Banyak Pohon, Banyak Pahala


Tanam Gaharu di Kebun (21)Dialog Interaktif Sempena Hari Menanam Pohon Indonesia (HMPI) dan Bulan Menanam Nasioanl (BMN) di RRI Tanjungpinang, telah dilaksanakan pada Hari Jumat, 29 November. Dengan Narasumber : 1. Kepala BPDAS Provinsi Kepri, 2. KOREM dan 3. Lembaga ALIM.

“Mari menanam pohon. Banyak pohon, banyak pahala”.

Refleksi : Peringatan Hari Menanam Pohon Indonesia (HMPI) dan Bulan Menanam Nasioanl (BMN) secara serentah diseluruh tanah air merupakan momentum strategis  bangsa Indonesia dalam upaya mengantisipasi perubahan iklim global, degradasi dan deforestasi hutan dan lahan dan kerusakan lingkungan lainnya yang mengakibatkan penurunan produktifitas alam dan pelestarian lingkungan.

DSC04448Dalam upaya memasyarakatkan gerakan tanam dan pelihara pohon secara nasional sebagai sikap hidup dan budaya bangsa, maka pada tanggal 28 November, Pemerintah telah menetapkan Hari Menanam Pohon Indonesia dan bulan Desesember sebagai Bulan Menanam Nasional (BMN). Ketetapan Presiden itu dibuat pada tahun 2008 yang lalu.

Dengan demikian, berarti momentum itu telah berlangsung selama 4 (tahun) terhitung sejak ditetapkannya.

Pertanyaannya adalah, benarkah sikap hidup dan budaya bangsa Indonesia yang dikenal rajin bercocok tanam itu telah mengalami degradasi dan pergeseran nilai ?

Jawabannya terpulang kepada Anda. Bisa jadi dahulu Anda senang dan terlibat dalam upaya bercocok tanam dan memelihara pohon, tetapi saat ini sudah tidak lagi terlibat. Apakah dahulu Anda seorang petani, pemilik kebun, pencinta alam, pekerja taman dan lain-lain, tetapi sekarang sudah berubah profesi dan orientasi.

Atau sebaliknya, sekarang Anda lebih senang bercocok tanam dan memelihara berbagai jenis pohon. Karena pohon pada kenyataannya telah memberikan manfaat yang besar bagi kelangsungan hidup manusia. Pohon memiliki multifungsi yang sangat berarti bagi kehidupan kita.

Pergeseran sikap hidup dan budaya bangsa Indonesia dari masyarakat yang agraris menjadi masyarakat industri, tidak perlu kita bahas lagi disini. Sebab, ada mata rantai yang sangat panjang untuk dibahas.

Sebelumnya, sejarah juga telah mencatat bahwa nenek moyang kita juga memiliki sikap hidup dan budaya pelaut. Bahkan pelaut yang sangat ulung. Hal itu sangat beralasan, karena memang letak geografis Kepulauan Nusantara diapit oleh dua benua dan samudera dan memiliki ribuan pulau. Terletak dibawah garis katulistiwa yang dijuluki negara maritim.

Maka jangan heran bila kawasan pesisir lebih dulu berkembang sebagai pusat perdagangan, sosial, budaya, politik dan pertahanan. Mobilitas orang, barang dan jasa di kawasan pesisir telah merubah hutan mangrove (bakau) menjadi dermaga, pemukiman, pasar dan tempat transaksi perdagangan lainnya.

Jadi, sebelum era industrilisasipun, kawasan hutan bakau di pesisir pantai telah mengalami deforestasi. Namun, jumlahnya tidak sebesar di era industri. Eksploitasi hutan bakau dilakukan dengan menggunakan peralatan canggih yang dihasilkan oleh proses industri pula.

Dengan ditemukannya setrika (gosokan) listrik, penggunaan arang (kayu bakau yang ditebang dan dibakar menjadi arang) memang menurun. Tetapi tentu tidak sebanding dengan kerusakan bakau yang dilakukan dengan menggunakan alat berat. Wajah hutan bakau nyaris berubah menjadi gedung dan bangunan lainnya.

Itulah yang membuat hati Saya dan perasaan biawak menjadi prihatin. Betapa tidak, biawak saja mencari tempat tinggal dan berkembang biak tanpa mengganggu kepentingan sesame biawak dan kepentingan umum umat manusia. Mengapa justru kita saling membuat sesamanya menjadi sengsara? Merusak hutan bakau, berarti mengundang abrasi dan banjir datang melanda.

About kherjuli

PRESIDEN AIR

Posted on Desember 1, 2012, in Water, Environment and Human and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: