Menakar Impian, Air Keran Mengalir 24 Jam Sehari


ARKARDIUS, Ketua LASKAR AIR Lembaga ALIM menyerahkan Bantuan Sumur kepada Rumah Tangga Miskin dari Donatur di Tanjungpinang. Bentuk kepedulian ALIM terhadap warga yang kesulitan air.

ARKARDIUS, Ketua LASKAR AIR Lembaga ALIM menyerahkan Bantuan Sumur kepada Rumah Tangga Miskin dari Donatur di Tanjungpinang. Bentuk kepedulian ALIM terhadap warga yang kesulitan air.

Keinginan Gubernur Kepri menggandeng Pemko Tanjungpinang terlibat langsung dalam pembiayaan PDAM Tirta Kepri, ditanggapi serius Aktivis Air, Kherjuli.

 

“Kan dari dulu-dulu lagi Saya katakan, alangkah baiknya bila ada Penyertaan Modal bersama Pemprov Kepri, Pemko Tanjungpinang dan Pemkab Bintan dalam Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) di Pulau Bintan ini. Tentu sesuai mekanisme yang berlaku”.

 

Meskipun demikian, walaupun tanggung jawab Pengembangan SPAM itu berada ditangan Pemerintah dan Pemerintah Daerah, pola pembiayaan SPAM tidak harus sepenuhnya ditanggung oleh Pemerintah/Pemerintah Daerah, tetapi swasta dan masyarakat (pelanggan PDAM) juga wajib hukumnya terlibat dalam pola pembiayaan SPAM dengan prisnsip kemitraan dan berkeadilan.

 

Betul, selama ini memang swasta dan pelanggan PDAM sudah terlibat langsung dalam pola pembiayaan PDAM. Itu dibuktikan melalui kerjasama pemasangan sambungan baru dengan Dovoleper (Pengembang Perumahan) dan pembayaran atas pemakaian air oleh pelanggan PDAM. Cuma permasalahannya, pola pembiayaan itu masih berorientasi sosial dan itu pola lama yang kurang mencermikan azas kemitraan dan berkeadilan. Padahal, sejak lahir UU No 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air dan PP No 16 Tahun 2005 tentang Pengembangan SPAM, pengelolaan pengembangan SPAM tidak lagi borientasi sosial saja, melainkan sosial, lingkungan hidup dan ekonomi secara selaras.

 

Kurang adil yang saya maksudkan disini adalah, pada kenyataannya masyarakat yang tidak berlangganan PDAM lebih besar mengeluarkan biaya setiap bulannya untuk mendapatkan air bagi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Sudahlah mahal, harus didapat dengan cara-cara yang tidak mudah lagi. Disamping itu, standar mutunya juga tidak ada jaminan. Padahal mereka pada umumnya dari kalangan masyarakat tidak mampu/miskin yang belum tersentuh PDAM

 

Tetapi sebaliknya, pelanggan PDAM yang nota bene dari kalangan masyarakat mampu, hanya sedikit mengeluarkan uang, karena harga air PDAM relatif murah, mutunya terjamin, dan dibeberapa lokasi bahkan ada ruko-ruko yang bila kran airnya dibuka, langsung mengalir air bersih. Yang lebih ironisnya, mereka (Pelanggan PDAM) mendapat subsidi lagi dari Pemerintah Daerah atas nilai tarif air yang belum mampu menutupi biaya dasar (full cost recovery).

 

Padahal air minum merupakan hak dasar setiap orang dan Negara menjamin hak setiap orang untuk mendapatkan air bagi pemenuhan kebutuhan pokok sehari-hari. Itu amanat Undang-Undang. Bukan kata Saya. Lagi pula, PDAM membayar kepada Pemda setiap meter kubik air yang disedot dari waduk Sei Pulai berupa retribusi air permukaan. Bukan gratis yang dianggap banyak orang.

 

Kalau pola pembiayaan cara lama itu tetap dipertahankan, itukan namanya, sosial tapi kurang berkeadilan. Nah tanggung jawab negara mewujudkan keadilan sosial itu. UU mengamanatkan pola pembiayaan Pengembangan SPAM harus memiliki fungsi sosial, lingkungan hidup dan ekonomi secara selaras. Jadi mau tidak mau, suka tidak suka, Tarif air PDAM harus didesign kearah itu, agar cakupan pelayanan PDAM terus meningkat. Bukan seperti sekarang malah terus menurun.

 

Apapun alasannya, percepatan Penyediaan Air Minum harus digeza dari sekarang. Upaya Gubkepri tetap kita dukung. Kita sarankan kedepan agar Gubkepri meningkatkan Program kemitraan dengan mengajak swasta, organisasi/asosiasi dan LSM berembug juga.

 

Kemudian Tarif Air dievaluasi kembali dan masyarakat yang sudah terlalu lama menunggu kesempatan berlangganan PDAM perlu dipikirkan. Jangan menunggu tahun 2014. Karena semakin tidak akan mampu mengejar laju pertumbuhan penduduk yang relatif tinggi itu, yaitu sebesar 2,7 persen setahun.

 

Sekarang pelanggan PDAM Tirta Kepri hanya 16.000 sambungan atau 33 persen dari jumlah penduduk Tanjungpinang. Kalau harus menunggu tahun 2014, maka pertumbuhan penduduk 2,7 persen dan asumsi 1 sambungan rumah 4 jiwa maka diprediksi sampai akhir tahun 2013 cakupan pelayanan PDAM menurun menjadi 31 persen. Jika dikaitkan dengan Kinerja PDAM dan indicator  RPJMN dan indicator MDGS (Millenium Devolepemen Goal) 2015, kondisi PDAM akan tergambar  semakin sakit, meskipun investasi di BUMD itu besar. Karena tingkat pengembalian investasi itu akan lambat akibat sedikitnya jumlah pelanggan. Mengharap kenaikan Tarif Air setiap tahunnya akan sulit sekali karena unsur politisnya lebih tinggi ketimbang keselarasan sosial, lingkungan hidup dan bisnis.

About kherjuli

PRESIDEN AIR

Posted on Juli 14, 2011, in Uncategorized. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. berapa ya biaya yang harus saya keluarkan untuk menjadi langganan pdam yang baru?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: