Air Urusan Kita Semua


Mari, Bicaralah dengan Air

Diposting oleh admin pada 12 Mei, 2011
AIR: ”Save the Water” atau selamatkan air menjadi tajuk yang diusung aktivis lembaga Air Lingkungan dan Manusia (ALIM) Kepri, Kherjuli dalam peringatan Hari Air Dunia. Sejak beberapa tahun terakhir Kherjuli tak pernah lelah mengajak semua orang untuk peduli dan berusaha menyelamatkan sumber kehidupan, air.

Sungai Pulai tak pernah bicara kepada manusia, namun manusia begitu sering membicarakannya. Tak ada topik paling hangat selain kondisi waduk ini ketika warga Tanjungpinang kesulitan air. Berbagai upaya dilakukan, perbaikan pipa, rencana pembangunan waduk pendukung, dengan dana tak sedikit dikucurkan pemerintah. Sudahkah manusia berterima kasih kepada air?

NURALI MAHMUDI – Tanjungpinang

Saat penduduk Tanjungpinang masih belum seramai saat ini, tentu pemandangan di tepian Waduk Sungai Pulai adalah nyanyian yang menyejukkan. Airnya yang tenang, menjadi jembatan kedamaian setiap warga yang melintas di dekatnya, yang kebetulan jalan utama penghubung Kijang yang masuk Kabupaten Bintan ke Kota Tanjungpinang.

Siapa menyangka, Tanjungpinang kemudian menjelma menjadi ibu kota sebuah provinsi, Kepri. Seperti daerah yang baru dibuka, Tanjungpinang diincar para perantau. Mereka yang beradu kepandaian untuk masuk sebagai pegawai, membuka usaha atau dengan tujuan lain namun menetap. Data Sensus Penduduk tahun 2010, penduduk Tanjungpinang mencapai 187.687 jiwa dengan laju pertumbuhan penduduk per tahun 2,79 persen. Semuanya membutuhkan air.

Rini, seorang ibu rumah tangga di Kelurahan Tanjungayun Sakti, Kecamatan Bukit Bestari Tanjungpinang baru memiliki seorang putera berusia 8 tahun. Dengan tiga orang di rumah, termasuk suaminya, ia begitu tersiksa ketika pipa air ledengnya hanya menghembuskan udara mendesis. Ketika tumpukan baju sudah menggunung di kamar mandi, mandi pun harus berbagi air dengan anaknya di ember besar, tak ada jalan lain, ia membeli air bersih.

Masalah air membelit Rini dan Rini lain di Tanjungpinang. Meski banyak orang kaya yang tak pernah memikirkan beratnya membeli air seperti warga lain kebanyakan, tetap saja ia membutuhkan air. Perserikatan Bangsa-Bangsa pun mengusung tema Air dan Urbanisasi pada Hari Air Sedunia ke-19, 22 Maret lalu.

Di Indonesia, Hari Air Sedunia diperingati dengan tema ‘Air Perkotaan dan Tantangannya’, sementara di Kepri diperingati dengan tema ‘Kearifan Lokal Masya- rakat Kepri terhadap Air’. Sebuah kegiatan ditata, diberi nama Kenduri Air. Lumrah warga Indonesia mengartikan kenduri, biasanya dilakukan saat sebuah keluarga menyelenggarakan acara perkawinan, bersyukur membuka usaha, bersyukur atas kesuksesan, khitanan atau lainnya. Isinya tiada lain, berkumpul bersama memajatkan doa dan rasa syukur kepada Sang Pencipta atas apa yang dirasakan.

Kenduri Air ke-18 tahun 2010, saya melihatnya secara langsung. Sebuah tenda dipasang di bukit, Komplek PDAM Tirta Kepri. Seluruh undangan bisa melihat bagaimana air waduk yang terus menyusut di bawah. Tahun 2010 juga, dibentuk Laskar Air yang tugasnya mengawal kelangsungan hidup Sungai Pulai. Para relawan bekerja, menjaga pepohonan baru yang ditanam di sekitar waduk. Lalu doa-doa itu dipanjatkan dengan khusuk oleh tamu undangan. Nyanyain kepada Dia yang serba maha.

Dari puncak bukit, diantara pepohonan penjaga air, ratusan warga terdiri dari pejabat, pengusaha, panitia Kenduri Air, berkumpul mengharapkan kasih sayang Sang Khalik, memberikan air yang berlimpah kepada warga. Kepri diakui sebagai daerah kaya. Ia dikaruniai sumber daya alam yang berlimpah seperti sumber daya kelautan, energi dan sumber daya mineral seperti gas, minyak, timah, bauksit, pasir, granit, sumber daya lainnya seperti hutan, keindahan pantai. Namun apalah artinya itu semua jika warga sulit mendapatkan air bersih yang mengalir ke rumah-rumah mereka.

Kenduri Air bertujuan untuk mewujudkan kearifan lokal masyarakat Kepri yang tinggal di perkotaan untuk senantiasa peduli terhadap air dan bersyukur atas karunia Tuhan yang sangat berarti bagi kehidupan makhluk hidup di muka bumi ini. Kepedulian dan rasa syukur terhadap air itu yang kemudian diselaraskan dengan nilai-nilai budaya yang hidup di dalam masyarakat Melayu Kepulauan Riau, begitulah ungkapan Hj R Syahniar Usman, Ketua Umum Lembaga Air Lingkungan dan Manusia (ALIM) Provinsi Kepri.

Sejak peringatan ke-18 Hari Air Sedunia tahun 2010 lalu, ALIM menitikberatkan isu air yang dikaitkan dalam konteks religi dan budaya dengan tetap mengacu kepada tema umum yang ditetapkan oleh PBB. Dan Kenduri Air sudah didaftarkan pada iven internasional yang dikelola oleh Lembaga Dunia di bawah naungan PBB yang bernama UN WATER. Di Indonesia sendiri sampai dengan tanggal 13 Maret 2011, baru ada sembilan iven air yang terdaftar di UN WATER dari berbagai daerah dan pemrakarsa, salah satunya Grebeg Air di Yogyakarta.

Memang berbeda bentuk penyelenggaraannya. Kenduri Air 2010 dilaksanakan di Waduk Sungai Pulai, dihadiri semua pimpinan daerah yang berada di Pulau Bintan, mulai Gubernur Kepri, Wali Kota Tanjungpinang dan Bupati Bintan, Forum Perangkat Daerah dan SKPD terkait termasuk PDAM. Sementara Kenduri Air ke-19 tahun ini dilaksanakan bersama anak yatim piatu di sebuah panti asuhan.
Dari perspektif hukum ketatanegaraan Indonesia pun dijelaskan bahwa Sumber Daya air merupakan Karunia Tuhan Yang Maha Esa yang memberikan manfaat kesejahteraan bagi seluruh rakyat di segala bidang.

Doktrin itu tercantum pada pembukaan UU Sumber Daya Air yaitu UU Nomor 7 Tahun 2004, tulis Syaniar Usman menyambut Hari Air Sedunia ke-19. Begitu banyak kegiatan keseharian atau pepatah berkaitan dengan air, seperti Beradap Mandi, Mandi Safar, Mandi Berlanger, Mandi Air Tujuh Perigi, Air Sulong, Jembalang Air, Mambang Air dan Air Jampi. Atau sejumlah peribahasa seperti Menepok Air Di dulang, Terpecik Muka Sendiri, Air Susu dibalas Air Tuba, Tak Putus Air Dicencang, Jangan Disangka Air Tenang Tidak Ada Buayanya.

“Kita harus berterima kasih kepada air. Kearifan manusia mutlak diperlukan untuk air. Peneliti Jepang yang bernama Massaro Amoto melakukan penelitian dengan menggunankan teleskop berkualitas tinggi untuk melihat kristal-kristal yang terkandung didalam air. Ternyata, Massaro menemukan Kristal-kristal air itu hidup dan dapat merespon perilku manusia. Ketia Ia mengumandangkan kata-kata yang baik seperti “I Love You”, kristal-kristal air itu berubah menjadi warna indah keemasan. Tetapi ketika dikumandangkan kata-kata yang kurang baik seperti “I Hate You”, kristal air berubah menjadi hitam pekat dan mati,” kata Kherjuli, Ketua harian LSM ALIM.

Coba bayangkan, bila kita kumandangkan kalam suci pujian kepada Allah, ttentu air itu meresponnya dengan baik, Syahniar Usman melengkapinya. Beban pengelolaan sumber daya air di Indonesia yang akan dialami generasi mendatang, kata anggota DPRD Kepri ini, kian berat. Apabila seluruh pihak tidak memberikan perhatian yang lebih daripada yang telah pernah diakukan sebelumnya kesulitan air bersih dan pengelolaan sanitasi merupakan ancaman serius, khususnya bagi kondisi kesehatan masyarakat.

Di mata Syahniar Usman, urbanisasi yang terjadi di Kepri diharapkan dapat diimbangi dengan peningkatan ketersediaan air baku untuk air minum. Bila tidak, maka dikhawatirkan akan terjadi krisis air bersih.

Ketidakseimbangan antara kebutuhan dan ketersediaan air, dikhawatirkan dapat memicu terjadinya konflik sosial dan konflik lainnya.
Saat ini saja, krisis air bersih itu telah berlangsung di Tanjungpinang. Sumber air baku untuk air minum yang dikelola PDAM, debit airnya tidak sebanding dengan tingkat konsumsi. Dengan cakupan pelayanan yang hanya 41 persen dari jumlah penduduk Tanjungpinang, Indeks Penggunaan Air baku Waduk Sei Pulai telah melebihi 50 persen dan bahkan sudah mencapai 61 persen.

Setiap tahun, pada saat intensitas curah hujan rendah, Waduk Sei Pulai dihadapi ancaman penyusutan yang cukup signifikan.
Biarlah Proyek Air Bersih di Madong, Proyek Air Bersih di Kampung Bulang, Pembuatan Sumur Bor di Kampung Bulang, Sumur Bor di Jalan Pemuda, Jalan Sei Jang dan Jalan Pramuka, Proyek Peningkatan Tampungan Air Waduk Sei Pulai menjadi kenangan atau sedang dikerjakan.

Alangkah bijaksananya mengiringi berbagai proyek itu dengan doa-doa kita, bicara kepada air meski hanya mengucapkan rasa syukur ketika segelas air masuk ke tenggorokan atau menutup kran ketika kendaraan selesai dicuci. Mari, bicaralah dengan air sahabat.***



About kherjuli

PRESIDEN AIR

Posted on Mei 12, 2011, in Uncategorized and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: