LIMA NYAWA MELAYANG DI KOLAM


Selasa, 20 March 2012 00:00
Peringatan Hari Air Dunia di Kepri

Photo : Kherjuli, 20 Maret 2012

BINTAN- Dari data Lembaga Air Lingkungan dan Mansuia (ALIM) Kepri, selama Januari sampai Februari tercatat sebanyak lima orang meninggal di dalam kolam atau wadah yang berisi genangan air. Semua korban berasal dari kalangan anak-anak dan peristiwa tragis itu terjadi di Karimun, Tanjungpinang dan Batam.

Kemudian, pada tahun 2011 lalu peristiwa serupa juga terjadi dimana sebanyak delapan anak-anak meninggal dunia di Karimun, Bintan, dan Batam. Jumlah yang terbesar terjadi di Batam dengan 6 enam kasus yang tenggelam digenangan air.

“Ke depan kita berharap jangan ada lagi korban jiwa berjatuhan, melalui peringatan hari Air Dunia pada tanggal 22 Maret mendatang, kita tidak ingin kolam-kolam air itu menyisakan duka yang mendalam bagi siapa pun,” kata Ketua LSM ALIM Kepri, Kherjuli, Senin (19/3).

Kherjuli mengatakan, dengan berjatuhan korban di dalam genangan air merupakan suatu bukti buruk lemahnya upaya pemantauan, pengelolaan dan perlindungan lingkungan hidup oleh Pemda setempat dan pihak Swasta.

Pada umumnya, lahan yang digenangi air itu adalah milik swasta yang tidak dikelola dengan baik, sehingga berpotensi menjadi tempat bermain anak-anak. Karena jauh dari pantauan orang dewasa, tragedi itu pun terjadi. Anak-anak yang belum bisa berpikir sempurna itupun tenggelam di dalam kolam dan akhirnya meninggal dunia.

“Kita minta kepada instansi terkait, dalam hal ini Badan Lingkungan Hidup (BLH), Dinas Kesehatan dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah melakukan inventarisasi lahan-lahan terbuka yang digenangi air yang dapat berpotensi dijadikan sebagai tempat bermain anak-anak,” imbuh Kherjuli.

Anggota Dewan Sumber Daya Air Provinsi Kepulauan Riau ini juga meminta kepada aparat terkait lainnya untuk memantau terus dan cari pemiliknya untuk bertanggung jawab terhadap upaya pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup.

Selain berpotensi dijadikan sebagai tempat bermain bagi anak-anak kata dia, lahan yang digenangi air itu juga berpotensi sebagai tempat nyamuk berkembang biak. Kondisi seperti itu tentunya kurang baik bagi kesehatan masyarakat.

“Kami juga berterima kasih kepada Koran Haluan Kepri yang telah mengangkat tragedi itu dan menyajikannya dalam liputan khusus atau fokus. Kami juga sepakat agar orang tua harus senantiasa mengawasi anak-anak bermain. Tetapi, lebih luas, ada tanggung jawab Pemda dan pemilik lahan juga terhadap pengelolaan lingkungan hidup,” kata Kherjuli.

Pada Peringatan Hari Air Dunia 2012 yang jatuh pada setiap tanggal 22 Maret nanti, Lembaga ALIM kata Kherjuli akan mengangkat issu kolam-kolam duka itu, dan berusaha bersama Pemda, Swasta dan juga masyarakat setempat, agar tidak ada lagi kolam-kolam duka itu kemudian hari, dimana pun tempatnya.

Kenduri Air itu sendiri adalah salah satu wujud dari rasa syukur kepada Allah atas anugerah-Nya yang telah memberikan Air untuk kesejahteraan manusia dalam segala bidang. Kenduri Air itu telah dicatat pada even air Internasional melalui UN-Water sejak tahun 2009 lalu. Tujuannya, sebagai cikal bakal untuk dijadikan kearifan lokal budaya Melayu Kepulauan Riau dalam memperlakukan air pada kehidupan sehari-hari.

“Melalui peringatan hari Air dunia ini, kita tidak ingin air diklaim sebagai sumber musibah. Air bukan sumber musibah tetapi sumber berkah. Lemahnya tanggungjawab dan perilaku kurang peduli terhadap air itulah sebagai pemicu musibah. Seperti tragedi banjir, tanah longsor maupun kekeringan,” demikian Kherjuli. (eza)

Sumber : Haluan Kepri

About kherjuli

PRESIDEN AIR

Posted on Maret 24, 2012, in Uncategorized and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: