PEJUANG KEMERDEKAAN KECECERAN ?


Selain kisah Sarjan, aku juga membaca kisah perjuangan Pak Matasan di media cetak Tanjungpinang pos tadi. Kisah perjuangan dan lika-liku hidupnya tak jauh berbeda dengan kisah pak Sarjan. Hati kecil ini tiba-tiba menyeletuk dan bertanya, “Inikah namanya Pejuang Kemerdekaan Kececeran?”

Detik-detik Kemerdekaaan Republik Indonesia yang ke 66 tahun belum lama berlalu. Baru sekitar 7 jam melewati lika-liku kisah para pejuang kemerdekaan di Republik ini. Ya, para pejuang kemerdekaan Indonesia. Baik yang telah gugur dalam pertempuran merebut kemerdekaan, atau yang telah meninggal dunia pasca kemerdekaan atau mereka yang masih hidup hingga sekarang.

Kisah perjuangan merekapun ada yang dicatat oleh sejarah dan ada pula yang terlewatkan begitu saja. Ada yang mendapatkan gelar Pahlawan dari Pemerintah, ada yang menjadi anggota Veteran dan mendapatkan perhargaan dan insentif dari Pemerintah, tetapi ada pula yang tanpa sedikitpun gelar, intensif atau embel-embel perjuangan. Bahkan, hidup mereka pun masih diselimuti kesulitan ekonomi dan kemiskinan. Ada diantara mereka bahkan hidup sendirian di gubuk bambu dan terpaksa bekerja sebagai tukang anyaman bambu untuk mempertahankan sisa-sisa hidupnya. Kini, bambu tidak lagi dijadikan senjata untuk bertempur melawan penjajah, melainkan sebagai penopang hidupnya untuk keluar dari himpitan ekonomi dan melawan perilaku lupa balas jasa bangsa ini terhadap mereka diusia senja. Ia adalah Sarjan (Sumber : diperoleh melalui salah satu TV Nasional).

Aku sangat terharu menyaksikan kisah bapak tua itu. Rasa haru itu semakin tidak bisa terbendung ketika mendengarkan satu pesan yang menurut ku sungguh menyayat hati. Inilah pesannya, “Jangan pernah lupa mengibarkan Bendara Merah Putih”.

Subhanallah,.. Jangankan bisa membalas jasa-jasa perjuangannya, mengibarkan bendera merah putih setahun sekali saja terkadang aku tak mampu dan selalu lupa.

Selain kisah Sarjan, aku juga membaca kisah perjuangan Pak Matasan di media cetak Tanjungpinang pos tadi. Kisah perjuangan dan lika-liku hidupnya tak jauh berbeda dengan kisah pak Sarjan. Hati kecil ini tiba-tiba menyeletuk dan bertanya, “Inikah namanya Pejuang Kemerdekaan Kececeran?”

Sungguh, memang tidak pantas bila kita katakan benar mereka itu adalah pejuang kececeran. Jangan, jangan katakana lagi karena itu sangat tidak pantas. Mestinya, kata-kata penghargaan, gelar kehormatan dan intensif yang patut kita berikan kepada para pejuang itu dan kepada para pejuang yang lain yang bernasip serupa, agar kita tidak termasuk kedalam katagori bangsa yang memiliki perilaku malas dan lupa balas jasa.

Memang benar, sebaik-baik perjuangan adalah perjuangan yang dilakukan atas, “Pada mu Negeri aku berjanji, pada mu negeri aku berbhakti, pada mu negeri kami mengabdi, bagi mu negeri, jiwa raga kami”. Itu artinya, perjuangan yang kita lakukan adalah perjuangan tanpa pamrih. Maksudnya tanpa mengharapakan apapun demi negeri, nusa dan bangsa ini. Nilai-nilai perjuangan itu, ada pada diri sebagian para “pejuang kececeran” di negeri ini. Meskipun Indonesia sudah merdeka 66 tahun, namun mereka tidak lagi berjuang untuk mendapatkan embel-embel ataupun insentif dari Pemerintah, walau kesulitan ekonomi masih menjajah mereka di sisa-sisa hidupnya.

Aku teringat kisah pembentukan Provinsi Kepulauan Riau sekitar tahun 2000 lalu. Sekarang, provinsi itu sudah terbentuk dan sudah menjalankan roda pemerintahannya berdasarkan prinsip-prinsip otonomi daerah. Tak dapat dipungkiri sudah ada yang berubah. Terutama perubahan dari jumlah personil pegawai dan pejabat daerah serta jumlah alokasi anggaran untuk belanja pegawai. Artinya, hasil perjuangan pembentukan provinsi Kepri sudah dapat dirasakan oleh ribuan PNS dan pejabat daerah lainnya. Tak ayal lagi, mulai dari gelar, kehormatan, jabatan hingga intensifpun diberikan kepada segelintir orang. Ya, kepada segelintir orang saja. Sebagai contoh, segepuk embel-embel yang diberikan kepada sekelompok orang hingga pemberian gelar pejuang sentral. Padahal yang ikut berjuang banyak sekali, termasuk aku. Tetapi,… ya itulah yang aku katakan “Pejuang Kececeran”. Semoga Allah tidak menghapus sedikit demi sedikit rahmatNya kepada “Pejuang Kececeran” karena sifat tanpa pamprihnya terhadap gelar, kehormatan, jabatan, intensif dan embel-embel baik dari Pemerintah dan dari siapapun. Amin.

About kherjuli

PRESIDEN AIR

Posted on Agustus 17, 2011, in Uncategorized and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Banyak pejuang kemerdekaan yang mempertaruhkan nyawa untuk negeri kita namun hasilnya tidak dinikmati oleh mereka di hari tuanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: