LIMA NYAWA MELAYANG DI GENANGAN AIR


Kamis, 22 March 2012 00:00

TANJUNGPINANG – Tercatat sebanyak lima nyawa melayang di genangan air selama Januari-Ferbuari 2012. Semua korban adalah anak-anak yang bermain di lokasi tersebut. Peristiwa itu terjadi di Batam, Karimun dan Tanjungpinang.

Pada 2011 yang lalu, peristiwa serupa juga merenggut nyawa delapan anak-anak di Karimun, Bintan, dan Batam. Jumlah yang terbesar terjadi di Batam dengan 6 enam kasus.

Demikian diungkapkan Ketua Lembaga Air, Lingkungan dan Manusia (Alim), Kherjuli, Rabu (22/3).
“Kedepan kita berharap jangan ada lagi korban jiwa berjatuhan. Melalui peringatan hari Air Dunia pada tanggal 22 Maret ini, kita tidak ingin kolam-kolam air itu menyisakan duka yang mendalam bagi siapapun,” katanya.

Kherjuli mengatakan, dengan berjatuhan korban di dalam genangan air merupakan suatu bukti buruk lemahnya upaya pemantauan, pengelolaan dan perlindungan lingkungan hidup oleh pemerinta daerah etempat dan pihak swasta.

Pada umumnya, lahan yang digenangi air itu adalah milik swasta yang tidak dikelola dengan baik. Sehingga berpotensi menjadi tempat bermain anak-anak. Karena jauh dari pantauan orang dewasa, tragedi itupun terjadi. Anak-anak yang belum bisa berpikir sempurna itupun tenggelam di dalam kolam dan akhirnya meninggal dunia.

“Kita minta kepada instansi terkait, dalam hal ini Badan Lingkungan Hidup (BLH), Dinas Kesehatan dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah melakukan inventarisasi lahan-lahan terbuka yang digenangi air tempat bermain anak-anak,” imbuh Kherjuli.

Anggota Dewan Sumber Daya Air Provinsi Kepulauan Riau ini juga meminta kepada aparat terkait untuk memantau dan mencari pemiliknya. Mereka perlu diingatkan akan pentingnya pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup.

Selain berpotensi dijadikan sebagai tempat bermain bagi anak-anak kata dia, lahan yang digenangi air itu juga berpotensi sebagai tempat berkembangnya nyamuk. Kondisi seperti itu tentunya kurang baik bagi kesehatan masyarakat.

Pada Peringatan Hari Air Dunia 2012 yang jatuh pada setiap tanggal 22 Maret nanti, Lembaga ALIM kata Kherjuli akan mengangkat issu kolam-kolam duka itu. Katanya, bersama pemda, swasta dan juga masyarakat setempat, agar memperhatikan kolam terbuka agar tidak terjadi korban lagi.

Lembaga ALIM juga akan menggandeng koran ini dan Laskar Melayu Bersatu (LMB) Kabupaten Karimun untuk menyelenggarakan serangkaian kegiatan Hari Air Dunia 2012. Rencananya akan dipusatkan di Kabupaten Karimun, dengan puncak acara yang kita beri judul Kenduri Air.

Kenduri Air itu sendiri adalah salah satu wujud dari rasa syukur kepada Allah atas anugerah-Nya yang telah memberikan air untuk kesejahteraan manusia dalam segala bidang. Kenduri Air itu telah dicatat pada iven air Internasional melalui UN-Water sejak tahun 2009 lalu. Tujuannya, sebagai cikal bakal untuk dijadikan kearifan lokal budaya Melayu Kepulauan Riau dalam memperlakukan air pada kehidupan sehari-hari. (cw53/eza)

Sumber : Haluan Kepri

Photo : Kherjuli, 2012

About kherjuli

PRESIDEN AIR

Posted on Maret 25, 2012, in Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: