14 Tahun Menunggu Kucuran Air Keran


Diposting oleh  pada 28 December, 20122 Comments

TADAH AIR: Tong penadah air hujan ditemukan hampir di setiap rumah warga perumahan Hangtuah, Kota Tanjungpinang, Kepri.

TADAH AIR: Tong penadah air hujan ditemukan hampir di setiap rumah warga perumahan Hangtuah, Kota Tanjungpinang, Kepri.

Krisis Air Bersih di Kota Tanjungpinang

Firman (35), mendadak merapikan meja kerjanya di kantor. Saat itu, telepon genggamnya baru saja berdering. Ternyata sang istri minta didatangkan air tangki ke rumah mereka di Perumahan Hang Tuah, Tanjungpinang.

Beberapa nomor yang tercatat di telepon genggamnya langsung ia hubungi. Nahas, saat itu tidak ada yang siap mengantar air. Alasannya, pesanan langganan masih banyak yang mengantre.

Firman sebenarnya sudah dikenal oleh sopir truk tangki air itu. Ia sudah bertahun-tahun langganan membeli air. Tiap dua hari sekali, ia harus membeli air satu tangki dengan ukuran 5.000 liter seharga Rp80 ribu. “Waduh, orang rumah rewel ni kalau begini,” ungkap Firman.

Keran air leding dari jaringan pipa PDAM Tirta Kepri sebenarnya terpasang di rumahnya. Tapi, sejak rumah itu ia beli dari developer empat belas tahun silam, keran itu tidak pernah mengucurkan air.
Tak hanya itu, sumur sedalam dua belas meter juga ada. Tapi, karena ada empat sumur bor di dekat rumahnya sedalam 35 meter, akhirnya air sumurnya juga kering.

Lain lagi dengan Leli (40), juga warga Hang Tuah. Leli dan sang suami akhirnya memilih membeli rumah baru di tempat lain berharap untuk lebih mudah mendapatkan air.

Sewaktu di rumah lama, Leli mengaku harus rela bangun tengah malam saat hujan turun untuk mengisi beberapa tong air yang tersedia. Ada lima tong air di rumahnya saat itu yang peruntukannya untuk menampung air saat hujan.

Kini, setelah tinggal di rumah baru, Leli sedikit merasa lega karena masih bisa mendapat air dari sumur galian. Meski hanya sumur galian, kini ia tidak harus memaksa bangun tengah malam lagi saat turun hujan.

Perumahan Hang Tuah di Tanjungpinang memang menjadi satu lokasi perumahan yang sulit mendapatkan air. Bahkan, sejak perumahan itu dibangun 1998, boleh dibilang air tak pernah mengalir dari keran PDAM yang tersedia.

Berkeliling di perumahan ini, satu pemandangan yang terlihat dan berbeda dengan yang lain, yakni adanya tong air di depan rumah untuk menampung dari atap. Rata-rata, tong seperti itu sedikitnya tiga sampai empat unit di depan rumah.

Tak hanya itu, sulitnya mendapatkan air di perumahan ini nyaris saja mengusik ketenangan warga. Pernah beberapa waktu lalu, percekcokan warga sampai berujung ke kantor polisi karena perebutan mendapatkan air. Saat itu, sempat terjadi ketegangan sesama warga karena berebut mendapatkan air dari sumur umum yang tersedia.

“Karena itulah saya pindah rumah,” tambah Leli.
Persoalan air memang menjadi masalah besar yang belum teratasi dengan baik di Tanjungpinang. Perumahan Hang Tuah hanya menjadi satu contoh. Bahkan, banyak lagi perumahan lain yang kasusnya juga hampir sama.

Padahal, air merupakan kebutuhan mendasar dalam segala lini kehidupan, termasuk untuk perkembangan kota dari segi investasi. Jangankan untuk investasi, kebutuhan rumah tangga sekalipun masih sulit tercukupi.

Lihat saja gejolak perubahan Kota Tanjungpinang beberapa tahun terakhir. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Tanjungpinang, beberapa tahun terakhir laju pertumbuhan penduduk di daerah yang dijuluki ”kota gurindam” ini selalu di atas dua persen.

Tahun 2008, jumlah penduduk Tanjungpinang masih di angka 178.877 (naik 2,56 persen dari tahun sebelumnya). Kemudian, 2009 jumlah penduduk naik menjadi 183.315 dan 2010 sudah tercatat 187.359. Dan tahun 2012, jumlah penduduk sudah mencapai 230 ribu jiwa.

Pembangunan juga melesat. Data dari Real Estate Indonesia (REI) Cabang Kepri minus Batam, tahun 2012 sudah ada 62 developer yang tergabung dari sebelumnya hanya 27 developer. Itu pun, belum semuanya terdaftar di REI. Tak heran, ribuan rumah baru pun kini terlihat di Kota Tanjungpinang.

Tapi, sayang, perubahan itu tidak disertai kesiapan infrastruktur air. Kini, untuk rumah baru, terpaksa developer mencari siasat dengan menyediakan sumur galian. Tak heran, saat ini ada ribuan sumur galian di Tanjungpinang. Bahkan, rumah tipe elite sekali pun oleh developer terpaksa dibuat sumur galian.

”Kita memang sengaja menyediakan sumur galian. Tapi beruntung, air gampang dapat. Tiga meter air sudah dapat,” kata Ferdy, satu pengembang perumahan di Tanjungpinang.

Kepala PDAM Tirta Kepri, Abdul Kholik mengakui, persentase penggunaan air PDAM bila dibandingkan dengan jumlah penduduk masih berada di angka 31 persen. Berarti, angka pelanggan masih berada di bawah rata-rata angka nasional yang sudah mencapai 45 persen.

Kini, pelanggan yang tercatat di PDAM Tirta Kepri Tanjungpinang baru mencapai angka 17 ribu. Itu pun, lebih dari 1.000 pelanggan memilih berhenti, karena tidak adanya jaminan air hidup tiap hari.

Di sisi lain, pelanggan baru masih terpaksa belum bisa ditambah. Meskipun akhirnya ditambah, hanya bisa dilakukan untuk daerah yang sudah dianggap aman ketersediaan airnya.

“Yang kita utamakan pelanggan lama dulu,” kata Kholik.
Calon pelanggan yang sudah masuk waiting list mencapai angka 4 ribu.
Bahkan, tiap hari data itu pun bertambah, seiring dengan lajunya pertumbuhan properti di Tanjungpinang. Tapi, kapan bisa disambung, masih menjadi gambaran yang belum pasti.

Akhirnya, mereka yang belum jadi pelanggan atau memilih putus PDAM, sumber air bersih yang diharapkan hanya air sumur.

Bahkan, ada yang hanya berharap air hujan, yang kalau kemarau harus siap merogoh kantong lebih dalam untuk membeli air per tangkinya Rp80 ribu. Tak sedikit pula, ada yang memaksakan diri membuat sumur bor dengan biaya mencapai Rp9 juta.

Pemerintah Serius
Sebenarnya, Pemerintah Pro vinsi Kepulauan Riau di bawah kepemimpinan HM Sani terbilang serius untuk mencari solusi mengatasi masalah air. Saat kampanye dan setelah terpilih, HM Sani menjanjikan, penanganan masalah air bersih menjadi bagian dari permasalahan yang harus tuntas diatasi di masa kepemimpinannya.

HM Sani menetapkan, persoalan air harus tuntas di tahun ketiga ia menjabat, yakni 2013. Namun, dalam perjalanannya, banyak pihak kini yang meragukan tercapainya target itu. Terlebih, karena pengerjaan Waduk Gesek saat ini masih berlangsung dan masih jauh dari kesan akan selesai.

Beberapa upaya sebenarnya sudah dilakukan Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau. Seperti membuat Waduk Gesek dan pembersihan pipa induk. Bahkan, Waduk Sei Pulai yang saat ini hanya satu-satunya menjadi sumber air baku juga sudah dinormalisasi.

Beruntung, gubernur juga dibantu para wakil rakyat di DPRD Kepri. Untuk mencapai target itu, upaya lobi pun dilakukan berkali-kali ke pusat. Akhirnya, pada 2012 didapatkan dana dari Kementerian Pekerjaan Umum senilai Rp35 miliar untuk pembangunan waduk di Sei Gesek.

Kini, pengerjaan Waduk Gesek masih berlangsung. Diharapkan, dengan akan beroperasinya waduk ini, akan bisa membantu Waduk Sei Pulai untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sebagai pelanggan. Hasil perkiraan, waduk Sei Gesek akan bisa menghasilkan debit air 100 liter per detik.

Sampai di situ? Belum. Permasalahan air di Tanjungpinang memang berat. Sebab, air bakunya susah. Komisi II DPRD Kepri juga terpanggil untuk ikut memikirkan penyelesaian persoalan air ini.

Penawaran air laut atau reserve osmosis (RO) juga sudah dijajaki dan akan dilakukan pembangunannya di Tanjungpinang, tepatnya di dekat kantor walikota lama. Di sisi lain, waduk tadah hujan juga terus ditambah. Waduk Galang Batang yang akan merupakan waduk tadah hujan menjadi program jangka menengah.

Kemudian Waduk Dompak yang juga menganut pola RO juga disusun untuk perencanaan jangka panjangnya.

November lalu, rombongan Komisi II DPRD Kepri berangkat ke Jakarta melobi kementerian pekerjaan umum untuk membantu mengalokasikan anggaran pembuatan waduk di Galang Batang.

Dari penjelasan Rudy Chua, Anggota Komisi II DPRD Kepri, lobi itu berhasil dan kementerian pekerjaan umum siap memberikan anggaran senilai Rp40 miliar untuk pembuatan waduk tersebut.

Mensyukuri Nikmat Air
Modal besar dan adanya keseriusan dibutuhkan untuk menyelesaikan persoalan ketersediaan air bersih, itu yang tergambar dari kondisi ini. Sebaliknya, harapan dan impian masyarakat untuk mudah mendapatkan air tak akan berhenti. Sampai air memang benar tak berhenti mengalir ke rumah warga.

Intinya, masalah ketersediaan air memang harus tuntas, karena air memegang peranan penting dalam kehidupan. Bayangkan saja, satu atau dua hari tak ada air, apa yang terjadi?

Karena itulah, LSM Air, Lingkungan dan Manusia (Alim) di Tanjungpinang yang konsen memerhatikan air tak berhenti mengajak semua untuk peduli dan berterima kasih pada air. Karena beratnya persoalan untuk ketersediaan air, LSM Alim punya cara sendiri untuk mengajak peduli dengan air, agar air tak semakin jauh.

Setiap tahun, LSM Alim membuat satu kegiatan yang diberi nama ”kenduri air”. ”Kenduri air” yang diisi dengan acara doa-doa dan wujud terima kasih atas nikmat air ditujukan untuk menghargai dan memaknai pentingnya air dalam kehidupan.

”Kenduri air sengaja kita buat, untuk mengajak masyarakat peduli dan mensyukuri nikmat akan air. Kita tahu, di Kepri ada istilah kenduri, itu yang kita pakai untuk kegiatan itu,” kata Kherjuli, Ketua LSM Alim.

Tentu, pesan yang dititipkan lewat Kenduri air itu juga ada. Intinya, perlunya menjaga lingkungan, pohon-pohon tidak boleh ditebang sembarangan dan alam tidak boleh dibiarkan gundul. Terlebih setelah isi perutnya, bauksit dan granit dikeluarkan.

Di balik itu, perilaku manusia untuk menghargai air juga perlu dijaga. Berhemat dengan air, dan memperlakukannya dengan arif.
Bahkan, Kherjuli mengingatkan paparan Massaru Emoto, ilmuan Jepang, dalam bukunya yang berjudul “the true power of water” yang menyimpulkan air dapat menangkap pesan.

”Sebenarnya apa yang dikatakan Massaro Emoto juga sudah ada di budaya kita. Orang tua kita selalu mengajarkan kita untuk menghargai air. Bila ada sumur jangan ditutup dan jangan diperjualbelikan,” papar Kherjuli yang juga menjabat satu anggota di Dewan Sumber Daya Air Provinsi Kepri ini.(RASYID DAULAY)

2 Responses to “14 Tahun Menunggu Kucuran Air Keran”

  1. good reportase Rasyid Daulay, gaya tulisan kronologis dengan bumbu jurnalisme baru (news jurnalism)- terus kembangkan model penulisan depth news ini agar Tpi-Pos tak ditinggal pembaca krn semakin kuatnya media televisi dan media online.

    Reply

  2. Liputan dan berita yang luar biasa. Terimakasih Rasid Daulay dan Tanjungpinang Pos yang telah mewawancarai Saya dan menerbitkan berita ini. Karena Kalian, AIR dapat berbicara dan berkata-kata, “Kami (Air) adalah Sumber Kehidupan”.

About kherjuli

PRESIDEN AIR

Posted on Desember 29, 2012, in Water, Environment and Human and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: