REVERSE OSMOSIS (RO) PERKOTAAN PERTAMA DI INDONESIA


RO HARUS DIBARENGI DENGAN PERUBAHAN MAINSET. Oleh : Kherjuli. Lembaga Air Lingkungan dan Manusia (ALIM) Provinsi Kepulauan Riau menyambut baik rencana Kerjasama Pelayanan Air Minum melalui Sistem Reverse Osmosisis (RO) di Kota Tanjungpinang antara Pemprov Kepri, Pemko Tanjungpinang dan Pemerintah Pusat melalui Direktur Pengembangan Air minum Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian PU.

Selain untuk mendorong percepatan penyediaan air minum bagi penduduk kota Tanjungpinang, Kerjasama itu juga merupakan salah satu wujud implementasi Tanggungjawab bersama Pemerintah dan Pemerintah Daerah secara terintegrasi dan bersinergi. Masing-masing pihak memainkan perannya masing-masing. Pemerintah Pusat yang membangun RO itu, kemudain Pemko Tanjungpinang menyediakan lahan dan Pemrpov Kepri yang akan mengelolanya.

Walaupun dengan system konvensioanl seperti yang dikelola PDAM Tirta Kepri sekarang ini, yang memanfaatkan air permukaan berbasis aliran sungai lebih baik dibanding system RO, tetapi tidak ada salahnya demi percepatan penyediaan air minum bagi penduduk. Itu solusi alternative penyediaan air minum perkotaan, mengingat semakin terbatasnya lahan dan daya dukung hutan sebagai factor pendukung tersedianya air baku untuk air minum.

Kedepan ALIM berusaha untuk terus menerus memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang harga jual air atau Tarif Air dengan paradigma baru. Bila paradigma lama Tarif air hanya dilihat sebagai komoditas social belaka, dengan paradigma baru sudah harus berubah, yakni sebagai komoditas social, ekonomi dan lingkungan hidup yang harus dipadukan secara selaras.

Harga air RO diperkirakan akan lebih mahal dibanding harga air yang dijual PDAM Tirta Kepri. Tetapi itu jauh lebih murah dibanding harga air lori tangki dan air minum depot isi ulang. Kalau air lori tangki harganya sekitar Rp 30.000 – Rp 40.000 per m3 sedangkan air yang dihasilkan RO diperkirakan berkisar sekitar Rp 7.000 – Rp 8.000,- per m3. Sedangkan harga air minum depot isi ulang sekitar Rp 4.000 – Rp 5.000 per gallon atau sekitar Rp 40.00 hingga Rp 50.000 per m3. Kenyataannya, air lori tangki dan air minum depot isi ulang laris manis dipasaran, terutama pada musim panas.

Dengan adantya RO ini, yang tidak kalah pentingnya juga adalah menyesuaikan mainset masyarakat pengguna air dengan System Teknologi biaya tinggi dan paradigma baru pengelolaan SPAM.

Rp50 Miliar untuk Atasi Air Minum Ibu Kota

Diposting oleh admin pada 22 November, 2011 0 Comment

Walikota Tanjungpinang Suryatati A Manan menadatangani MoU pembangunan RO di Tanjungpinang

Pemerintahpusat, Pemprov Kepri dan Pemko Tanjungpinang merencanakan membangun reserve osmosis (RO) untuk menangani krisis air minum di Tanjungpinang. Dana Rp50 miliar segera digelontorkan.

Pemerintah pusat membantu Rp35 miliar, Pemprov Kepri Rp15 miliar dan Pemko Tanjungpinang menyediakan lahan untuk pembangunan RO dan tenaga listrik.

Ditjen Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum (PU) Provinsi Kepulauan Riau dan Pemerintah Kota Tanjungpinang telah sepakat untuk mengakhiri krisis air bersih di ibukota dengan ditandatanganinya memorandum of understanding (MoU) kerja sama dalam pengembangan sistem penyediaan air minum dengan teknologi RO yang mampu memproduksi 50 liter air per detik, Senin (21/11) di Aula Kantor Gubernur Kepri, jalan Basuki Rahmat.

MoU ditandatangani langsung Dirjen Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum Budiyuwono Prawiro Sudiro, Wakil Gubernur Kepri Soerya Respationo mewakili Gubernur HM Sani dan Wali Kota Tanjungpinang Suryatati A Manan yang disaksikan Ketua DPRD Kepri Nur Syafriadi dan Wakil Ketua DPRD Tanjungpinang Husnizar Hood.

Budiyuwono Prawiro Sudiro menjelaskan, ini merupakan proyek pertama di Indonesia untuk ukuran kota. “Saya pertaruhkan agar proyek ini berjalan dengan baik. Bukan hanya sebagai seremonial tapi dilanjutkan dengan pembangunan fisik,” kata Budiyuwono kepada wartawan, Senin (21/11).

Menurutnya, setelah MoU ditandatanggani dan lahan yang sudah disediakan di Pinang Marina dengan luas lahan 2000 meter dilengkapi dokumennya, maka akan ditenderkan dan dijadwalkan Februari 2012 mulai dibangun proyek ini. Akhir tahun 2013 diharapkan sudah berfungsi.

“Yang perlu dilakukan nanti siapa yang yang mengelolaanya harus memberikan pelayanan prima kepada masyarakat. Pasalnya, harganya lebih malah daripada biasanya. Harga per meter kubiknya bisa dua kali lipat dengan harga tarif PDAM umumnya di tanah air,” tegasnya.

Program RO di Indonesia, kata Budiyuwono, masih kurang diminati. Padahal di negara lain seperti Jepang, Cina, beberapa negara Eropa dan Amerika Serikat termasuk Singapura yang tidak pernah krisis air menggunakan teknologi RO.

Alasannya, tarifnya yang relatif mahal, memerlukan keahlian yang disiplin untuk melakukan pengoperasian agar berjalan dengan baik, biaya operasionalnya dan pemeliharaanya yang relatif mahal dan investasi pembangunan intansi pengelolaan air lebih mahal dibandingkan dengan sistem konvensional.

“Ke depan di tanah air akan diterapkan RO, karena sudah mulai terjadi keterbatasan sumber air. Sejak tahun 2009 hingga tahun 2014 mendatang pemerintah pusat telah menganggarkan dana cukup besar untuk air baku yang mencapai Rp7 triliun untuk seluruh daerah di tanah air,” paparnya.

Wakil Gubernur Kepri Soerya Respationo menjelaskan secara bertahap krisis air di ibu kota termasuk di pulau Bintan akan teratasi. Banyak program yang sudah dibuat oleh pemerintah bersama dengan PDAM Tirta Kepri. Didukung oleh pemerintah pusat, salah satunya penyediaan air minum dengan teknologi RO ini.

Nanti akan dibagi per zona. “Saya berharap tidak hanya MoU tapi ada realisasinya di lapangan,” tegas Soerya singkat.

Menurutnya, pembangunan RO di Tanjungpinang salah satu upaya untuk mengatasi krisis air. Pemerintah juga terus membangun sumber-sumber air baku di Kepri seperti di Sungai Gesek, Galang Batang, Sungai Jerih. Sedangkan untuk jangka panjang akan membuat dam air di Busung dan Dompak.

”Kita memiliki laut 96 persen dan empat persen darat, untuk mencari sumber air memang sangat sulit. Jalan satu-satunya adalah membangun teknologi RO untuk mengatasi krisis air,” ujarnya.

Ketua DPRD Kepri Nur Syafriadi mengatakan DPRD Kepri terus mendukung program-program terkait air bersih karena menyangkut masyarakat umum. DPRD Kepri sudah menganggarkan Rp5 miliar untuk PDAM Tirta Kepri.

“Kalau hanya Rp15 miliar saya yakin bisa kita anggarkan tanpa mengunakan anggaran jamak,” tegas Nur Syafriadi, politisi Golkar yang sudah dua periode menjadi Ketua DPRD Kepri.

Wali Kota Tanjungpinang Suryatati A Manan, awalnya mengaku ragu-ragu dengan teknologi RO, bahkan sempat menolaknya. Setelah melakukan pertemuan dengan Cita Karya, Pemerintah Provinsi Kepri, agar Tanjungpinang diberikan tanggungjawab yang ringan, seperti penyedian lahan dan listrik, akhirnya ia setuju.

“Kita sudah menyediakan lahan di Pinang Marina. Lahan ini cocok dibandingkan lahan lain yang sudah disurvei seperti Batu Hitam dekat Lantamal, ampaing kantor eks Wali Kota Tepi Laut, Pelantar Dua dan Dompak,” terangnya.

Direktur PDAM Tirta Kepri, Kholik menambahkan, RO nantinya hanya diterapkan di Zona 1 yang meliputi daerah Pasar, Tanjungunggat, Jalan Ir Sutami, Kelurahaan Kamboja dengan total pelanggan PDAM sekarang mencapai 3.500 orang. Sedangkan target yang dicapai untuk produksi 50 liter perdetik nanti minimal 40 ribu pelanggan.

“Untuk tahap pertama hanya untuk zona 1 tapi tidak menutup kemungkinan melebar ke zona 2 dan 3 sehingga menyeluruh melayani warga Tanjungpinang,” harapannya.(ass)

About kherjuli

PRESIDEN AIR

Posted on November 22, 2011, in Uncategorized, Water, Environment and Human. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: