PDAM Harus Sediakan Air Tangki


Diposting oleh admin Tanjungpinang pos pada 26 September, 2012
Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Kepri sebagai wakil pemerintah harus menyediakan air untuk solusi penanganan jangka pendek kekeringan air di Tanjunguban. Sebab, apa pun alasannya, sesuai PP nomor 16 tahun 2005 tentang pengembangan sistem penyediaan air minum ditegaskan, sudah jadi kewajiban pemerintah menyediakan air bagi masyarakat.

”Kebutuhan air itu nyata dan tidak bisa ditunda-tunda. Masa mau mandi, cuci dan masak harus ditunda. Dalam hal ini kewajiban untuk pemenuhan air, apakah dengan menyediakan air dari tangki air atau mobil pemadam kebakaran. Itu tanggung jawab pemerintah,” kata Kherjuli, Anggota Dewan Sumber Daya Air Provinsi Kepri, kemarin.

Tentu saja, penyediaan air itu bisa dilakukan PDAM dengan berbagai hal. Misalkan, menyediakan air dengan mobil tangki khusus yang dikirim ke rumah pelanggan. Atau, mobil pemadam kebakaran pun bisa dimanfaatkan. Intinya, masyarakat yang jadi pelanggan PDAM harus mendapat air bersih.

Kherjuli menekankan hal itu ketika dimintai tanggapannya soal rencana PDAM membangun sumur bor di Sei Jago dan melakukan normalisasi waduk. Dinilai, kedua langkah itu akan menghabiskan waktu yang lama dan tidak menjadi solusi jangka pendek untuk masyarakat. Terlebih, rencana interkoneksi air antara waduk Sei Jeram dan waduk Sei Jago, juga masih membutuhkan kajian.

Kata Kherjuli, air merupakan kebutuhan mendasar manusia. Untuk itu, tidak bisa ditunda-tunda dan harus dilakukan cepat langkah penanganannya.

Untuk jangka panjangnya, Kherjuli memaparkan,merujuk pada Peraturan Pemerintah (PP) nomor 42 tahun 2008 tentang pengolahan sumber daya air, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan. Antara lain, interkoneksi air dari sumber air yang masih tersedia. Misalnya waduk Lagoi ke waduk Sei Jago Tanjunguban atau waduk Sei Jeram ke waduk Sei Jago Tanjunguban.

Tentu, perbaikan cathment area harus digalakkan. Sehingga daya resap tanah terhadap air benar-benar mampu menampung air dalam kapasitas normal.

Kemudian, langkah penimbuhan. Artinya bila waduk dalam keadaan sedang atau basah, maka hendaknya tidak disedot semuanya karena dapat mengakibatkan kekeringan.

‘’Bila terus dikerok maka dapat merusak ekosistem jadi harus disisakan,” sarannya.

Dan terakhir, modifikasi cuaca atau membuat hujan buatan. Tapi, keempat langkah ini harus melalui kajian dan membutuhkan waktu dan biaya yang banyak.

Untuk itu, solusi jangka pendek, menurutnya, pemerintah harus bertanggungjawab. Setidaknya, menyediakan air langsung ke masyarakat.(Slamet ns)

About kherjuli

PRESIDEN AIR

Posted on September 28, 2012, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: