Ketidakadilan Terhadap Akses Air Bersih


Oleh : Kherjuli

PRESIDEN AIR

 …Jika harus menunggu keadilan terhadap akses air PDAM seperti yang dirasakan pelanggannya saat ini, pasti tak kuat jiwa dan raga ini mengibarkan bendera merah putih pada hari Kemerdekaan RI di halaman rumah…”

 Cuaca yang panas dan intensitas hujan yang relative kecil di Pulau Bintan, membuat ketersediaan air bersih di Pulau Bintan dan Kota Tanjungpinang menurun. Tidak saja ketersediaan air permukaan di waduk Seipulai yang merupakan sumber air baku bagi PDAM Tirta Kepri, tetapi juga air tanah. Meskipun demikian, pelanggan PDAM tidak begitu merasakan kelangkaan air sebagaimana yang dirasakan warga lain yang mencukupi kebutuhan dasar mereka dengan air bawah tanah. Sumur bor dan sumur gali banyak yang kering dan warga terpaksa harus membeli air dari pedagang air yang menggunakan mobil tangki. Harganyapun relative mahal bila dibanding harga air PDAM. Rata-rata dijual dengan harga Rp 40.000 – Rp 50.000,- per meter kubik. Itupu harus mengantri 2 – 3 hari sejak dipesan. Selain itu, kwalitas airnya pun tidak bisa dipertanggung jawabkan menurut standar kesehatan. Warga terpaksa membeli air tangki karena tidak punya cara lain untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari.

Pada bulan puasa yang lalu, kebutuhan air bersih terus meningkat dan semakin meningkat menjelang lebaran. Tanpa menunggu pasokan air dari Pemda, warga terpaksa mengupayakan sendiri dengan merogoh sejumlah uang. Tidak dapat dinafikan kalau beban ekonomi warga dalam menghadapi lebaran semakin meningkat. Selain kebutuhan daging dan minuman kaleng, warga juga harus membeli air bersih dari pedagang air lori tangki.

Secara statistic, memang belum diketahui jumlah warga yang mengalami kelangkaan air. Tetapi bila dilihat dari cakupan layanan PDAM yang baru mencapai sekitar 32 persen dari jumlah penduduk kota Tanjungpinang yang berjumlah 205.000 jiwa, maka secara kwantitatif jumlah warga yang mengalami kelangkaan air relative besar. Diprediksi bisa lebih dari 68 persen. Daerah-daerh yang mengalami stress area menjadi meningkat. Salah satunya seperti yang terjadi  di Kampung Mekar Jaya km 8, Kampung Bulang, Batu Kucing Tanjungpinang lain sebagainya.

Kondisi buruk yang sangat realistis ini, belum mampu dijawab secara realistis pula oleh Pemda setempat. Artinya, kelangkaan air belum mampu dijawab dengan kemudahan mendapatkan akses air bersih denga harga yang sama seperti harga air PDAM. Kalaupun harus lebih mahal dari harga PDAM, jangan sampai seperti sekarang ini, hingga mencapai 5 kali lipat untuk kebutuhan sebulan. Kalau air PDAM untuk kelompok pelanggan Rumah Tangga (RT), rata-rata harus membayar Rp 100.000 per bulan, maka dengan membeli air tangki, bisa mencapai Rp 500.000,-  dengan asumsi 4 jiwa satu RT. “Itu yang Saya rasakan selama satu bulan ini”.

Pemda melalui PDAM pasti beralasan kalau sumber air baku yang ada di Waduk Sei Pulai belum mampu untuk menambah sambungan baru. Warga dan masyarakat diminta bersabar hingga tahun 2013 dan menunggu pembangunan waduk Sei Gesek rampung. Mungkin itulah jawabannya, masih sangat klasik karena masih terkutat seputar waktu. “Tidak kita tutupi kalau Pemerintah dan Pemda sudah memulai pembangunan waduk Sei Gesek. Tetapi, karena menyangkut kebutuhan pokok sehari-hari, tentu Saya dan warga tidak bisa menunda penggunaannya. Jangankan berbulan-bulan, sehari saja sudah membuat aroma rumah menjadi pesing, dan kami terpaksa bertayamum sebelum sholat”.

“Kalau harus tunggu air PDAM, bisa mati kehausan. Tidak lucu, kan ? Masak kalah dengan semut dan anai-anai. Manusia harus bisa mendapatkannya tanpa harus menunggu air PDAM. Konsekwensinya, ya sudah pasti dengan berdoa dan mencari uang. Jika harus menunggu keadilan terhadap akses air PDAM seperti yang dirasakan pelanggannya saat ini, pasti tak kuat jiwa dan raga ini mengibarkan bendera merah putih pada hari Kemerdekaan RI di halaman rumah. Berbagai kebijakan tentang Percepatan Penyediaan Air Minum bagi penduduk, tidak mampu diakselerasi Pemda menjadi jawaban realistis terhadap tuntutan warga. Biarlah Pemda dan stakeholder lainnya dengan konsepnya sendiri dan Kami dengan cara-cara lama”.

“Biarlah, kemerdekaan, ketidakadilan, kesulitan ekonomi dan Stress menjadi urusan nomor 2, 3, 4,5 dan seterusnya, tetapi nyawa menjadi nomor 1. Sebab, nyawa produk Tuhan. Meskipun harus mencari sendiri akses air kotor (air bukan PDAM), Saya masih tetap bangga menjadi putra daerah Tanjungpinang, warga Negara Indonesia.  Sebab, Saya bisa berbagi tentang sumur yang kering, kelangkaan air dan keadilan terhadap akses air bersih bagi setiap orang, sesuai amanat UUD 1945”.

——————

Kherjuli

Ketua LSM Air, Lingkungan dan Manusia (ALIM)

Provinsi Kepulauan Riau

About kherjuli

PRESIDEN AIR

Posted on Agustus 20, 2012, in Water, Environment and Human and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: