rencananya esok pagi Edi dan Tuti akan bertolak ke Bali untuk menikmati bulan madu.

Lagi-lagi, ada sebuah kado yang berisikan dua bingkai figura besar menyentuh perasaan mereka. Yang satu berupa ayat Kursi dengan kaligrafi yang indah berwarna kuning keemasan dan satu lagi berupa hiasan bertuliskan :

AGAR PNS MENGAMBIL PELAJARAN DARI PERISTIWA LANGKA INI :

SUMPAH NIKAH :

1. Kami suami dan istri mengaku akan setia selamanya
2. Kami suami dan istri mengaku tidak akan berselingkuh
3. Kami suami dan istri mengaku tidak akan bertengkar
Tong Seng, 28 Oktober 2012.
Tertanda, Edi dan Tuti

SELAMAT MENEMPUH HIDUP BARU

WALIKOTA TONG SENG,

T.T.D

EFFENDI

Sekembali dari bulan madu, Tuti langsung diboyong ke rumah yang telah Edi siapkan. Didalam rumah itu, kado special dari Walikota berupa dua figura itupun langsung dipajang didinding ruang tamu rumah mereka.

Setahun kemudian, Pengadilan Agama mencatat, jumlah PNS yang cerai menurun drastis. Hampir 80 persen dibanding tahun lalu. Selain itu, peristiwa perselingkuhan dikalangan PNS yang dicatat media dan pihak kepolisian local juga menurun.

Sampailah pada suatu hari yang menggelikan bagi Edi dan Tuti. Tuti yang tengah hamil 7 bulan itu mendapat penghargaan dari Kantor Pemberdayaan Perempuan dan Anak setempat. Prestasi itu diperoleh atas ide dan aksi gila mereka menekan angka perceraian dikalangan PNS khususnya.

Sebab, sehari setelah hari pernikahan mereka, media lokal dan nasional, tak henti-hentinya memberitakan peristiwa geli dan unik itu. Dampaknya, tidak saja kepada mereka berdua, tetapi juga kepada PNS yang lain. Pernikahan Edi dan Tuti menjadi feomenal. Mereka mendadak terkenal.

About kherjuli

PRESIDEN AIR

Posted on Januari 19, 2013, in Water, Environment and Human and tagged , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: