PERINGATAN HARI AIR DUNIA 2012 DI KERPI DILIPUT RADIO BELANDA


“Ditolak Radio Lokal, Diwawancarai Radio Internasional”.

Hari itu Saya datang langsung ke Studio Canggai Karimun, minta waktu untuk Dialog dan diwawancara, tetapi ditolak dengan alasan mendadak. Eeeh,.. Tanpa diduga-duga, sehari setelah kejadian itu, dengan mendadak pula, reporter Radio Nederland Wereldomroup (RNW) di Belanda menelpon Saya dan langsung wawancara. Tentu Saya tidak menolak. Saya tidak pernah melakukan konfirmasi lewat apapun ke Radio itu. Tidak ada kenalan disana. Tidak terbayangkan sebelumnya.

Malam hari, Saya mencoba mengecek kebenarannya. Saya pikir bohong-bohong saja. Ternyata benar. RNW mendapatkan informasi dari Event Wolrd Water Day 2012 yang dipublish secara luas. Memang, kegiatan KENDURI AIR sudah kami masukan dalam event itu sejak tahun 2009 lalu.

Banyak yang mereka tanyakan terkait moment HARI AIR DUNIA 2012 di Kepri. Pada kesempatan itu Saya menjelaskan esensi Kenduri Air (Pray For Water), Kolam-Kolam Duka dan Akses Air Minum di Kepri. Ternyata, hasil wawancara itu dimuat di website RNW, walaupun tidak semuanya yang Saya sampaikan dimuat mereka.

Begitulah, Allah Mendengar suara hati kami dan melihat tiap tetes keringat letih kami yang kering dibadan atau jatuh ke bumi, dalam menyuarakan kepedulian terhadap air. Amin ya Allah. Terimakasih semuanya. Berita itupun masuk dalam berita populer dan ada dihalaman muka website RNW. Salam Hari Air Dunia.
http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/article/hari-air-sedunia-tantangan-ke-depan-semakin-besar

“Ketahanan Air dan Pangan.” Itulah tema Hari Air Sedunia Tahun 2012 yang diperingati setiap tanggal 22 Maret. Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) menyatakan masih ada 11 persen penduduk dunia atau 783 juta orang yang belum memiliki akses air bersih.

Di samping itu, sebanyak 2,5 miliar penduduk bumi, tidak memiliki fasilitas sanitasi yang baik. Tantangan ke depan semakin besar: bagaimana menyediakan air bersih untuk rakyat miskin dan memberi makan sekitar sembilan milyar manusia pada tahun 2050.

Tantangan menyediakan air bersih bagi penduduk juga dialami di Propinsi Kepulauan Riau. Demikian dijelaskan oleh Kherjuli, direktur LSM Air, Lingkungan, dan Manusia (ALIM) di Riau.

Propinsi yang 90 persen wilayahnya terdiri dari laut dan tiga persen daratan ini menghadapi tantangan khusus. Tiga persen daratan itu tersebar dalam pulau-pulau besar dan kecil. Batam, Bintan, Karimun, Lingga, dan Natuna, adalah pulau-pulau yang relatif memiliki jumlah penduduk cukup besar.

Bagi Pulau Batam misalnya, pulau yang berbatasan dengan Singapura dan Malaysia, tantangan utamanya adalah ketersediaan air baku. Air baku adalah air bersih yang dipakai untuk mandi, minum dan sebagainya.

Penduduk di Batam tumbuh tujuh persen setiap tahunnya. “Apabila pertumbuhan penduduk itu tidak diimbangi dengan ketersediaan air baku, maka diperkirakan krisis air akan terjadi pada tahun 2016,” jelas Kherjuli. “Ini hanya menyangkut air minum saja, bukan untuk irigasi dan industri.”

Saling ketergantungan
Kherjuli melanjutkan akibat letak geografisnya itu, tidak ada sungai-sungai besar di daerahnya seperti di Jawa atau Sumatra. Ketersediaan air di sana tergantung pada air permukaan tanah, yang pada gilirannya sangat tergantung pada daya dukung hutan dan lahan.

Masalahnya, seiiring dengan peningkatan pembangunan di Kepulauan Riau – di mana Batam, Bintan dan Karimun ditetapkan sebagai wilayah perdagangan bebas – maka daya dukung hutan dan lahan juga terancam. Demikian Kherjuli menjelaskan.

Akses tidak merata
Akses terhadap air bersih di pulau-pulau tersebut tidaklah merata. Di Batam misalnya, sebanyak 90 persen dari sekitar satu juta penduduk Batam telah memiliki akses ke air bersih, baik melalui air yang disediakan Dinas Air Minum Daerah ataupun swasta.

Namun berbeda dengan Pulau Bintan. Cakupan layanan oleh Dinas Air Minum Daerah di Bintan baru mencapai 31 persen dari jumlah penduduknya. Sedangkan di Karimun, baru 21 persen penduduk saja yang bisa menikmati air bersih. Jadi penduduk di daerah-daerah itu memenuhi kebutuhan akan air melalui cara-cara konvensional seperti sumur serta memanfaatkan air hujan.

Secara keseluruhan cakupan air bersih di propinsi Kepulauan Riau masih di bawah rata-rata cakupan nasional.

Peran masing-masing
Melalui peringatan Hari Air Sedunia ini, LSM ALIM mengajak semua stakeholder untuk memainkan peran masing-masing. Pemerintah, swasta dan seluruh kompenen masyarakat seyogyanya bisa meningkatkan kepedulian dengan berbagai cara.

“Kepedulian itu seyogyanya tidak hanya berhenti pada tanggal 22 Maret saja, tapi setiap waktu, setiap detik.”

About kherjuli

PRESIDEN AIR

Posted on Maret 25, 2012, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: