Penduduk Bertambah, Warga Yang Rugi Juga Bertambah


Sumber : www.kepribangkit.com/

Kherjuli, (anggota Dewan Sumber Daya Air Kepri) - Bersama Anak Ibu Sri

Kherjuli, (anggota Dewan Sumber Daya Air Kepri) – Bersama Anak Ibu Sri

Pertumbuhan penduduk kota Tanjungpinang dari tahun ketahun terus meningkat. Peningkatan itu diikuti pula oleh sejumlah peningkatan komoditi seperti kendaraan bermotor dan tempat tinggal (perumahan dan ruko). Dua dari sekian komoditi kebutuhan hidup warga perkotaan itu saat ini dihadapkan pada dua hal penting yaitu tanah dan air.

 

Butuh tanah untuk pelebaran jalan, dan/atau mebuka jalan baru, membangun trotoar dan drainase. Butuh tanah untuk membangun perumahan, gedung dan ruko. Dan sangat penting, butuh air untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari warga kota, termasuk untuk mencuci kendaraan bermotor.

Nah untuk memperoleh air bersih dibutuhkan tanah/lahan juga supaya bisa membangun waduk/Dam, paket IPA (Instalasi Pengolahan Air), RO (Reverse Osmosis), membuat sumur dangkal dan sumur resapan.

Ketika tanah dan air tidak dikelola dengan baik, maka tentu akan berdampak kepada kemacetan, tanah longsor, terputusnya ruas jalan, jalan rusak, kekeringan dan banjir.
Saat banjir datang, kendaraan bermotor bisa dipindahkan dari satu tempat ketempat yang lain sedangkan perumahan tidak. Karena rumah tergolong benda yang tidak bergerak dan sudah menyatu dengan tanah. Kecuali rumah tersebut diterjang longsor.

Peristiwa banjir yang terjadi dipenghujung tahun 2012 di kota Tanjungpinang, menarik perhatian penulis. Sebuah bukti, betapa pentingnya pengelolaan tanah dan air agar akses jalan tetap lancar dan tidak menimbulkan kerugian bagi pengguna jalan disaat hujan deras. Dengan kata lain, meskipun hujan tetapi pengendara kendaraan bermotor dan pemilik rumah tidak dirugikan oleh sebuah kebijakan yang kurang bijak.

Saat itu, penulis terpaksa mengurungkan perjalanannya menuju Lagoi. Menurut informasi, ruas jalan di kilometer 14 tergenang air melebihi tinggi mesin mobil dari permukaan jalan. Sambil menunggu hujan reda, penulis, teman dan anak penulis ngopi di café bola Bintan centre. Beberapa jam tertahan ditempat itu. Apa boleh buat, tidak mungkin salahkan hujan, dan tentu bukan salah air. Padahal, berbagai persiapan sudah dilakukan untuk berlibur di tahun baru 2013 di Lagoi Kabupaten Bintan.

Dari tempat itu penulis bertanya didalam hati, “lalu mau salahkan siapa kalau sudah seperti ini ? Bisakah mereka yang tidak bijak mengelola sumber daya air itu dijerat dengan pidana sumber daya air sebagaimana diatur dalam UU Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air?”

Sebelumnya teman penulis bilang enak kalau pakai mobil, tidak dipengaruhi hujan dan tidak perlu pula lepas-pasang baju hujan. Kulit tangan dan muka tidak terganggu teriknya panas dan hujan deras. Kemudian kita bisa cepat sampai ketujuan, katanya.

Nah lho, ternyata tidak juga.

Empat jam menunggu, hujan tak juga reda. Akhirnya penulis membatalkan rencana dan memilih kembali kerumah. Dari pertokoan Bintan Center, mobil diarahkan ke jalan menuju tempat rekreasi water bomb. Sebuah jalan alternative untuk terhindar dari kepungan air. Sebuah cara untuk melepaskan rasa muak melihat buruknya system drainase dikota ini. Sebab, masih ada titik banjir dan buruknya system drainase di sekitar batu sembilan dan batu delapan didepan BLK.

Rasa muak ini kian bertambah ketika melintasi kampong Mekar Jaya batu delapan. Ada sejumlah rumah tergenang air. Khususnya perumahan yang dibangun ditepi anak sungai Jang. Lagi-lagi perasaan muak ini bertambah. Bukankah sungai merupakan kekayaan Negara yang dikuasai oleh Negara ? tetapi dalam kenyataannya, dikuasai oleh pengembang dengan bukti kepemilikan sertifikat tanah.

Memang ini bukan hal yang baru. Hal lama yang apabila dibiarkan, dan bila pemangku kepentingan tidak memahami betapa pentingnya sungai bagi kehidupan, maka jumlah sertifikat tanah diatas sungai akan semakin bertambah. Seiiring bertambahnya jumlah penduduk, kendaraan bermotor dan pemukiman. Maka, jangan heran bila penduduk yang dirugikan atas kebijakan yang tidak bijak juga akan semakin bertambah.

Seperti yang dialami Ibu Sri yang tinggal tidak jauh dari kampong mekar jaya. Tepatnya di jalan Cendrawasih RT 03 RW III Kelurahan Batu IX Kecamatan Tanjungpinang Timur.
Penulis memantau langsung kerumah korban. Dari hasil pantauan itu dilaporkan bahwa rumah, Mini Market dan isinya serta Mobil Avanza berwarna Silver yang diparkir didepan rumah, terendam air setinggi lutut orang dewasa. Hampir satu jam memantau di lokasi kejadian.
Penulis menyaksikan beras dan barang-barang lain miliknya dalam keadaan terendam air. Belum ditaksir berapa kerugiannya. Tetapi menurut ibu Sri, tahun 2011 yang lalu, tepatnya tanggal 25 Desember 2011, banjir menggenangi rumah dan Mini Marketnya yang terletak disebelah rumah. Saat itu kerugian mencapai Rp 50 juta.

Waduh ! Besar sekali. Senilai biaya kuliah S1 jurusan Tekhnik Lingkungan. Atau senilai biaya rehap 4 rumah (RTLH) yang dibiayai Pemerintah Daerah.

Dari hasil pantauan yang tidak direncanakan sebelumnya, penulis melihat betapa penataan jalan dan perumahan yang dibangun oleh Pemerintah dan Pengembang, tidak mengikuti kaidah-kaidah pendayagunaan sumber daya air. Bagaimana tidak, anak sungai ditimbun dan gorong-gorong dibawah jalan hanya berukuran kecil, hingga membuat air tertahan.
Satu hal yang menarik, ternyata kendaraan bermotor (Mobil Avanza) milik Ibu Sri juga tidak bisa bergerak dan terendam air. Ternyata, paparan penulis diatas tidak meleset sedikit.

Kerugian dan kerugian. Muak dan muak. Kepada siapa mau mengadu. Kepada wakil rakyat ? Sepertinya percuma, karena belum ada studi banding ke Belanda yang pernah mereka lakukan. Baru ke Jerman, Cina dan Negara lain yang tidak terkait dengan hak rakyat atas air dan kewajiban wakil rakyat dan Pemerintah atas banjir.

Dari pengakuan Ibu Sri, belum ada satupun pejabat Pemerintah yang berkunjung ke rumahnya. Sementara, Jamaludin wakil rakyat yang ditemuinya, memintanya menyampaikan laporan langsung ke pihak terkait.

Sesampainya di rumah, dalam keadaan tubuh setengah basah, penulis tidak langsung menuju kamar mandi, tetapi langsung membuka laptop dan mengutip pasal pidana dalam UU Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air.

Berikut petikannya: Pasal 94, (1) Dipidana dengan pidana penjara paling lama 9 (sembilan) tahun dan denda paling banyak Rp1.500.000.000,00 (satu miliar lima ratus juta rupiah): Setiap orang yang dengan sengaja melakukan kegiatan yang dapat mengakibatkan terjadinya daya rusak air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52.

Pasal 95, (1) Dipidana dengan pidana penjara paling lama 18 (delapan belas) bulan dan denda paling banyak Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) : Setiap orang yang karena kelalaiannya melakukan kegiatan yang dapat mengakibatkan terjadinya daya rusak air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52.

Pasal 96: (1) Dalam hal tindak pidana sumber daya air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 94 dan Pasal 95 dilakukan oleh badan usaha, pidana dikenakan terhadap badan usaha yang bersangkutan. (2) Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenakan terhadap badan usaha, pidana yang dijatuhkan adalah pidana denda ditambah sepertiga denda yang dijatuhkan.

Kesimpulan dari artikel ini adalah, jumlah penduduk bertambah, bila tidak diikuti dengan penataan ruang yang baik, yang meliputi akses jalan dan pengelolaan sumber daya air yang baik pula, maka bukan hanya kemacetan dan rumah yang tergenang air yang bertambah, melainkan akan menambah pula jumlah penduduk yang dirugikan atas kebijakan yang tidak bijak. Wassalam.***

About kherjuli

PRESIDEN AIR

Posted on Januari 8, 2013, in Uncategorized and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: