Antara Marwah, Sumpah Pemuda dan Sumpah Serapah


Sumber : kepribangkit.com Media online.  Malam itu, saya menyempatkan diri masuk kedalam jejaring sosial bernama facebook. Setelah menjelajah dari dinding ke dinding, ada dua fenomena yang menarik perhatian saya.

Pertama tentang debat kandidat Pilwako Tanjungpinang dan yang kedua tentang sumpah pemuda. Kebetulan, kedua fenomena itu berada pada waktu yang hampir bersamaan. Hanya selisih satu hari saja. Debat kandidat Pilwako Tanjungpinang dilaksanakan pada tanggal 27 Oktober, sedangkan sumpah pemudadiperingati setiap tanggal 28 Oktober di seluruh Indonesia.

Dari dua fenomena itu, debat kandidat Pilwako Tanjungpinang telah menyedot banyak waktu dan perhatian saya. Sebab, si pemilik akun menulis dengan kalimat panjang disertai analisa yang beragam, penuh retorika dan bersemangat.

Berbeda dengan fenomena sumpah pemudayang hanya ditulis dengan kalimat singkat, sepi dari komentar dan hampir tak digubris. Semangat sumpah pemuda seolah sudah hilang ditelan masa.

Saya terus mencermati dengan membaca berulang-ulang. Sambil menyimak, saya pun menunggu komentar baru, tiba. Tak disangka, komentar baru datang begitu cepat. Balas membalas dengan kata-katapun tak terelakkan. Ruang komentar pada akun itu berisi kalimat pro dan kontra yang datang silih berganti. Seru, seperti berbalas pantun atau tebak kata. Ada yang menggunakan kalimat sampiran dan sindirian dan ada yang sekedar memberi jempol. Saya jadi semakin penasaran.

Aksi serang menyerang dan dukung mendukung kandidat ternyata masih terus berlangsung. Padahal hari itu merupakan hari tenang yang ditetapkan KPU. Hari dimana semua kandidat dan Timsesnya harus berhenti melakukan sosialisasi dan kampanye dengan cara apapun. Karena tahapannya telah lewat.

Tetapi, begitulah faktanya. Bahwa hukum bisa jadi tidak berdaya karena politik. Sedangkan  etika, nilai-nilai sosial dan kearifan budaya lokal belum mampu membendung kebebasan seseorang untuk berekspresi dalam kancah politik. Politik memang selalu ingin merajalela dan menguasi semua aspek kehidupan. Termasuk kebebesan berkumpul, berserikat dan mengeluarkan pendapat dimuka umum.

Saya mencoba menelusuri lebih dalam biodata pemilik akun. Ada yang menggunakan nama dan photo asli dan ada pula yang serba palsu. Itulah jejaring social facebook yang belum memiliki tool dan aturan yang hukum yang bisa mencegah kebohongan. Sudahlah facebook-nya seperti itu, sebagian User-nya juga belum bisa berperilaku jujur.

Dari hasil penelusuran itu, saya temukan mayoritas pemilik akun masih tergolong muda. Sebagian diantara mereka sudah saya kenal dan mereka tidak termasuk dari sebagian User yang berperilaku tidak jujur.

Andaikan praktek-praktek kebohongan itu dibiarkan hidup, saya khawatir generasi muda kita akan terjebak didalam struktur kebohongan yang justru berdampak kepada rendahnya kwalitas diri. Saya tidak bisa membayangkan andaikata kaum muda (para User Facebook yang berperilaku tidak jujur) itu diminta menyusun naskah sumpah pemuda, mungkin outputnya penuh dengan sumpah serapah. Walaupun banyak yang mengaku pintar, analis, akademis, aktivis, politis dan ahli strategis sekalipun. Sebab, menurut saya, ilmu pengetahuan haruslah didasarkan kepada kejujuran dan kebenaran. Bukan dengan kebohongan dan menjual marwah.

Sumpah serapah yang dilontarkan melalui akun facebook dalam menyikapi perbedaan kandidat, tanpa disadari dapat membuat semangat persatuan kaum muda itu pudar. Bayangkang, hanya karena perbedaan yang tidak terlalu prinsip saja (berbeda kandidat), kaum muda saling menyerang dengan kata-kata yang tidak senonoh. Membela sesuatu yang belum tentu benar dengan cara “membunuh” marwah.

Andaikan kaum muda yang saya maksudkan itu merasakan perbedaan yang dirasakan pemuda yang hidup pada tahun 1928, mungkin mereka tidak akan berperang dengan kata-kata dan apalagi melakukan tawuran masa.

Perbedaan yang dihadapi pemuda kala itu bukan hanya sekedar beda  Jong (suku), bahasa dan jati diri bangsa, tetapi juga perbedaan untuk bersatu melawan penjajah atau bercerai berai dalam jajahan Belanda. Mereka dihadapkan kepada dua pilihan, merdeka atau mati. Tetapi para pemuda tetap bersatu dengan semangat sumpah pemudanya.

Itulah perbedaan pemuda sekarang dengan pemuda yang hidup pada tahun 1928. Pemuda yang melahirkan sumpah pemuda itu memiliki semangat, landasan berpikir, sikap bertutur dan bertindak yang bijak. Itu sebabnya nilai-nilai perjuangan mereka hidup sepanjang masa. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, kata marwah berarti kehormatan diri atau harga diri atau nama baik sedangkan kata sumpah serapah berarti berbagai kata yang buruk, maki-makian disertai kutukan dan sebagainya.

Orang melayu harus senantiasa menjaga marwah. Salah satunya dengan cara tidak melontarkan sumpah serapah kepada siapapun jua. Saling menjaga marwah berarti saling menjaga kehormatan diri dari kata-kata yang buruk, maki-makian disertai kutukan dan sebagainya. Kata marwah dan sumpah serapah sudah ada sejak zaman nenek moyang  kita. Sudah ada jauh sebelum sumpah pemuda dicetuskan.

Bila dipahami dan diamalkan dengan baik, marwah dan sumpah serapah memiliki peran besar dalam pendidikan politik masyarakat. Dapat dijadikan cermin bagi kaum muda dan para pemimpin dalam bertutur dan bertindak.  Menjaga marwah dan tidak melontarkan sumpah serapah akan melahirkan perilaku Jujur bertutur, bijak bertindak. Itulah slogan kota Tanjungpinang, yang sebentar lagi akan berganti pimpinan. ***

About kherjuli

PRESIDEN AIR

Posted on Oktober 30, 2012, in Uncategorized and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: