Ketimpangan Neraca Air


Wawancara bersama : Hj Raja Syahniar Usman

Hj Raja Syahniar Usman. Namanya sudah tidak asing lagi bagi warga Tanjungpinang dan Kepri. Punya segepuk pengalaman dalam dunia politik dan pemerintahan dan kini masih dipercayai masyarakat untuk duduk sebagai wakil rakyat di DPRD Provinsi Kepri untuk periode yang kedua kalinya. Tak hanya aktif di dewan, dia juga memilki banyak kenangan, pengalaman dan harapan terhadap kondisi air bersih di ibu kota Kepri ini.

Di samping itu, Hj R Syahniar Usman punya ikatan emosional yang erat terhadap PDAM dan kondisi air di Tanjungpinang. Bukan saja karena kedudukannya sebagai wakil rakyat, tapi juga dalam kapasitasnya sebagai warga Tanjungpinang. Sekaligus sebagai Ketua Umum Lembaga Air Lingkungan dan Manusia (ALIM) Provinsi Kepri. Yakni, lembaga masyarakat yang dikenal sangat konsen memperjuangkan hak-hak masyarakat atas air di bumi Melayu ini.

Sempena dengan peringatan Hari Air Dunia 22 Maret 2011, wartawan Tanjungpinangpos berhasil mewancarai Hj R Syahniar Usman yang didampingi Ketua Harian Lembaga ALIM, Kherjuli. Berikut petikan wawancaranya.

Dari pemberitaan diberbagai koran lokal tentang air dan PDAM selama ini, nama anda jarang terlihat dan komentar-komentar anda tentang masalah itu juga jarang terdengar.

Saya berada di Komisi I yang membidangi masalah hukum dan pemerintahan, bukan membidangi masalah infrastruktur, seperti listrik dan air. Meskipun jarang terlihat dan terdengar di koran-koran, tetapi saya tetap concern terhadap masalah air dan PDAM.

Saat ini saja di dewan, kita tengah menggodok Perda Penyertaan Modal BUMD, termasuk PDAM Tirta Kepri. Supaya perusahaan air minum itu bisa mendapatkan tambahan modal dan menjadi sehat untuk peningkatan pelayanan kepada masyarakat. Biarlah, itu tugasnya Kherjuli selaku Ketua Harian Lembaga ALIM.

Apa yang membuat Anda begitu concern terhadap air dan PDAM itu sendiri ?

Saya punya historis yang panjang dan hubungan emosional yang dalam terhadap air dan PDAM. Suami saya, Ir. H. Raja Usman Draman dulu pernah menjabat sebagai Direktur PDAM Riau Tanjungpinang (sekarang PDAM Tirta Kepri) pertama yakni periode 1969-1982. Saya dan suami pernah tinggal di rumah dinas di Instalasi Pengolahan Air (IPA) di Seipulai.

Kami mengabdi untuk memberikan kebutuhan dasar masyarakat Tanjungpinang. PDAM Tirta Kepri pada masa itu tercanggih di Indonesia dan menjadi kebanggaan masyarakat Riau dan Tanjungpinang.

Pantas jika kepala negara saat itu Presiden Soeharto yang meresmikan pengoperasiannya pada tanggal 12 Mei 1971. Ya, banyak sekali kenangan yang tidak mungkin bisa saya lupakan. Sudahlah, itukan dulu. Sekarang, kondisinyakan telah berubah .

Perbedaan apa yang paling menyolok bila dibandingkan dengan kondisi sekarang ?

Salahsatunya yang paling menyolok itu adalah jumlah penduduknya. Jumlah penduduk ikut mempengaruhi jumlah pelanggan PDAM. Penduduk bertambah dengan sendirinya kebutuhan air ikut meningkat.

Dulu jumlah penduduk Tanjungpinang masih relatif sedikit, sekarang berdasarkan Sensus Penduduk 2010 sudah mencapai sekitar 187.687 jiwa dengan laju pertumbuhan penduduk 2,79 persen pertahun.

Jumlah pelanggan PDAM Tirta Kepri juga sudah sekitar 17.079 sambungan. Dulunya baru sekitar 2000-an sambungan rumah saja. Di samping itu kondisi kawasan hutan lindung yang berfungsi sebagai penyangga air sudah pada gundul.

Dulu pohon-pohon yang ada disana masih belantara dan sekarang tinggal semak belukar dan gundul. Cuaca di kawasan hutan lindung Seipulai ketika itu sejuk sekali tetapi sekarang, anda bisa rasakan sendiri.

Bukankah itu disebabkan karena pemanasan global (global warming) ?

Benar. Tetapi penyebab utamanya karena perilaku manusia. Semakin banyak diantara kita yang kurang peduli terhadap pohon, hutan dan air. Pohon-pohon berukuran besar sudah sangat sulit kita jumpai. Penggunaan emisi rumah kaca meningkat dan cuacapun kian ekstrim. Perilaku manusia dan fenomena alam itu ikut mempengaruhi ketersediaan air. Saya dan suami merasa sedih melihat kondisi hutan lindung di Seipulai itu. Tanpa disadari, air mata saya menetes menatap kondisi hutan lindung dan air di Waduk Seipulai itu.

Apakah itu yang melatarbelakangi Anda yang kemudian mendirikan lembaga ALIM yang dikenal sangat concern memperjuangkan hak-hak masyarakat atas air ?

Ya. Itu salah satunya. Yang lainnya, saya melihat ada figur-figur yang berasal dari daerah ini yang Saya nilai memiliki kepedulian yang tinggi terhadap air dan lingkungan hidup.

Tanpa digaji dan dibayar, mereka mau melakukan aktivitas yang berkaitan dengan air dan lingkungan. Kita butuh banyak lagi para aktivis dan praktisi yang memiliki kepedulian terhadap air dan lingkungan hidup seperti itu, diluar birokrasi.

Supaya terjadi chek and balances antara pemerintah daerah, swasta dan masyarakat. Kontrol sosial dan peran masyarakat harus berjalan, untuk mendayagunakan, melakukan konservasi dan penanggulangan kerusakan sumber daya air di wilayah Kepri. Karena, jumlah penduduk kan terus bertambah sementara ketersediaan air cenderung menurun. Nah, dalam menghadapi ketidakseimbangan itu, semua pihak harus lebih meningkatkan perannya, termasuk komponen masyarakat.

Sempena Peringatan Hari Air Dunia 22 Maret 2011 ini, apa yang ingin Anda sampaikan ?

Tema Hari Air Dunia 2011 adalah “Air dan Urbanisasi”, sedangkan ditingkat nasional adalah “Air Perkotaan dan Tantangannya”. Saya rasa tidak jauh berbeda. Begini, penduduk dunia yang sudah mencapai 6,8 milyar lebih itu, ternyata belum separuhnya bisa mengakses air bersih dan dan sanitasi yang layak.

Mungkin bisa berikan sedikit gambaran mengenai Kondisi Air Bersih di Indonesia dari apa yang telah dihimpun oleh Lembaga ALIM ?

Indonesia yang berpenduduk lebih dari 230 juta pada tahun 2010, memiliki banyak persoalan terhadap sumber daya air. Rata-rata ketersediaan air tidak sama. Di samping itu, sebaran penduduknya di setiap wilayah dan di setiap waktu tidak merata. Di musim kemarau banyak wilayah yang mengalami kekurangan air sedangkan di musim hujan terjadi banjir maupun tanah longsor. Pertambahan jumlah penduduk yang sebarannya tidak merata itu menjadi salah satu faktor penyebab ketimpangan neraca air.

Seberapa besar ketimpangan neraca air itu menurut anda ?

Sangat besar sekali. Makannya beban pengelolaan sumber daya air yang akan dialami generasi mendatang kian berat, apabila seluruh pihak tidak memberikan perhatian yang lebih daripada yang telah pernah diakukan sebelumnya. Oleh karena itu, mari kita tingkatkan kepedulian kita terhadap air.

Lalu bagaimana dengan kondisi air bersih/air minum di Kepri ini dikaitkan dengan pertumbuhan penduduknya menurut snda?

Berdasarkan Sensus Penduduk 2010, penduduk Kepri berjumlah sekitar 1.685.698 jiwa. Dari jumlah tersebut sekitar 864.333 di antaranya adalah laki-laki dan sisanya sekitar 821.365 perempuan. Laju pertumbuhan penduduk Kepri mencapai 4,99 persen per tahun. Tentu tidak dapat terelakan, memerlukan ketersediaan air baku untuk air minum dalam jumlah yang relatif besar agar tidak terjadi krisis air.

Apakah ada pengaruhnya penerapan Free Trade Zone (FTZ) Batam, Bintan dan Bintan (BBK) terhadap kondisi air bersih/air minum kita ?

Tentu sangat berpengaruh. Pengembangan kawasan perdagangan bebas BBK merupakan daya tarik penduduk dari kota lain di tanah air datang ke Kepri. Arus migrasi ke Kepri kebanyakan dari kelompok usia muda. Mereka bekerja, lalu menikah dan memiliki keturunan. Dengan demikian semakin bertambahlah jumlah penduduk Kepri dan otomatis terjadi peningkatan permintaan dan volume penggunaan air.

Bagaimana pandangan Anda dengan dinyatakannya Batam akan mengalami krisis air pada 2015 oleh Kementerian Perekonomian RI beberapa waktu lalu ?

Bisa saja terjadi bila pemerintah atau pemerintah daerah tidak segera menambah air baku untuk air minum. Pertumbuhan penduduk Batam itu sekitar 7,70 persen per tahun. Dengan angka pertumbuhan sebesar itu sudah seharusnya, jika Pemda setempat membangun bendungan atau dam baru.

Berdasarkan aturannya, pemerintah atau Pemda menjamin ketersediaan air baku untuk air minum bagi penduduknya. Kita yakin pemerintah pusat atau Pemko atau Badan Pengusahaan Kawasan (BPK) Batam tidak akan tinggal diam. Mengingat Batam merupakan salah satu kawasan strategis perekonomian nasional.

Kegiatan apa saja yang akan dilaksanakan dalam rangka memperingati HAD 2011 ini ?

Selain Kenduri Air ada dialog air, artikel air, berita air, pentas air dan facebooker air. Hingga hari ini kita terus mensosialisasikan tema Hari Air 2011 ini melalui media massa termasuk media sosial seperti twitter, blog, website, yahoo dan facebook. Kita berharap mendapat dukungan yang luas dari masyarakat dan juga pemerintah daerah. Untuk itu kita juga mengajak insan pers ikut menyebarluaskan informasi tentang Hari Air Dunia 2011 ini lewat media. Pers memegang peranan yang cukup significan dalam menyebarluaskan informasi HAD 2011 itu.

Pihak-pihak mana saja yang telah mendukung Peringatan Hari Air Dunia 2011 di Kepri ini ?

Setakat ini baru dari insan pers, komunitas seni Sanggam yang dipimpin Peppy Chandara yang mendukung kegiatan 1000 botol air gratis untuk warga kota. Kemudian, Dewan Kesenian Kota Tanjungpinang pimpinan Said Parman, yang akan mendukung kegiatan Pentas Air bulan depan. Kami menyampaikan terimakasih yang mendalam dari semua pihak yang telah mendukung terlaksananya kegiatan HAD ini. Silakan siapa saja yang mau berpartisipasi, kami senang sekali, tanpa harus melihat latar belakang status, warna politik, agama, usia, jenis kelamin dan lain-lain. Karena Air bersifat universal dan urusan setiap orang.

Isu apa yang diusung ALIM dalam rangka peringatan Hari Air Dunia 2011 ini ?

Tahun ini dan tahun 2010 lalu masih sama yaitu isu air yang dititikberatkan pada perspektif agama (religi) dan budaya (culture), yakni Kenduri Air (Pray For Water), Kearifan Lokal Masyarakat Kepri Terhadap Air.

Bisakah anda jelaskan apa yang dimaksudkan dengan Kenduri Air (Pray For Water) itu ?

Kenduri Air bertujuan untuk mewujudkan kearifan lokal masyarakat Kepri yang tinggal di perkotaan. Untuk senantiasa peduli terhadap air dan bersyukur atas karunia Allah yang sangat berarti bagi kehidupan makhluk hidup di muka bumi ini. Kepedulian dan rasa syukur terhadap air itu yang kemudian kami selaraskan dengan nilai-nilai budaya Melayu yang hidup didalam masyarakat Kepulauan Riau.

Sangat menarik kedengarannya, lalu apa upaya kongrit yang akan dilakukan ALIM berkaitan dengan Kenduri Air (Pray For Water) itu ?

Silakan baca tulisan saya sempena Kenduri Air ini.(git)

2 Responses to “Ketimpangan Neraca Air”

  1. Artiko Monkhe Maret 21, 2011
    Pasrah pada alam, handalkan air hujan yang jelas bukan kontrol manusia, tanam pohon untuk water catchment, himbauan, propaganda rasa peduli dan prihatin, doa, dsb, itu semua tidaklah menjamin tersedianya air tawar saat ini apalagi akan datang. Pada artikel-artikel serupa lainnya tentang krisis air di Tanjung Pinang, saya tidak lihat adanya antisipasi apalagi tindakan nyata dari Pemerintah hingga secara teknis mampu menjamin tersedianya air bersih hingga generasi mendatang 20-30 tahun ke depan. Tindakan nyata yang saya maksud sebagai contoh berupa: 1. Membangun desalination plant lengkap dengan waduk penampung seukuran Sungai Pulai. Atau coba dimulai dengan instalasi lebih kecil sebagai pilot project yang kemudian meningkat bertahap sesuai kebutuhan. 2. Lebih ekstrim beli air mentah dari Johor Baru salurkan ke Sungai Pulai dengan pipa bawah laut lewat pantai utara. 3. Mendaur ulang air sisa pakai. Jadi paling tidak Pemerintah wajib punya rencana yang jelas going forward. Alternatif-altenatif di atas kelihatan mustahil karena faktor biaya. Itu sekarang. Time will tell, suatu hari dalam situasi mendesak, tak ada yang tak mungkin dilakukan. Reply
  2. yang menjadi perhatian adalah para pemain di PDAM air ini, termasuk Ibu Syahniar sendiri, keterlambatan antisipasi dari pengaruh perkembanga kota, seharusnya pemerrintah sudah konsens untuk menjaga kelestarian air dan memikirkan dampak akibat perkembangan kota, dan pemikiran ini seharusnya sudah ada sejak puluhan tahun yang lalu, atau mungkin saat itu, bangga dengan apa yang didapat dari Presiden Soeharto, langkah yang harus dilakukan dengan cepat dan tepat adalah, bagaimana menjaga supaya sumber air (sei pulai) ini tetap terjaga, dan tidak hanya mengharapkan dari air hujan, dan membangun proyek2 kecil seperti apa yang dikatakan Artiko ada baiknya, membuat saluran yang dapat mengalir ke sei pulai, dan yang sangat mengherankan adalah, kekurangan air tapi musim hujan kebanjiran, nah juga termasuk titik persoalan, bagaimana mengatasi kebanjiran sehingga dapat digunakan untuk kebutuhan air bersih, karena kebanjiran terjadi akibat hujan tadi. Reply

Sumber : Tanjungpinang Pos, 21 Maret 2011

About kherjuli

PRESIDEN AIR

Posted on Agustus 11, 2011, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: