DARI LASKAR AIR KE DEWAN SUMBER DAYA AIR


“Air, adalah unsur penting yang tidak saja menyatu dalam raga ku tetapi juga jiwa ini. Ikatan emosional diri ini terhadap air begitu erat, seerat molekul dan kristal-kristal air yang menyatu. Air tak kan putus bila dicencang dan hati-hati bila menepuknya, jangan sampai terpecik muka sendiri, apalagi mengena muka orang lain”. (Kherjuli, Lembaga ALIM, 2011)

Hujan turun begitu derasnya. Aku yang tengah mengendarai sepeda motor, terus melaju kencang ke suatu tempat yang hendak dituju. Memang tak jauh lagi,  tinggal hanya berjarak kurang lebih 500 meter saja. Aku enggan berhenti dan berteduh. Aku tak ingin dua kawan ku yang sudah menunggu dari tadi, menjadi bertanya-tanya. Tak dapat dielakkan lagi, sekucur tubuh ku basah. Mungkin hanya rambut dikepala ku yang tertutup helm saja yang tak mampu ditembus air hujan saat itu. Ya,.. Selebihnya nyaris kuyup, bermandikan air yang diturunkan Tuhan dari langit. Sungguh merupakan fenomena yang menarik. Mengingatkan ku pada masa-masa kecil dahulu. Mandi air hujan.

Biasanya, baju hujan selalu tersedia di dalam box motor Vario, tapi tak tahu kemana, yang ada hanya satu botol Kit pembersih debu untuk mengkilatkan sisi-sisi body sepeda motor. Sudahlah,.. aku juga sudah terlanjur basah dan itu dia tempatnya, kedai kopi yang terletak disamping toko photo copy. Aku bergegas parkir dan langsung menuju ke meja tempat kedua kawan ku duduk.

Wah,.. dua mangkok Sop Udang panas sudah tersedia di atas meja. Kawan ku geleng-gelengkan kepala melihat sekujur tubuh ku basah. Mereka sepertinya kasihan melihat aku yang tengah basah kuyup. Tanpa pikir panjang, aku membuka baju batik ku, lalu bergegas ke keluar untuk memeras baju supaya volume air dibaju menjadi berkurang. Setelah aku peras, aku gantung dan jemur di kursi tempat duduk ku . Aku telanjang badan dan sedikit merasa nyaman. Namun rasa dingin hembusan angin menjadikan badan ku mulai menggigil. Tetes demi tetes air hujan yang singgah dilobang pori-pori badan, sudah mulai bergerak masuk kedalam kulit ku yang sedikit hitam legam.

Kawan ku semakin terlihat riskan. Tanpa banyak bertanya, mereka menawarkan Sop Udang dan minuman panas untuk menyegarkan badan. Namun sayang, tawaran mereka kurang tepat sasaran. Meskipun aku merasa kedinginan tapi perut ku masih kenyang. Baru satu jam yang lalu aku makan bersama MBoss putra kesayangan.

Bila tidak karena urusan penting bagi kawan ku, aku tidak akan melakukannya. Bukan karena takut hujan tapi aku tak ingin penyakit demam bisa datang karena kuman-kuman merasa diundang. “Ah,.. tak ada hubungannya kuman, hujan dan demam”, hati kecil ku berkata.

Syukurlah,.. Laptop yang merupakan “Periuk Nasi” Ku tidak basah. Berkas-berkas penting milik kawan ku pun tidak ikut basah. Aku bersyukur karena Tas Laptop ku dibalut kain parasut dibagian dalamnya. Aku semakin menyadari begitu pentingnya pembalut parasut itu bagi keamanan Laptop dan benda lain didalam tas itu.

Sebatang rokok dan secangkir kopi panas, diharapkan dapat membuat aku kembali seperti sediakala. Namun ternyata belum bisa. Aku tetap merasa risih terutama rasa risih dibagian dalam celana dalam ku yang masih basah. Tapi, aku tak ingin memperlihatkan kepada kawan-kawan ku itu. Aku harus terlihat segar bugar. Aku tak ingin selera makan mereka terganggu. Sayang bila Sop Udang yang harganya lumayan mahal itu sampai tak dihabiskan gara-gara mereka kasihan melihat temannya yang sudah berkorban demi persahabatan. Aku tahu, satu diantara mereka memiliki rasa sensitivitas yang mendalam. Bukan main hati, tetapi karena memang dia dilahirkan punya indera keenam. “Pendi.. Pendi..”, begitu dia diberi nama.

Rasa dingin, risih dan sedikit tidak nayaman itu akhirnya sirna. Rasa puas didalam hati pun hadir. Aku senang dan puas karena apa yang diinginkan kawan ku, dapat aku persembahkan. Semua yang diperlukan ada dan lengkap. Setelah diphoto coppy, ditandatangi dan dibubuhi stempel milik organisasi yang kawan ku pimpin itu, Ia terlihat tersenyum sembari mengucapkan, “Syukurlah awak bantu, Kher,.. kalau tidak, abang akan menghadapi hambatan”, ungkapnya dengan nada tulus.

Aku menjawab ringkas, “Ah,.. kalau bisa saya bantu, akan saya bantu Bang. Kalau tak bisa, ya tidak bisa saya bantu. Kan cuma segitu saja. Tak ada yang lebih kok. Lagi pula, Calon Anggota Dewan Air kan tidak boleh takut hujan dan takut sama air. Hujan itu rahmat dan nikmat Tuhan Bang“, beber ku sambil tersenyum meyakinkannya supaya Ia tidak merasa berutang budi dan memuji ku berlebihan.

Hari itu memang hari yang begitu penting bagi kami bertiga. Karena merupakan hari dimana batas waktu terakhir pendaftaran calon anggota dewan sumber daya air daerah Provinsi Kepulauan Riau digelar. Saat itu, jam pun sudah mendekati batas waktu PNS dan Panitia Pemilihan Calon Anggota Dewan Sumber Daya Daerah Kepri pulang kantor. Jadi memang waktu penting bagi kami untuk mencoba ikut dan terlibat dalam wadah koordinasi Sumber Daya Air didaerah ini. Hujan yang deras sederas keinginan ku untuk bisa mengabdi untuk negeri kelahiran ku ini.

Air, adalah unsur penting yang tidak saja menyatu dalam raga ku tetapi juga jiwa ini. Ikatan emosional diri ini terhadap air begitu erat, seerat molekul dan kristal-kristal air yang menyatu. Air tak kan putus bila dicencang dan hati-hati bila menepuknya, jangan sampai terpecik muka sendiri, apalagi mengena muka orang lain”, ungkap ku didalam hati.

Tak lama setelah santapan lezat itu habis dan setelah semua dokumen itu selesai dijilid, kami pun bergegas menuju kantor Dinas PU yang tidak begitu jauh jaraknya. Lagi, aku harus menerobos hujan menuju ke tempat itu. Ada syarat yang akan aku perlihatkan kepada Panitia Pemilihan Calon Anggota Dewan Sumber Daya Air Kepri itu. Yaitu, akte notaris asli, organisasi yang aku pimpin.

Hujan dan jutaan kubik air yang mengalir sejak tadi, menjadikan pikiran dan hati ini berharap lebih kepada Sang Khalik, supaya aku dan kawan ku bisa terpilih dan duduk sebagai Anggota Dewan Sumber Daya Air Kepri. Sudah lima tahun keinginan terbentuknya Dewan SDA Kepri itu ada. Baru minggu ini, dan hari ini kesempatan itu dibuka dan berakhir. Semoga engkau tak tuli Tuan dan semoga Engkau mengabulkannya Tuhan ku, Illahi hi robbi…

Di akhir tulisan ini, Engkau pun menghentikan jutaan tetes air hujan di tengah malam ini, Tuhan,. Syukur kehadirat Mu ya Allah. Kabulkan hajat Kami dan beri kami ilmu pengetahuan agar kami dapat bekerja, mengabdi untuk kepentingan hajat hidup orang banyak.

About kherjuli

PRESIDEN AIR

Posted on Juli 16, 2011, in Uncategorized and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: