Mimpi Ke Istana Bertemu Presiden, Tapi Baru Setengahnya Saja Terwujud.


Tahun 2008 yang lalu, aku pernah bermimpi berada di Istana Negara, bertemu dan bersalaman dengan Presiden SBY. Waktu itu, aku ingat aku bertemu Presiden dalam ragkaian menghadiri Peringatan Hari Air Dunia tingkat Nasional yang puncaknya diselenggarakan di Istana Negara.

Mimpi itu masih terus tengiang dalam setiap ingatan ku. Bukan karena Istana Negara yang dibangun pada zaman penjajahan Belanda atau karena kebesaran seorang Presiden bagi rakyatnya, tetapi karena sebuah prestasi yang menghantarkan aku sampai ketempat dan orang yang menjadi symbol negara ini.
Mimpi Ku ternyata terjawab juga. Pada hari Senin 6 Juni 2011 yang lalu, Aku terbang ke Jakrta lewat Batam. Aku mendapat kehormatan mendampingi Ibu Walikota Tanjungpinang dan rombongan menjemput penghargaan Adipura di Istana Negara pada tanggal 7 Juni 2011.

Istana Negara sebenarnya bukanlah tempat yang asing bagi bangsa Indonesia. Ketika Gusdur menjadi Presiden, Istana negara tidak lagi menjadi tempat yang sacral bagi masyarakat, khususnya masyarakat Jabotabek. Istana negara kesannya telah berubah disbanding ketika Soeharto mmenjadi Presiden. Gusdur merubah image Istana negara terkesan tidak “angker” dan symbol demokrasi rakyat dan bangsa ini.
Meskipun demikian tetap saja tidak semua orang berkesempatan bisa hadir dan berada di tempat itu. Paspampres senantiasa mengawal dan mengawasi setiap gerak-gerik orang-orang yang mencurigai. Pengawalan yang super ketat dan aturan protokoler yang sangat disiplin menjadi alasan bahwa tidak semua orang berkesempatan hadir dan bersalaman dengan Presiden.

Begitu juga dengan Aku. Walau sudah sampai kedalam Istana Negara dan berada di ruang Staf/Tamu Presiden, tetapi nasib baik dan keberuntungan belum menyertai aku. Aku tidak sebahagia mereka yang masuk mengikuti acara Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2011 bersama Presiden. Undangan hanya diberikan kepada Ibu Suryatati Walikota Tanjungpinang, karena berhasil meraih Piala Adipura 2011 untuk katagori Kota sedang bersih.

Itulah mimpi. Yang terkadang hanyalah bohong belaka tetapi kadangkala dapat terwujud sebagiannya atau seluruhnya. Mimpi ku hanya terwujud setengahnya saja, yaitu hadir di Istana Negara dalam sebuah kegiatan tingkat Nasional. Bersalaman dengan Presiden belum terwujud karena aku menyadari belum ada prestasi yang menghantarkan aku untuk disalamai Kepala Negara. Aku tidak putus asa, dan akan terus berbuat untuk kelestarian sumber daya air dan lingkungan hidup bagi kesejahteraan banyak orang.

Meskipun demikian, bukan penghargaan yang aku dambakan melainkan kesejahteraan warga terutama penduduk miskin, anak-anak dan kaum lansia dalam memperoleh hak-hak dasar mereka seperti air dan lingkungan yang bersih, teduh, sehat dan produktif.

Mimpi adalah pengalaman bawah sadar yang melibatkan penglihatan, pendengaran, pikiran, perasaan, atau indra lainnya dalam tidur, terutama saat tidur yang disertai gerakan mata yang cepat (rapid eye movement/REM sleep).
Kejadian dalam mimpi biasanya mustahil terjadi dalam dunia nyata, dan di luar kuasa pemimpi. Pengecualiannya adalah dalam mimpi yang disebut lucid dreaming. Dalam mimpi demikian, pemimpi menyadari bahwa dia sedang bermimpi saat mimpi tersebut masih berlangsung, dan kadang-kadang mampu mengubah lingkungan dalam mimpinya serta mengendalikan beberapa aspek dalam mimpi tersebut.

Pemimpi juga dapat merasakan emosi ketika bermimpi, misalnya emosi takut dalam mimpi buruk. Ilmu yang mempelajari mimpi disebut oneirologi. http://id.wikipedia.org/wiki/Mimpi

Istana Negara dan Istana Merdeka yang berada di satu kompleks di Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta, merupakan dua buah bangunan utama yang luasnya 6,8 hektare (1 hektare = 1 hektometer persegi = 10000 meter persegi) dan terletak di antara Jalan Medan Merdeka Utara dan Jalan Veteran, serta dikelilingi oleh sejumlah bangunan yang sering digunakan sebagai tempat kegiatan kenegaraan.
Dua bangunan utama adalah Istana Merdeka yang menghadap ke Taman Monumen Nasional (Monas)(Jalan Medan Merdeka Utara) dan Istana Negara yang menghadap ke Sungai Ciliwung (Jalan Veteran). Sejajar dengan Istana Negara ada pula Bina Graha. Sedangkan di sayap barat antara Istana Negara dan Istana Merdeka, ada Wisma Negara.

Pada awalnya di kompleks Istana di Jakarta ini hanya terdapat satu bangunan, yaitu Istana Negara. Gedung yang mulai dibangun 1796 pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Pieter Gerardus van Overstraten dan selesai 1804 pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Johannes Siberg ini semula merupakan rumah peristirahatan luar kota milik pengusaha Belanda, J A Van Braam. Kala itu kawasan yang belakangan dikenal dengan nama Harmoni memang merupakan lokasi paling bergengsi di Batavia Baru.

Pada tahun 1820 rumah peristirahatan van Braam ini disewa dan kemudian dibeli (1821) oleh pemerintah kolonial untuk digunakan sebagai pusat kegiatan pemerintahan serta tempat tinggal para gubernur jenderal bila berurusan di Batavia (Jakarta). Para gubernur jenderal waktu itu kebanyakan memang memilih tinggal di Istana Bogor yang lebih sejuk. Tetapi kadang-kadang mereka harus turun ke Batavia, khususnya untuk menghadiri pertemuan Dewan Hindia, setiap Rabu.

Rumah van Braam dipilih untuk kepala koloni, karena Istana Daendels di Lapangan Banteng belum selesai. Tapi setelah diselesaikan pun gedung itu hanya dipergunakan untuk kantor pemerintah.

Selama masa pemerintahan Hindia Belanda, beberapa peristiwa penting terjadi di gedung yang dikenal sebagai Istana Rijswijk (namun resminya disebut Hotel van den Gouverneur-Generaal, untuk menghindari kata Istana) ini. Di antaranya menjadi saksi ketika sistem tanam paksa atau cultuur stelsel ditetapkan Gubernur Jenderal Graaf van den Bosch. Lalu penandatanganan Persetujuan Linggarjati pada 25 Maret 1947, yang pihak Indonesia diwakili oleh Sutan Syahrir dan pihak Belanda diwakili oleh H.J. van Mook.

Pada mulanya bangunan seluas 3.375 m2 berarsitektur gaya Yunani Kuno ini bertingkat dua. Tapi pada 1848 bagian atasnya dibongkar; dan bagian depan lantai bawah dibuat lebih besar untuk memberi kesan lebih resmi. Bentuk bangunan hasil perubahan 1848 inilah yang bertahan sampai sekarang tanpa ada perubahan yang berarti.
Sebagai pusat kegiatan pemerintahan negara, saat ini Istana Negara menjadi tempat penyelenggaraan acara-acara yang bersifat kenegaraan, antara lain pelantikan pejabat-pejabat tinggi negara, pembukaan musyawarah dan rapat kerja nasional, kongres bersifat nasional dan internasional, dan jamuan kenegaraan.

Karena Istana Rijswijk mulai sesak, pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal J.W. van Lansberge tahun 1873 dibangunlah istana baru pada kaveling yang sama, yang waktu itu dikenal dengan nama Istana Gambir. Istana yang diarsiteki Drossares pada awal masa pemerintahan RI sempat menjadi saksi sejarah penandatanganan naskah pengakuan kedaulatan Republik Indonesia Serikat (RIS) oleh Pemerintah Belanda pada 27 Desember 1949. Waktu itu RI diwakili oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX, sedangkan kerajaan Belanda diwakili A.H.J Lovinnk, wakil tinggi mahkota Belanda di Indonesia.

Dalam upacara yang mengharukan itu bendera Belanda diturunkan dan Bendera Indonesia dinaikkan ke langit biru. Ratusan ribu orang memenuhi tanah lapangan dan tangga-tangga gedung ini diam mematung dan meneteskan air mata ketika bendera Merah Putih dinaikkan. Tetapi, ketika Sang Merah Putih menjulang ke atas dan berkibar, meledaklah kegembiraan mereka dan terdengar teriakan: Merdeka! Merdeka! Sejak saat itu Istana Gambir dinamakan Istana Merdeka.

Sehari setelah pengakuan kedaulatan oleh kerajaan Belanda, pada 28 Desember 1949 Presiden Soekarno beserta keluarganya tiba dari Yogyakarta dan untuk pertama kalinya mendiami Istana Merdeka. Peringatan Hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus di Istana Merdeka pertama kali diadakan pada 1950.

Sejak masa pemerintahan Belanda dan Jepang sampai masa pemerintahan Republik Indonesia, sudah lebih dari 20 kepala pemerintahan dan kepala negara yang menggunakan Istana Merdeka sebagai kediaman resmi dan pusat kegiatan pemerintahan negara.

Sebagai pusat pemerintahan negara, kini Istana Merdeka digunakan untuk penyelenggaraan acara-acara kenegaraan, antara lain Peringatan Detik-detik Proklamasi, upacara penyambutan tamu negara, penyerahan surat-surat kepercayaan duta besar negara sahabat, dan pelantikan perwira muda (TNI dan Polri). http://id.wikipedia.org/wiki/Istana_Negara

Bangunan seluas 2.400 m2 itu terbagi dalam beberapa ruang. Yakni serambi depan, ruang kredensial, ruang tamu/ruang jamuan, ruang resepsi, ruang bendera pusaka dan teks proklamasi. Kemudian ruang kerja, ruang tidur, ruang keluarga/istirahat, dan pantry (dapur).

Sepeninggal Presiden Soekarno, tidak ada lagi presiden yang tinggal di sini, kecuali Presiden Abdurrahman Wahid dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Presiden Soeharto yang menggantikan Soekarno memilih tinggal di Jalan Cendana. Tapi Soeharto tetap berkantor di gedung ini dengan men-set up sebuah ruang kerja bernuansa penuh ukir-ukiran khas Jepara, sehingga disebut sebagai Ruang Jepara serta lebih banyak berkantor di Bina Graha.

About kherjuli

PRESIDEN AIR

Posted on Juni 11, 2011, in Uncategorized. Bookmark the permalink. 3 Komentar.

  1. Ass.Alaikum…..Akan kesampaian…Allah Swt… Maha Mendengar N tidak pernah tidur… Melihat HambaNYA…..Apalagi pekerjaan qt ini sungguh mulia dan berkah..Amin ..Yuk berkunjung ke blog saya N follow disana sobat…Salam Hijau Indonesia.

  2. Tak ada yang tak mungkin didunia ini ,,,,Bung Kherjuli aktifis dan sekaligus sebagai ketua LSM ALIM …adalah sosok pekerja yang punya prinsif ,semasa bertugas di PDAM TIRTA JANGGI beliau pernah memjabat beberapa posisi penting..namun karena prinsifnya yang tak mau kompromi dengan atasan yang salah,beliau terjampakan,,meskipun secara Yuridis sdh dimenangkanya ,namun apa daya beberapa oknom baik di PDAM sendiri maupun di pemerintahan kab.Bintan yang menjabat sebagai dewan komisaris tetap tidak mau menerima nya masuk kerja kembali……Tragis tapi beliau tak pernah berhenti berjuang sebagai ketua LSM yang terus berbuat untuk kelestarian sumber daya air dan lingkungan hidup bagi kesejahteraan banyak orang…….salut dan bangga Selamat Bekerja Bung Kherjuli….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: