Begadang Demi Air


 Begadang,  bukanlah aktivitas baru bagi Pelanggan PDAM untuk mendapatkan air. Sebelum PDAM dikelola Pemprov. Kepri dan Abdul Kholik menjabat sebagai Direktur PDAM Tirta Kepri, aktivitas itu sudah sering dilakukan pelanggan PDAM demi mendapatkan air untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Dengan kata lain, kondisi dahulu dengan saat ini belum jauh berbeda.

 Meskipun demikian, tidak bisa dinafikan kalau debit air Sei Pulai yang merupakan satu-satunya sumber air baku PDAM telah mengalami perubahan, meskipun sudah bertambah namun jumlahnya belum begitu signifikan. Artinya, ketersediaan airnya masih berada dibawah indeks penggunaan air masyarakat perkotaan Tanjungpinang. Buktinya, meskipun debit airnya sudah bertambah pasca pengerjaan proyek peningkatan/pendalaman tampungan air baku/waduk Sei Pulai, namun PDAM belum berani menambah sambungan baru atau meningkatkan cakupan pelayanannya dari yang sekarang berjumlah 16.800 sambungan menjadi lebih dari itu. PDAM sendiri memperkirakan baru sekitar tahun 2013 cakupan pelayanannya bisa ditingkatkan setelah IPA (Instalasi Pengolahan Air) Sungai Gesek selesai dibangun. Berarti  hingga tahun 2013 pertumbuhan cakupan pelayanan PDAM  tidak berganjak dari 0 persen.  Sementara pada tahun yang sama, jumlah penduduk Tanjungpinang bertambah sekitar 5 – 6 persen dari jumlah penduduk saat ini.

 Itulah yang menjadi keprihatinan kita bersama. Kita memahami kondisi PDAM saat ini. Mewujudkan perubahan tidak bisa seperti membalikkan telapak tangan. Tetapi kita minta kepada PDAM dan Pemprov Kepri untuk mencari solusi lain agar kesulitan warga terutama yang tinggal di Perumnas, jalan Pramuka dan Pemuda tidak terlalu lama-lama begadang menunggu air.

 Sebenarnya, dari rencana yang telah disusun PDAM dan Pemrov Kepri, solusi untuk mengatasi kesulitan didaerah itu adalah dengan menambah sumber air baku melalui pembuatan beberapa titik sumur bor. Tetapi sekarang berubah lagi. Sistem Distribusinya pula yang mau dirubah. Pertanyaannya, untuk apa sumur bor yang sudah dibangun dengan menggunakan uang rakyat yang tidak sedikit jumlah rupiahnya itu ? Sumber anggarannya berasal dari APBD Kepri. Sebelum proyek tersebut dikerjakan, sejumlah pihak optimis dan berkomentar di surat kabar bahwasanya bila proyek tersebut selesai maka permasalahan air di kawasan itu dapat teratasi. Warga tidak perlu lagi begadang katanya. Tetapi sekarang lain lagi kenyataannya.

 Kita berharap kedepan, semua pihak agar membuat rencana yang matang atas pengembangan air minum perkotaan, khususnya di Tanjungpinang. Kita bisa contoh Batam walau tidak semua aspek yang bisa tiru. Paling tidak, contohlah yang bisa direalisasikan dengan nyata dan bukan hanya janji tinggal janji belaka. Atau tidak asal rencana-rencana saja.  Jangan ada kesan kalau sarana air minum yang sudah dibangun itu hanya untuk dipergunakan oleh makhluk halus seperti dalam mitos-mitos saja seperti “Mambang Air” ? Wallah hu alam.

Percepatan penyediaan air minum di perkotaan tidak saja berkaitan dengan begadang, tetapi juga berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi dan pemenuhan kebutuhan dasar penduduk. Karena air minum merupakan hak dasar penduduk yang harus tersedia dalam jumlah yang cukup merata dan mutu yang baik.

About kherjuli

PRESIDEN AIR

Posted on Mei 28, 2011, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: