SAI : BERJALAN MENCARI AIR


Kisah seputar sai ini diawali ketika Nabi Ibrahim as diperintah Tuhan untuk membawa istri dan anaknya yang masih bayi, yaitu Ismail, ke sebuah lembah yang tandus.

Allah berfirman:

Rabbana inni askantu min dzurriyyati bi wadin ghairi dzi zar’in ‘inda baitikal muharram. Rabbana li yuqimush shalata. Faj’al afidatam minan nasi tahwi ilaihim warzuqhum la’allahum yasykurun. (Ibrahim 37)

Lalu Nabi Ibrahim as diperintahkan untuk meninggalkan mereka di gurun yang kering kerontang itu untuk mengerjakan tugas lainnya dari Allah. Dalam waktu singkat, habislah persediaan air bagi ibu dan bayi itu. Sang bayi kehausan. Ia akan segera binasa oleh rasa dahaga. Sang ibu tahu, pada saat itu, ketika krisis sudah mengancam nyawa, tidak ada siapa pun atau apa pun yang dapat ia jadikan sandaran, kecuali Allah. Dalam kondisi seperti itulah dia menghadapkan diri sepenuhnya kepada Allah, memohon dan berdoa kepada-Nya, lalu segera bangkit mengerjakan daya upaya yang ia bisa. Doa dan usaha yang maksimal dalam setiap langkah dan hembusan nafasnya.

Siti Hajar melihat anaknya yang masih bayi memukul-mukul tanah dengan kaki dan tangan. Ia berlari mendaki gunung Shafa. Di sana ia memandang ke cakrawala yang jauh dan berharap melihat air. Tapi tidak ada satu pun jejak yang menunjukkan keberadaan apa yang ia cari. Maka ia turun dan kembali berlari tergopoh-gopoh hingga ke lereng gunung Marwa. Dia tidak berhenti ketika usahanya yang pertama tidak berhasil. Harapan akan rahmat Allah memenuhi hatinya. Maka ia kembali melakukan perbuatan serupa hingga tujuh kali dia bolak-balik dari Shafa ke Marwa.

Maka, Allah melapangkan mereka dari himpitan itu. Ia memancarkan air dari bawah kaki si bayi. Ia menjadikan krisis, harapan kepada Allah semata-mata, serta usaha manusia secara maksimal sebagai syarat untuk terbukanya pintu rezeki. Dengan bersuka cita Siti Hajar segera mengumpulkan air untuk menghilangkan dahaga puteranya tercinta. Dengan tangan ia menggali kolam untuk mengumpulkan air yang secara mukjizat memancar dari bumi itu.

Karena khawatir air itu akan terbuang percuma, maka ia pun berseru, “Zam … zam.” Berkumpullah … Berkumpullah. Jika ia tidak mengatakan seperti itu, boleh jadi air tersebut akan menjadi aliran sungai (?) Dan boleh jadi pada saat itu Siti Hajar memang tidak tahu bahwa air tersebut tidak hanya mencukupi kebutuhan dirinya dan anaknya, melainkan mencukupi umat manusia beribu-ribu tahun lamanya. Boleh jadi ia tidak pernah tahu bahwa setiap tahun akan ada berjuta-juta orang membawa jerigen untuk mengambil air itu ke kampung halaman mereka masing-masing.

Sumber : http://af4machtum.wordpress.com/2010/02/26/haji-sai-air-zam-zam-dan-krisis-global-khutbah-idul-adha-1430-h-di-wisma-pondok-aren-tangerang/

About kherjuli

PRESIDEN AIR

Posted on Oktober 8, 2011, in Uncategorized and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: