SAMPAH PESISIR, SEPERTI RAMBUT YANG PERLU DISISIR


Pantai Teluk Keriting, salah satu kawasan pesisir di Kota Tanjungpinang. Photo : Kherjuli

Pengelolaan sampah pesisir di pelantar II Tanjungpinang dan sekitarnya harus terintegrasi, yajni dengan melibatkan semua pihak terkait.

Sampah yang terdapat di sekitar pelantar II itu selain berasal dari aktivitas rumah tangga warga, diduga juga berasal dari aktivitas perdagangan, pelayaran dan transportasi.  Ada pasar tradisional didalamnya.  Para pedagang, baik pedagang ikan, sayur, daging, penjual makanan dan minuman, dan barang dagangan lainnya ada yang bukan warga pelantar. Mereka hanya menjalankan kegiatan perdagangan di pasar tradisional itu dari pagi hingga sore hari. Lalu ada pekerja dan para pengunjung untuk membeli barang keperluan mereka disana.

Kemudian ada aktivitas pelayaran dan transportasi. Ada kapal yang berlabuh dan berlalulintas disana. Selama berlabuh menunggu pemberangkatan, mengisi bahan bakar minyak atau bahan keperluan lainnya, ada aktivitas yang menghasilkan sampah. Terlepas besar atau kecil volumenya dan diduga ada yang tercecer di laut, sengaja maupun tidak disengaja. Saya bukan menuduh, dan bukan bermakasud melakukan investigasi kearah itu. Syukur bila tidak dibuang ke laut. Logikanya, sampah ada karena ada aktivitas manusia.

Ada lalu lintas pompong sebagai sarana transportasi orang dan barang dari Sengggarang, Kampung Bugis atau dari luar wilayah kota Tanjungpinang, seperti daerah lainnya disekitar pesisir Bintan ke kawasan pelantar tersebut. Ada yang hanya mengantar penumpang saja dan ada juga yang terlibat langsung dalam perdagangan ikan atau pelaku pasar lainnya.

Sampah yang diangkat barusan dalam gotong royong bersama antara pihak PPP (Partai Persatuan Pembangunan) Tanjungpinang, Warga Pelantar, LSM dan pihak Dinas Kebersihan dan Pertamanan Tanjungpinang itu, hanya sebagian dari tumpukan sampah yang ada. Itu sampah yang menganga diatas lahan terbuka milik warga yang rumahnya terbakar. Masih banyak sampah lain yang berada dibawah pelantar rumah ataupun ruko.

Karena jenis sampahnya pada umumnya berasal dari bahan yang terbuat dari plastic seperti  kantong, botol minuman dan jenis lainnya, maka sampah itu mudah bergerak mengikuti arus air laut maupun angin. Namun bisa juga menetap disana karena sudah menyatu dengan lumpur dan terhalang tonggak-tonggak tiang beton pelantar yang rapat jaraknya satu dengan lainnya. Dari hasil pengamatan sementara seperti itu.

Setahu Saya sudah ada study tentang pengelolaan sampah pesisir yang dilaksanakan Pemprov Kepri beberapa waktu yang lalu. Itu yang bisa dijadikan rujukan Pemko Tanjungpinang dalam mengelola sampah pesisir kedepan.

Pengelolaan sampah pesisir di Pelantar ini harus terpadu dengan melibatkan semua pihak terkait. Bila tidak, kita akan terjebak pada perilaku yang saling menyalahkan satu dengan lainnya.

About kherjuli

PRESIDEN AIR

Posted on September 20, 2011, in Uncategorized and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: