HAK ATAS AIR ANAK-ANAK SUKU LAUT (SUKU TERASING)


Hak atas air anak-anak suku laut ini tidak sama seperti anak-anak yang lain. yang hanya tinggal buka kran, air bersih langsung mengalir. Mereka tidak demikian adanya.

Wajah anak-anak itu kelihatan gembira. Walaupun harus berjalan kaki, mengisi air kedalam dirijen, botol dan ember, mereka masih sempat bersenda gurau. Syukurlah, air yang diambil dapat dijangkau dengan tangan mereka yang berwarna kehitaman. Jarak permukaan air itu memang tidak terlalu dalam. Tetapi, rutinitas itu hampir setiap hari mereka lakukan tanpa mengenal lelah dan rasa bosan. Selain untuk keperluan mandi mereka sendiri, mencuci, mereka juga mengambil air untuk keperluan masak dan minum, untuk keperluan Ibu mereka di rumah. “Bantu Mak kat rumah” kata salah seorang anak suku lau itu kepada penulis di lokasi sumber air.

Jarak tempat tinggal mereka memang bervariasi, namun termasuk jauh untuk ukuran anak-anak seusia mereka. Karena mereka bukan melenggang melainkan harus berjalan memikul cucian basah dan menggendong tempat air yang berat. Untuk sampai ke rumah, mereka  harus melewati bukit demi bukit tanpa beralas kaki.

Di Pulau Lipan Desa Penuba Kab. Lingga ini hidup Komunitas Suku Terasing (orang Suku Laut). Jumlah mereka sekitar 90 KK. Dari jumlah tersebut, 60KK sudah memeluk agama Islam dan 30 KK lagi beragama Kristen. Anak-anak Suku Laut Pulau Lipan sudah mengecam bangku sekolah, mulai dari tingkat SD hingga SMU. Di Pulau ini juga sudah terdapat SD sedangkan SMP, mereka harus menyebrang ke Penuba dengan menggunakan pompong atau sampan. Jarak tempuhnya hanya sekitar 20 menit saja.

“Saya tak ingin anak Saya seperti Saya dan Ibunya yang tidak bersekolah. Saya ingin generasi mereka bisa menjadi generasi yang lebih baik dari kami. Walaupun kami suku terasing, anak-anak kami tidak boleh diasingkan lagi oleh budaya, ekonomi dan kemiskinan orang tuanya”.

“Alhamdulillah, anak Saya dapat juara terus mulai dari SD sampai sekarang kelas 2 SMU. Saya dan Istrinya hanya bisa mendorong dia untuk rajin belajar dan rajin sekolah. Kami tidak bisa mengajar mereka karena kami tidak pernah sekolah” kata ketua RW Pulau Lipan.

Aktivitas mengambil air dari rumah ke sumber air dilakukan oleh kaum ibu dan anak-anak. Sedangkan orang tua mereka punya aktivitas tersendiri, yaitu melaut dan kadang-kadang bertani dan menjadi buruh lepas.

Kami butuh air disini. Kondisi air yang setiap hari warga kami gunakan seperti inilah. Kalau musim kemarau, kami harus pergi ke Penuba mengambil air dengan menggunakan sampan. Pernah sampai 4 bulan kami kesulitan air.

About kherjuli

PRESIDEN AIR

Posted on November 15, 2011, in Uncategorized, Water, Environment and Human and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: